Blogging, The Power of

Thursday 29 May 2008

Cuma Blog!

“Alah itu kan cuma blog, mana ilmiahnya???”

Seringkali kalimat di atas diucapkan oleh orang. Kita (dalam hal ini sebagai blogger) yang mendengarkan cenderung meng-amin-i dan melanjutkan kembali pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa. Dampaknya, aktvitas blogging tereduksi ke wilayah pop saja, seperti music n film review, gosip artist, art, entertainmet, dan pop influence yang berujung pada narsisme :D.

Karena aktivitas nge-blog dianggap tidak ilmiah, para pelakunya (blogger) cenderung mengkhususkan dirinya pada bidang yang tidak membutuhkan kealamiahan. Akibatnya, banyak blogger yang lari ke sektor hiburan, curhat, dan mengungkapkan hal2 keseharian yang remeh-temeh. Jutaan halaman pelarian tersebut membentuk suatu jaringan maya raksasa dan membangun environtment sendiri. Para blogger pemula tentu saja akan latah dan ikut-ikutan berlaku seperti itu lantaran konstruksi sosial blogging yang terbentuk adalah yang seperti itu.

Dikotomi Blog dan Media Mainstream
Mengapa blog dipandang tidak ilmiah? Tentu saja ini terjadi karena adanya anggapan perbedaan kelas dalam media penyampai informasi. Adapun kelas yang bertentangan mengacu pada dua posisi; BLog dan Media Mainstream berupa cetak, radio, tv (jurnalisme tradisional). Jurnalisme tradisional yang telah lebih dahulu lahir telah membangun hegemoni dalam menyosialisasikan informasi. Hal ini menyebabkan timbulnya anggapan umum bahwa keotentikan dan idealisme jurnalistik hanya menjadi milik media mainstream saja.

Padahal, sekarang justru perlu dipertanyakan keotentikkan dari media mainstream tersebut. Apakah media mainstream masih mampu untuk tetap independen dan fight for freedom of rights? Apakah kita tidak merasa sedang disodori oleh berbagai layer informasi yang cuma dibentuk oleh media mainstream? Sebagai contoh, kini banyak media mainstream yang berafiliasi dengan produsen sehingga independensi ekspos atas konsumen diragukan. Sebagai contoh, kita dapat melihat media harian SINDO, RCTI, Global, dan TPI (bernaung dalam MNC) berafiliasi dengan layanan seluler FREN dan TV kabel INDOVISION. Jangan heran jika Anda sering melihat iklan produk FREN dan INDOVISION di media-media tersebut.

Media Mainstream: Masihkah Independen?
Mari melihat lebih jauh lagi. Ternyata diketahui bahwa para aktivis jurnalistik (wartawan) media mainstream hidup dalam taraf yang memprihatinkan. Walau tidak semua, hal tersebut dapat anda lihat dari kutipan link berikut.

  • Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!! (Baca lebih lanjut)
  • Kami dijanjikan akan diberikan gaji satu juta plus uang lelah bekerja sebutanya tunjangan prestasi. “kalau rajin akan ditambah lima ratus ribu,” itu keterangan dari Sururi saat itu. Jadi total gaji yang akan dibawa pulan adalah Rp. 1,5 juta. Saya sempat kecewa juga saat itu karena penghasilan sebesar itu sudah saya peroleh saat bekerja di Mara. Tapi karena sudah komitmen dan mencoba untuk loyal, saya akhirnya terus (Baca lebih lanjut)

Seharusnya pekerja jurnalistik disokong oleh perusahaan agar tetap menjaga prinsip-prinsip jurnalistik. TRANS dan SINDO adalah harian besar yang logikanya tidak akan kesulitan memberikan taraf hidup yang layak bagi para wartawannya (perlukah dicarikan berita mengenai saham MNC -sindo- naik or TRANS sebagai stasiun TV terbaik saat ini?).

Dari kasus di atas, terlihat bahwa jurnalisme media mainstream telah bergeser menjadi produsen. Jika dulu wartawan miskin karena idealisme-nya (tidak ada yang menyokong karena banyak musuh, namun menjadi pahlawan bagi semua orang), sekarang wartawan miskin karena dieksploitasi oleh media mainstram yang telah berubah perilaku menjadi produsen. Benar-benar lingkaran setan yang mengerikan.

Independensi jurnalistik dari media mainstream juga sekarang semakin meragukan, mengingat izin untuk membuat media mainstream sendiri dikeluarkan oleh pemerintah. Tentunya ada titipan-titipan dari penguasa (dalam era reformasi sekalipun) kepada media mainstream untuk mendukung berlangsungnya proses pemerintahan (baca -penguasaan).

Ayo Ngeblog!
Dulu kendala membangun media jurnalistik adalah dibutuhkannya biaya operasional yang besar (biaya cetak, biaya siaran, dan biaya lain-lain). Akibatnya, media terpaksa mencari topik2 populer dan menghindari ekspos yang remeh-temeh tadi demi memperoleh pemasukan iklan dari pihak produsen. Iklim liberalisme yang marak berkembang belakangan ini makin memperparah keadaan dan membuatnya semakin kelihatan kejam.

Link informasi mengenai wartawan media mainstream yang hidup dalam taraf memprihatinkan tersebut saya peroleh dari internet (forum dan blog informasi independen). Tidak butuh biaya mahal untuk menjadi jurnalis, denger temen curhat mengenai “ini-itu”, atau bahkan pengalaman pribadi Anda, bisa langsung Anda ekspos dan paparkan kepada khalayak. Cukup dengan ngeblog, dan biaya sewa internet selama 1 jam, Anda bisa menjadi seorang jurnalis yang benar-benar independen dan menjadi pahlawan bagi semua orang.

Tidak ada media mainstream yang berani mengupas bahwa agen mereka berada dalam opresi media mereka sendiri (iya lha, justru menjatuhkan kredibilitas mereka sendiri). Tidak ada redaktur yang menyuruh Anda mencari berita pesanan. Tidak ada eksploitasi yang mengalienasi Anda atas hidup Anda (kehilangan waktu dan tempat karena tuntutan perusahaan).

Siapkan diri Anda pada era the people power, seiring turunnya harga bandwith!!

Tunggu apalagi Ayo ngeblog!!

20 komentar pada artikel “Blogging, The Power of”

  1. kelat bilang

    bloggggggg… oh bloggggggggg…

    utchanovsky says:
    Yaahhh Begitulah :D

    Reply

  2. dani bilang

    jurnal2 yg mau ditampilin model blog dgn sistem komentar aja masi diributin..

    tp openmedicine dot ca dah mulai yg model free-nya.. :)

    ampe data2 penelitian kl perlu dibikin open dan free jg katanya..

    utchanovsky says:
    Rezim pasti ada di mana2 yah

    Reply

  3. Deni bilang

    ayoo ngeblog….

    Speak Up u’r Mind .. bro :)

    Salam Kenal


    utchanovsky says:
    Speak up yours to :D
    salam kenal juga

    Reply

  4. Deni bilang

    Ayooo blogging…..

    Salam Kenal


    utchanovsky says:
    Ayo… Salam kenal juga

    Reply

  5. harjo bilang

    Wow, informasi yang sangat berguna.
    Masalah ini, memang sempat menjadi perhatian saya. Apakah menjadi blog yg populis ataukan agak sedikit “ilimiah” … saat ini saya masih memikirkan, akan kemanakah arah blog saya …

    utchanovsky says:
    Sudah saya bales di thread Mas soal Badak :D (hohohoho)

    Reply

  6. anton bilang

    hasta la vista bloggeria. :D

    utchanovsky says:
    Hasta la Vista juga

    Reply

  7. ipung bilang

    Setuju banget… Ayo ngeblog ;)
    Tapi yang lebih penting lagi, let’s do something about this country, speak up our mind is not enough ;)


    utchanovsky says:
    It is. Masih ada yang lain.

    Reply

  8. putradi bilang

    buat saya blog itu ternyata sangat berpengaruh .. dalam artian pengaruh jadi sering ninggalin kerjaan, pengaruh jadi sering lupa makan .. hihihi :D bahkan sampai ada yang bilang “KAMU BERENGSEK” gara-gara baca tulisan di blog saya. Halah .. whatever .. yang penting saya tetap i.do.blog

    ps : ga ada “uang receh” yang bisa di klik .. :D

    Utchanovsky Says:
    Gak maen gituan Mas, gak ngerti soalnya :hammer:

    Reply

  9. Rita bilang

    Liat yang digendongan iccchhh bikin gemeesss…Yg menyejukkan mata liat wajah polos yg “di” gendong… :)
    bukan yang “meng”gendong :D

    Tergantung, kalo orientasinya (membahas dari sisi aktornya)mencari keuntungan (gaji misalnya)
    tatap sj hrs melaui jalur seprti diatas
    Menjadi Produsen? kalo gak gitu mana bisa mbayar karyawannya ?
    Ngeblog dan media jurnalistik punya kepentingan sendiri, tidak dapat di pertukarkan kerena punya tujuan masing2
    Pelaku Media jurnalistik mengharapkan imbalan berupa gaji yg besar adalah kepuasan
    semetara Blogger menyajikan tulisan2 yg dapat di expose untuk publik, menadapt tanggapan dri blogger lain adalah kepuasan terbesar
    Para jurnalist media diajak ngeblog, keluarganya mo dikasi makan apa
    Sementara blogger diajak jadi jurnalis media?
    Kembali lagi pada tujuan dan kebutuhan masing2…:D

    Utchanovsky Says:
    Bu plis deh bu :mad:

    :peace:

    >>>>>>>>> :ngacir:

    Reply

  10. Eka bilang

    blogging is amazing… can compete with any media… GO BLOGGER!!!!

    Utchanovsky Says:
    Yup. get rage, get berserk

    Reply

  11. vdee bilang

    hidup mba rita…!!!
    (loh ko…?)


    Utchanovsky Says:
    >>>>>>>>> :ngacir:

    Reply

  12. julia bilang

    jadi boleh dong curhat di blog..
    yah timbang marah2 ga keruan, skaliyan bagi2 info biar pd waspada gitu.


    Utchanovsky Says:
    I’m agree with you bos :D

    Reply

  13. Parodi Speedy | UCHAN bilang

    [...] saya bakal nemuin terus lagi kasus yang aneh-aneh model kayak gini. Yang nunjukin people power lha, the power of blog. Di mana user yg gak bisa kompain tiba2 berbalik berbicara dan [...]

  14. si bolang bilang

    tapi kadang2 blog juga jadi inspirasi media2 :?

    Utchanovsky Says:
    Tul, pas kehabisan ide langsung nyolong2 dari blog. Kayak model lagu Gaby kemaren :p

    Reply

  15. Tigis bilang

    wah kyknya lagi “kompor mode ON” nih ya mas :)

    tp emang bener, mgkin krn media blog spt mas bilang hanya butuh waktu singkat dan effort relatif mudah, jadinya kesannya sangat2x nge-pop. Lagipula siapa yg mau mengabadikan thesis kuliahnya di blog misalnya. Itu kan sudah menjadi tugas perpustakaan institusinya utk mengabadikan itu.

    btw, ikut ngedukung lah buat terciptanya indonesia sbg jmlh blog terbanyak di dunia hehehe

    Utchanovsky Says:
    Blog itu bisa menghasilkan irisan paling tipis yg gak bisa dibuat oleh media. Media paling cuma bisa ngikut2 garap lagu Gaby doang :p

    Reply

  16. jenderal bilang

    terus ngeblog pokoke… :)

    Utchanovsky Says:
    :army: siap jendral

    Reply

  17. vieny bilang

    sekali ngeblog tetap ngeblog

    hidup bloggingggggg!!!!

    salam kenalll

    :)

    Utchanovsky Says:
    Salam kenal juga :D

    Reply

  18. gajahkurus bilang

    ngeblog dari kantor hehe, gratis! Sayang kan kalo bandwith kantor nggak dipake? :)

    Utchanovsky Says:
    Hohohoho… Biasanya kalo udah kena racun blog bakalan runyam semua kerjaan :p

    Reply

  19. pank bilang

    waaaa… ada yg mau bayarin saia nge-blog g?? salam kenal… trims dh mampir k blogku…

    Utchanovsky Says:
    Welcome bro. Salam kenal juga cah jogja ( biasanya fully skilled ni orang2 sini :D )

    Reply

  20. 85% of Indonesian Journalists Don’t Understand the Code Ethics of Journalistic | UCHAN bilang

    [...] think blogging is still the best, free from any intend. Blogging environment can make a big wave.  One sample about this is Ibu Prita’s case. This [...]

Subscribe SocialTwist Tell-a-Friend

Tertarik komentar atau sekedar blogwalking? Silaken. Link kontes SEO, referral, promosi pasti dihapus.

:malu: :norose: :army: :paws: :doctor: :confused: :rose: :ngacir: :kagets: :tv: :eek: :medicine: :fm: :kissing: more »