PR (salah kaprah evaluasi)

Posted on Tuesday 5 August 2008 | By

Dalam Uchanopedia (ensiklopedia bebas uchan), PR dapat diartikan sebagai pekerjaan rumah. PR selain dipandang sebagai beban oleh sebagian orang, juga mempunyai esensi sebagai instrumen evaluasi dalam proses pembelajaran. Jadi, dengan PR kita dapat melihat sejauh mana ketercapaian hasil belajar seseorang.

Nah parahnya, konsep belajar sendiri tereduksi pada proses ngerjain PR ini.

Jika seseorang memberikan PR kepada si B, saya berasumsi bahwa dia ingin mengetahui sejauh mana hasil perolehan belajar si B. Jika dia melihat hasil PR-nya si B jelek, maka dia bisa mengatakan kalau B kurang berhasil dalam proses belajar. Sebaliknya jika hasilnya bagus, maka B dapat dikatakan berhasil dalam proses belajar.

Terus maksud reduksi dari konsep belajarnya apa?

Jadi, orang belajar bukan untuk menjadi pintar, tapi agar lolos passing grade Nah maksud aktivitas belajar yang tereduksi ya ini

Begini. Passing grade membuat orang melakukan sesuatu dengan motivasi untuk nilai yang bagus. Kalau tidak bagus, maka ia tidak bisa melewati batas kelulusan. Jadi, orang belajar bukan untuk menjadi pintar tapi agar lolos passing grade. Nah maksud dari aktivitas belajar yang tereduksi itu ya ini. Orang belajar bukan untuk menjadi tahu, tapi agar lulus ujian.

Efeknya, banyak bimbel dan lembaga pendidikan lain yang mengeluarkan paket-paket belajar semata soal ujian. Jarang ditemukan bimbel yang memberikan proses pembelajaran yang sesungguhnya, dalam artian belajar menjadi tahu. Apakah seseorang yang berhasil menjawab soal ujian (dengan teknik memotong model bimbel yg menggunakan rumus rahasia, belajar soal yang sering muncul, dsb) ini dapat dikatakan sebagai orang yang belajar?

Dalam prinsip-prinsip pedagogis pendidikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, ada juga berbagai hal yg membuat “evaluasi ini” terasa agak dipaksakan.

  • Evaluasi memang merupakan bagian dari proses pembelajaran, tapi saya tegaskan sekali lagi bahwa evaluasi bukan merupakan proses inti dari pembelajaran.
  • Yang berhak menyelenggarakan evaluasi tentunya adalah pengajar itu sendiri karena mereka yang memberikan materi kepada murid2nya. Sementara di suatu negara tertentu, evaluasi dilakukan oleh Negara dengan alasan untuk mematok standar.
  • Alat ukur evaluasi proses belajar selamat 3 tahun sepertinya tidak bijaksana jika diukur hanya dalam waktu beberapa jam dalam 3 hari.

Apa? Standar? Mau make standarnya siapa Pak/Bu? Udah layakkah kita memberlakukan standar dalam situasi carut marut dan timpang dunia pendidikan seperti ini (tulisannya Bang Pay). Standar kayak gimana?? Kurikulum (entah kurikulum siapa) saja dari awal sudah salah sasaran. Apakah kita “ngeh” kalau kurikulum lebih mengarahkan kita untuk menjadi ahli, bukan praktisi. Jelas maksud standar yg digelontorkan pemerintah di sini (entah pemerintahan siapa) sangat tendensius dan P-R-0-Y-3-k (censored).

Kurang jelas? Liat contoh berikut.
Pelajaran bahasa di sekolah mengharuskan kita belajar soal sajak, morfem, kalimat majemuk, sufiks, enjambemen, klausa turunan, dll (ada banyak contoh lain seperti longitudinal, eter, momentum, akar, respirasi, malius-inkus-stapes, dsb). Sekarang, apakah ilmu2 tersebut kita pakai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari2. Sepertinya tidak dan cuma menjadi buat “sekedar tahu” menghabiskan memory otak yang emang udah pas-pasan.

Ya mungkin kalo beruntung di jurusan kedokteran or bahasa ilmu tersebut akan sangat bermanfaat dan tentu saja membantu. Tapi, apakah kita semua dituntut untuk menjadi dokter dan ahli bahasa dengan belajar istilah itu semua? Kayaknya ini jadi semacam ilmu yang gak bermanfaat deh.

Kenapa tidak mengarahkan pembelajaran berbahasa lebih pada praktik berbahasa sehari2? Dan coba mengembalikannya lagi pada esensi belajar bahasa, yakni untuk berkomunikasi. Dengan demikian, pemberian materi pelajaran bahasa tidak perlu sampai ke berbagai istilah yang disebutkan tadi (menjadi ahli) tapi cukup bagaimana penerapan dan kaidah penggunaan di lapangan (praktisi).

Kalau sudah fair begini, standar evaluasi boleh saja bisa dilakukan. Tapi saya ulangi lagi, evaluasi bukanlah inti utama dari kegiatan belajar-mengajar.

Jadi pengen tahu komentar para positivis :p yang ngerti soal postingan ini seperti apa. Lagian udah jadi rahasia umum kalo soal “PR tahunan Nasional” itu emang dibocorin sama orang dalem sendiri (dalemannya siapa yak). Jika menganggap blog tidak ilmiah atau R0y Sury0 -Sukro- (RS) mode on dan semacamnya, silakan google sendiri dengan keyword “HAR TILAAR dan UN” untuk melihat contoh lain mengenai “PR tahunan Nasional” ini di suatu negara bernama Indonesia.

Klik di sini untuk mengetahui pengertian teori hegemoni gramsci

PS: Haar Tilaar itu pakar pendidikan dari UI. Ngomong-ngomong soal PR, saya juga dapet PR 🙁 dari Irdix. Belum sempet ngerjain nih. Malah dapet inspirasi dan jadi postingan ini.

(Source gambar dari: blog.harian-aceh.com)

Share this post

SocialTwist Tell-a-Friend
Advertisement

You might also enjoying this post.

Leave a Reply