PR (salah kaprah evaluasi)
Dalam Uchanopedia (ensiklopedia bebas uchan), PR dapat diartikan sebagai pekerjaan rumah. PR selain dipandang sebagai beban oleh sebagian orang, juga mempunyai esensi sebagai instrumen evaluasi dalam proses pembelajaran. Jadi, dengan PR kita dapat melihat sejauh mana ketercapaian hasil belajar seseorang.
Nah parahnya, konsep belajar sendiri tereduksi pada proses ngerjain PR ini.
Jika seseorang memberikan PR kepada si B, saya berasumsi bahwa dia ingin mengetahui sejauh mana hasil perolehan belajar si B. Jika dia melihat hasil PR-nya si B jelek, maka dia bisa mengatakan kalau B kurang berhasil dalam proses belajar. Sebaliknya jika hasilnya bagus, maka B dapat dikatakan berhasil dalam proses belajar.
Terus maksud reduksi dari konsep belajarnya apa?
Begini. Passing grade membuat orang melakukan sesuatu dengan motivasi untuk nilai yang bagus. Kalau tidak bagus, maka ia tidak bisa melewati batas kelulusan. Jadi, orang belajar bukan untuk menjadi pintar tapi agar lolos passing grade. Nah maksud dari aktivitas belajar yang tereduksi itu ya ini. Orang belajar bukan untuk menjadi tahu, tapi agar lulus ujian.
Efeknya, banyak bimbel dan lembaga pendidikan lain yang mengeluarkan paket-paket belajar semata soal ujian. Jarang ditemukan bimbel yang memberikan proses pembelajaran yang sesungguhnya, dalam artian belajar menjadi tahu. Apakah seseorang yang berhasil menjawab soal ujian (dengan teknik memotong model bimbel yg menggunakan rumus rahasia, belajar soal yang sering muncul, dsb) ini dapat dikatakan sebagai orang yang belajar?
Dalam prinsip-prinsip pedagogis pendidikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, ada juga berbagai hal yg membuat “evaluasi ini” terasa agak dipaksakan.
- Evaluasi memang merupakan bagian dari proses pembelajaran, tapi saya tegaskan sekali lagi bahwa evaluasi bukan merupakan proses inti dari pembelajaran.
- Yang berhak menyelenggarakan evaluasi tentunya adalah pengajar itu sendiri karena mereka yang memberikan materi kepada murid2nya. Sementara di suatu negara tertentu, evaluasi dilakukan oleh Negara dengan alasan untuk mematok standar.
- Alat ukur evaluasi proses belajar selamat 3 tahun sepertinya tidak bijaksana jika diukur hanya dalam waktu beberapa jam dalam 3 hari.
Apa? Standar? Mau make standarnya siapa Pak/Bu? Udah layakkah kita memberlakukan standar dalam situasi carut marut dan timpang dunia pendidikan seperti ini (tulisannya Bang Pay). Standar kayak gimana?? Kurikulum (entah kurikulum siapa) saja dari awal sudah salah sasaran. Apakah kita “ngeh” kalau kurikulum lebih mengarahkan kita untuk menjadi ahli, bukan praktisi. Jelas maksud standar yg digelontorkan pemerintah di sini (entah pemerintahan siapa) sangat tendensius dan P-R-0-Y-3-k (censored).
Kurang jelas? Liat contoh berikut.
Pelajaran bahasa di sekolah mengharuskan kita belajar soal sajak, morfem, kalimat majemuk, sufiks, enjambemen, klausa turunan, dll (ada banyak contoh lain seperti longitudinal, eter, momentum, akar, respirasi, malius-inkus-stapes, dsb). Sekarang, apakah ilmu2 tersebut kita pakai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari2. Sepertinya tidak dan cuma menjadi buat “sekedar tahu” menghabiskan memory otak yang emang udah pas-pasan.
Ya mungkin kalo beruntung di jurusan kedokteran or bahasa ilmu tersebut akan sangat bermanfaat dan tentu saja membantu. Tapi, apakah kita semua dituntut untuk menjadi dokter dan ahli bahasa dengan belajar istilah itu semua? Kayaknya ini jadi semacam ilmu yang gak bermanfaat deh.
Kenapa tidak mengarahkan pembelajaran berbahasa lebih pada praktik berbahasa sehari2? Dan coba mengembalikannya lagi pada esensi belajar bahasa, yakni untuk berkomunikasi. Dengan demikian, pemberian materi pelajaran bahasa tidak perlu sampai ke berbagai istilah yang disebutkan tadi (menjadi ahli) tapi cukup bagaimana penerapan dan kaidah penggunaan di lapangan (praktisi).
Kalau sudah fair begini, standar evaluasi boleh saja bisa dilakukan. Tapi saya ulangi lagi, evaluasi bukanlah inti utama dari kegiatan belajar-mengajar.
Jadi pengen tahu komentar para positivis :p yang ngerti soal postingan ini seperti apa. Lagian udah jadi rahasia umum kalo soal “PR tahunan Nasional” itu emang dibocorin sama orang dalem sendiri (dalemannya siapa yak). Jika menganggap blog tidak ilmiah atau R0y Sury0 -Sukro- (RS) mode on dan semacamnya, silakan google sendiri dengan keyword “HAR TILAAR dan UN” untuk melihat contoh lain mengenai “PR tahunan Nasional” ini di suatu negara bernama Indonesia.
Klik di sini untuk mengetahui pengertian teori hegemoni gramsci
PS: Haar Tilaar itu pakar pendidikan dari UI. Ngomong-ngomong soal PR, saya juga dapet PR
dari Irdix. Belum sempet ngerjain nih. Malah dapet inspirasi dan jadi postingan ini.
(Source gambar dari: blog.harian-aceh.com)


Racism Analogy in Super Mario Game
Tujuh Dosa Windows: 1. Pendidikan
Armed Police vs. Student Demonstrations in Jakarta
The Visualization or the Content?
Rachel Corrie, Relawan Amerika yang Tewas Dilindas Buldoser Israel




sangkain ngebahas page rank, sama kan disingkat pr
ngikutin mode orang-orang nulis tentang pr yang semuanya sepertinya lagi naik
bener kirain pagerank si google yg banyak dicari ma orang
Saya sependapat. Sepertinya UAN adalah contoh keterburukan sistem pendidikan di Indonesia
Kalau yang mudah pakde bisa komentar,
tapi yang sulit pakde hanya bisa menulis.
Salam kenal dan semangat selalu.
sumintar.com
Spam protection: Sum of 2 + 5 ? = 7
nah ini pakde bisa.
Iya yah, seharusnya kurikulum kita ini ditujukan buat prakteknya, bukan buat teorinya doank. Dulu saya juga agak nyesel, ngapain susah2 harus blajar IPA (biar lulus UAN) klo ujung2nya sekarang saya kuliah di jurusan akuntansi, mubadzir banget khan?
hehehheheh…….. ya pakde kalo bisa memberi semangat gak komentar melulu………
wah pakde aku blom bisa ngutak utik kayak gini…. ajarin donk kayak komentarnya di kasih gambar2 avatar….please yau cz masih belajaran….
Saya coba tulis uchanopedia.com, page not found. Saya ganti .net, .org. web.id juga not found…
Saya search di Gramedia dan toko buku lain juga ga ada yang jual uchanopedia.
Saya cari di loakan dan toko buku bekas juga ga nemu.
Dimanakah saya bisa menemukan uchanopedia??
Huehehehe
Pertanyaannya sekarang adalah,
apakah kurikulum yg telah dibuat itu dapat memacu kreativitas para guru atau malah sebaliknya..???
btw, makasih dah nyasar ketempat saya mas
Sekarang, apakah ilmu2 tersebut kita pakai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari2.
iyah emang bener sih… coba kalo kita nih kayak diluar negeri yah.. dari SD bahkan udah ada skul yang nyediain peminatan tertentu.. seperti art, music, sports.. huhuhu
btw tuh plugin’na buatan negeri kita loh.. sampe di link sama orang luar segala.. kereennzz.. linknya disini: CLICK ME
btw, incase u’re lost.. tag nya ini yang dipasang buat display:
wekeke.. tagna gak jadi tag yah.. weheh code sih yah.. try try.. :
masi gak bisa
gimana sih mu post code… hoho.. try it urself lah.. kakaka
tuh linknya yang diatas.. comment prtma kuw..
hehehehe
jadi inget dulu kebiasaan bikin PR di sekolahan. kirain pas udah kuliah, eh anak2 pinter semua, dah ngerjain PR di rumah. nggak taunya tetep. ngerjain PR nya di kampus…
hehehehe
mengenai tugas PR, gak bisa dihindari kalau “assessment does drive learning”.
tugas pendidik agar dapat encourage students to engage with the learning process with high intrinsic motivation.
dalam assessment yakni dengan membuat soalan yang bisa prompt students’ deep approaches to learning rather than surface approaches. jadi hindari soal-soal yang sifatnya hafalan dan pengulangan (memorising and repetition), tapi soal yang menganalisa, mengevaluasi, dan memecahkan masalah.
*sengaja bahasa nyampur-nyampur biar uchan emosi*
protes deh! protes!
7+10? gampang, 70 kan?
ada sisi positifnya UN lho, minimal dalam belajar (baca : sekolah) ada yang ditakuti dan dianggap serius oleh (secara berjamaah) oleh para peserta didik, dengan begitu ndak ada siswa yang bisa cuek 100% dimana sekolah buat pacaran atau kongkow2…
setuju saya kalo dibilang pendidikan itu urusan dapur masing2 daerah… wong apa pernah pembuat kebijakan pendidikan di pusat turun langsung negok kondisi didaerah? atau cukup denger laporan bawahan dengan gaya ABG alias asal bapak senang?
Menanggapi tulisan ini,”Ya mungkin kalo beruntung di jurusan kedokteran or bahasa ilmu tersebut akan sangat bermanfaat dan tentu saja membantu. Tapi, apakah kita semua dituntut untuk menjadi dokter dan ahli bahasa dengan belajar istilah itu semua? Kayaknya ini jadi semacam ilmu yang gak bermanfaat deh.”
Klo dibuat model seperti itu, apakah berarti mulai dari tingkat Pra Sekolah seorang anak sudah harus diarahkan untuk menjadi apa?
Chan, ane dah add ente chan…
Makasih ya…
hayyooo.. kerjain PRnyaaaaa !!!
kalo ngga nti Oom tak pukulin pantatnya lho..
tapi PR emang perlu, setidaknya untuk mengukur diri sendiri.
irdixs last blog post..lelaki-ku
kalo mikirin pr tambah pusing.., yang penting update blog aja saya mas
Kalo nurud hikmat saya …Halah kaya ap saja…He2x …Jadi softskill dari tiap person yang sangat perlu dikembangkan.Tapi tidak mnutup kmungkina keahlian yg laen pun harus bisa
Frenavit Putras last blog post..Pendaftaran Online
dunia mereka bukan dunia para orang tua… masa depan mereka juga bukan masa depan kita (ngutip khalil gibran) makanya harusnya kita tanyakan apa yg mereka mau pelajari di sekolah. sedang pendidikan mental memang materinya dari ortu krn ortu yg paling berkompeten soal itu. bukan sekolah.
wah… saya hampir lupa… saya lupa ngerjain PR saya.. mati aku.. permisi dulu ya mas…
mo pasang one way link di blog roll di blog ini bisa nga?
syaratnya apa yah..?
tolong email ke saya segera yah..
[email protected]
kirim lamaran lowongan kerjas last blog post..PROGRAMMER – Lokasi : Surabaya, Jawa Timur, Closing date: 2008-08-14
pr pusing jangan dipikirin … langsung tancap gas aja … ing:
salam kenal
mastals last blog post..Kurang Tidur Bikin Anak Obesitas
ooallaah kirain page rank hihihihi..
matematikanya jangan susah2 donk..:???:
waaaaaaaaaaa jadi inget kalo dapet PR dari masmoemet….
Lanjut..
menarik dan seakan tak ada habisnya jika kita bicara soal ini
padahal mereka yang berada dibalik pembuat kebijakan itu adalah orang-orang pintar tapi entah kenapa, masih saja banyak hal yang seolah luput dari telaah para penentu kebijakan itu
“menghabiskan memory otak yang emang udah pas-pasan.”
ga setuju!! kata siapa gitu,, kita baru menggunakan sekitar 3-5 % dari memory otak kita lho. jadi salah kalo dibilang memory otak kita pas-pasan.
sekarang sekolah hanya untuk cari kerja, bukan cari ilmu…., kayaknya masalah niat individu dulu yang harus direformasi…
Somets last blog post..Pria Idaman
Semangat
bangkit Aceh
bangun Aceh
Indonesia jaya!
achoey sang khilafs last blog post..080808 di Bogor
gue terus terang bingung kalo disuruh merumuskan model pendidikan indonesia yg ideal spt apa. Banyak sih kyknya aspek yg hrs digarap. Belon lagi aspek moralitas yg kyknya tambah smakin ancur dgn berbagai contoh dr “bapak2x” kita.
Sekolah menurut saya mencari ilmu untuk menuntun daat kerja ,baik kerja di kantor atau untuk kerja diri sendiri
tapi sekarang kebalik..takut sekolah tinggi2 nanti malah nggak dapat kerja..:D
sama dengan PR ..kalau kita dapat PR dari atasan..berapa lama bisa di capai..opppss kok jad ngelantur…:D
Diahs last blog post..Surat Pengunduran Diri ( Resign)
wah kacau juga kalau gitu yah…tapi kalau dipikirpikir soal pendidiakan nih. Dijepang, siswa siswa tuh waktu libur musim panas aja masih harus ngumpulin PR musim panas….hohoho aneh bin ajaib
pertama liat judul, kirain pagerank. hehe
wah,saya juga sering pusing ma PR, akhirnya nyontek kerjaan master deh. kadang satu kelas yang ngerjain cuma satu dua, yang laen tinggal serbu si master. haha…
salam kenal, http://www.gareng.net/ , u comment i follow
gareng menulis di blognya tentang Java Tutorial
Quote: Jadi, orang belajar bukan untuk menjadi pintar tapi agar lolos passing grade.
—–
Ini yang membedakan Indo negara lain, khususnya Jepang.
Dari ulasan seorang teman… bahwa di Jepang tidak sering diadakan ulangan.. Nilai itu bukanlah yang utama. Tapi titik tekannya itu agar si student menguasa ilmunya.
Tak heran jika di Indonesia nilai dan kelulusan itu bisa diperdagangkan karena penekanannya pd hal-hal tersebut.
*Kapan ya… Indonesia berubah*
PR, UN, Sertifikasi Guru dan Dosen, Kurikulum berbasis Kompetensi…serasa puisi bila diucapkan Bambang Sudibyo. Serasa Campuran masakan bila dipidatokan SBy, serasa adonan semen bila diucapkan dirjen dikdasmen. Dan serasa proyek uang bagi bagi para penerbit, kontrktor gedung sekolah. Dan serasa racun bagi orh tua murid dan mahasiwa….hehehehe
gus menulis di blognya tentang Review Blog Catalog-Tutorial Blogspot: Melawan Mainstraim Pemberhalaan Pagerank dan SEO
gyaaah..saya kirain juga ngebahas pagerank..hehehehe
negeri kita sudah lama terjebak dalam pemujaan terhadap angka2. sukses ujian pun sebatas diukur dg angka2. jadilah, setiap acara ritual tahunan bernama un itu digelar, banyak pihak yang dipusingkan oleh angka2. namun, agaknya sulit utk menghapus un, karena sudah ada PP 19/2005 ttg standar nasional pendidikan, sebekum PP itu dicabut, agaknya UN akan jalan terus.
PR lagi PR lagi, capek deh but dapet mempererat pertemanan sesama Blogger
Sikurochan menulis di blognya tentang Cara membuat widget mesin pencari blog sendiri
waduh….
zaman skrg khan PR banyak yg tgl copy paste :p
brrti dah g bisa utk tolak ukur lagi y Bro?
salam
ghprod menulis di blognya tentang View Facebook Private Photos Without Being Their Friend
hari ini update PR lagi tuh :wowcantik: