Teror Bahasa Eufimisme

Posted on Friday 30 January 2009 | By

lieSewaktu mendapat pelajaran bahasa Indonesia di SMP/SMA dulu, kita pernah mendengar istilah majas hiperbola, metafora, dan eufimisme, serta majas-majas lainnya. Hiperbola berarti mendramatisir suatu keadaan, seperti pada kalimat: “banjir darah” dan “mandi keringat”. Bentuk metafora bisa dikatakan sebagai perumpamaan-perumpamaan yang seringkali ditemukan pada ulasan-ulasan karya sastra. Adapun majas eufimisme berarti bahasa penghalus yang lazim kita temui pada percakapan sehari-hari, seperti kalimat: “Pak, saya izin ke belakang.”.

Karakter orang Indonesia yang ramah sangat mendukung penggunaan ragam bahasa eufimisme dalam berbagai situasi kehidupan. Penyebutan “wanita tuna susila (WTS)” ketimbang “perek” atau “lonte” dalam media cetak/tv adalah salah satu contoh dari bahasa eufimisme. Nilai rasa bentuk “WTS” tentu dirasa lebih halus daripada bentuk “perek” dan “lonte”. Contoh lainnya, bisa kita lihat pada kalimat, “Polisi berhasil mengamankan tersangka sehari setelah terjadinya insiden.”.

Celakanya, penggunaan bahasa eufimisme ini seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Kita bisa lihat pada bentuk-bentuk kalimat berikut.

  • Rupiah melemah 200 point terhadap dollar US.
  • Pemerintah menyesuaikan harga BBM
  • RAPBN dikoreksi dengan asumsi dollar di keseimbangan harga 11.000 rupiah

Bentuk-bentuk di atas adalah salah satu penggunaan bahasa eufimisme dengan menyimpan konteks-konteks tertentu. Bagaimana jika dua kalimat di atas kita ganti jadi:

  • Rupiah anjlok 200 point terhadap dollar us
  • Pemerintah menaikkan harga BBM
  • RAPBN membengkak dengan asumsi dollar di keseimbangan harga 11.000 rupiah

Maksud celakanya, bahasa eufimisme justru digunakan untuk menutupi kenyataan tertentu bagi masyarakat publik. Selain menutupi kenyataan, bahasa eufimisme digunakan untuk memberikan citra positif. Namun yang lebih parah, bahasa eufimisme justru membuat tumpul daya kritis otak masyarakat publik. Membuat sebuah situasi seolah-olah keadaan aman terkendali. Kenyataan yg ditutupi membuat kita tidak berpikir panjang dan menganalisa secara mendalam.

Contoh konkret yang saya rasa cukup picik, ketika harga BBM turun, justru digunakan kalimat-kalimat polos (harfiah) dan digembor-gemborkan ke masyarakat, seperti pada kalimat “Pemerintahan si-Anu telah berhasil menurunkan harga BBM hingga tiga kali.”. Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, harga minyak dunia memang anjlok luar biasa. Di sini kita bisa melihat sesuatu yang tidak adil. Ketika harga BBM naik, digunakan bentuk eufimisme (disesuaikan). Namun ketika harga turun, digunakan kata harfiah “turun” (tetap turun, malah ada penambahan embel-embel “berhasil”).

Karakteristik bahasa eufimisme biasanya digunakan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Karenanya, tidak heran siapapun yg jadi penguasa, bahasa eufimisme ini pasti lazim digunakan. Dalam orde baru zaman Pak Harto, maraknya kasus orang hilang yang menimbulkan gonjang-ganjing di masyarakat diredam dengan menggunakan istilah “diamankan” ketimbang “ditangkap” atau “dipenjara”, pelaku yang menangkap tadi tadi justru dikatakan sebagai “yang berwenang” atau “mengamankan”. Di era reformasi zaman Megawati, istilah “privatisasi aset negara” sering digunakan ketimbang “menjual aset negara”.

Bahasa eufimisme yang semula “mulia” (bahasa halus yg digunakan untuk tidak menyinggung perasaan) menjadi teror bagi masyarakat, dan menjadi alat hegemoni penguasa untuk tetap berada di puncak. Ketika Anda merasa sedang tidak diteror, bisa dikatakan bahwa Anda sedang dihegemoni (dikuasai tanpa merasa sedang dikuasai). Tulisan ini hasil sintesa saya setelah menonton acara dialog di TVRI dengan topik yang sama. Mudah-mudahan bisa jadi semacam counter-hegemoni atas pemahaman realita bahasa di lapangan.

Jahanam yg copy gak bilang-bilang tulisan ini. Gw sumpahin mandul tujuh turunan. Lumayan capek nulis pake gaya serius. :mad:

Advertisement

Share this post

SocialTwist Tell-a-Friend

You might also enjoying this post.

41 Responses to “Teror Bahasa Eufimisme”

  1. ulan says:

    nggak jadi ngopi deh..

  2. kandra says:

    :o aduh gak jadi ngopas neh… untung aja liat warna tulisan yang dibawa kalo gak gak berana pinak gw

    mas uchan emang jempolan… keep fighting bro :mrgreen:

    kandra menulis di blognya tentang Setting Local Area Network

  3. memble says:

    dulu saya juga pernah dijuluki WTS “Wanita Tahan Sumuk” :rain::rain::rain::rain::rain:

    memble menulis di blognya tentang Sayonara!!

  4. emfajar says:

    biasalah ini kan bahasa yang biasa di pake pemerintah buat ngeles :twisted:

    *btw mandul kok bisa puya turunan chan :tabrakan:

    emfajar menulis di blognya tentang Faktor Keberhasilan

  5. TENGKU PUTEH says:

    Padahal sebenarnya Eufimisme awalnya dalam kesusatraan Melayu digunakan oleh para pujangga ditujukan untuk “menyentil” penguasa lalim, sekarang malah penguasa yang menggunakannya untuk “meninabobokan” rakyat…

    Fenomena yang aneh….

    TENGKU PUTEH menulis di blognya tentang KEHIDUPAN YANG TERKADANG PARADOKS

  6. joe says:

    Pemerintah paling ahli dalam hal eufemisme: Seperti: harga naik = disesuaikan, dipecat = dibebastugaskan, ditangkap = diamankan, dll

    joe menulis di blognya tentang Oshin, Sebuah Pelajaran Tentang Hidup

  7. Farrel says:

    Bener Banget tuch. Bahasa eufimisme seringkali dijadikan senjata buat ngeles sehingga terkesan yang jelek menjadi baik…

  8. Sikurochan says:

    Oh, iya tentang Channel TVRI, Nasibnya sekarang gimana yah?? Dah ga ada tuh channel, oh iya, ada tapi renyek2, napa yah? Apa pemerintah ga perduli apa dah banyak utang

    Sikurochan menulis di blognya tentang Toughpress v1.13 I Blogger Template

  9. Nguk Nguk says:

    welee gw paling ga bs ngapalin ni pelajaran…gile lebih susah drpd kimia am fisika
    gw juga lupa yg namanya majas hue hue ing:
    yang pasti b indo gw g lbh dr 60 stiap try out :kagets:
    eh gan, iconnya bagus kaskuser banget wuehehe, pengen juga sih, cuman males uplodny :oops:

    Peace and Love
    Red Dog

    Nguk Nguk menulis di blognya tentang [poem] . . . .

  10. iwan says:

    helloooooooooooooooo
    aqkmana nih

    iwan menulis di blognya tentang Mengapa Rematik (Asam Urat) Rentan Terhadap Pria

  11. Kasihan sekarang bahasa,,

    banyak digunakan dengan kondisi “aneh”

    *halahh… eufimisme juga ini*

    aNGga Labyrinth™ menulis di blognya tentang The Coolest Taxi and Police Car

  12. Hahahaaa.. teringat masa SMA deh gw. Woooww..
    analisa yang sangat mendalam ^______________^

    Yessi Pratiwi Surya Budhi menulis di blognya tentang Amigos

  13. bedh says:

    eufimisme ternyata adalah alat yang lumayan ampuh wat mendoktirinisasikan pemahaman biar melanggengkan kekuasaan yah?
    huhuhu menarik juga.

    bedh menulis di blognya tentang Chinese Democracy

  14. anggi says:

    salah satu cara jitu untuk memanipulasi masyarakat:cool:

    anggi menulis di blognya tentang Happy Birthday Opung

  15. topanz says:

    wah,licik jg tuh pemerintah..eh,licik pa picik ya?he..he..kalo copy paste bwt dirumah gpp kn? piss :Dv

  16. achoey says:

    diperhalus supaya lebih indah
    diperhalus supaya lebih sopan
    atau kekurang jujuran akan kenyataan :D

    • deden says:

      Sepaham dengan kang achoey, penghalusan menjadikan kita kurang jujur akan kanyataan.

      Terutama bila penghalusan digunakan terhadap semua hal secara membabi buta, padahal bila kembali pada esensi eufimism seperti yg dikatakan @Tengku Puteh adalah cara berbahasa penghormatan kepada orang orang yang dihormati, sedangkan pada hal-hal yang tak perlu dihormati karena kejahatan / penyimpangan saya rasa tak perlu ber-eufimis ria.

      Seringkali kita tak berani berkata jujur karena takut tak populer lalu terjebak dengan eufimis dan mengiyakan / bersepakat dengan hal yang tak perlu disepakati. *Saya seringkali seperti ini*

      Bahkan seringkali saya diingatkan untuk bersopan santun dalam menyampaikan perbedaan pendapat. Bangsa kita telah menjadi terlalu alergi utk berbeda pendapat dan cenderung bersikap bermusuhan thd orang yg tak sependapat.

      POsting yang mantap sekali ini pak.

      deden menulis di blognya tentang Renungan Pasca Gerhana Matahari

  17. belajar seo says:

    wah, bener juga yah. terkadang eufimisme emang jalan gitu aja tanpa kita sadari. tp ternyata dibalik itu ada kepentingan yg tersimpan. salut buat uncle utchan. thx u for sharing :)

    belajar seo menulis di blognya tentang Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

  18. reza says:

    Artikelnya sastra bgt y bro…:cool:
    sukses dah bro…salam kenal ya….

    reza menulis di blognya tentang Sang Satrio Piningit telah ditangkap

  19. Rizal says:

    mungkin biar dibilang elit atau intelek pake bahasa begituan (eufimisme)..

    Rizal menulis di blognya tentang Nasib Hutan Kita

  20. casual cutie says:

    mungkin pengen dibilang keren, gaul, bla bla jd pake bahasa eufimisme

  21. tiyo says:

    jadi inget masa SMA…..hahahahah.pelajaran bahasa indonesia

    tiyo menulis di blognya tentang Blue Hat SEO

  22. awan says:

    ahahaha om uchan ternyata sensitif sekali.
    tetap semangat bro, amati semua keadaan sekitar 4 better future

    awan menulis di blognya tentang Maaf, United Dominate sudah di Booked

  23. Jahat banget yah politik itu, orang awam seperti saya mana ngerti dgn bahasa2 eufimisme tsb

  24. spydeeyk says:

    nice post.. postingan yang positif+mendidik mas.., saya sering tidak memperhatikan hal2 diatas.. :(

    spydeeyk menulis di blognya tentang Where Is to Find The Best Deals for Online Credit Card?

  25. antown says:

    beugh…
    bener2 deh, ini disebut politik media menurut saya gan

  26. wi3nd says:

    memperhalus kalimat maksudna..
    eechh tapi malah salah kaprah ya?
    pinter ban9ed n9elesna neeh si pemerintah..

    wadochgg..untun9 nda n90past,bisa 9awat neeh klu mandul..

    wi3nd menulis di blognya tentang ~ 22.30 ~

  27. ipi says:

    kyaaaaaa…:cool: jd inget pelajaran bhs indonesia dulu. Tambahin sarkasme dung..lom tuh. Memang bahasa eufemisme itu perlu utk memperhalus suatu kalimat shgga terkesan berkonotasi baik (*belaga pakar bahasa pdhl bukan )

    ipi menulis di blognya tentang LUCKY

  28. denologis says:

    udah lama ga mampir, ternyata udah ketinggalan banyak banget yah? :D

    Sip, tentang euforia eufimisme, tapi ituh Note yang di bawah sama sekali ndak pake majas….ndak mencerminkan warga endonesa konvensional :p

    denologis menulis di blognya tentang Classification

  29. uwiwu says:

    sy pribadi suka lukiasan realisme krn sy ngak suka kenyataan. Lukisan kan perwakilan sekalipun realistis tp tep saja bukan gambaran yg sebenarnya.

    Begitu juga kebanyakan orang baik berbeda bangsa maupun tidak. kenyataan terkadang terlalu brutal. Makanya kitakita suka animasi. Rasanya tidak ada yg salah yg eufimisme krn itu tidak menandakan kemunduran ataupun kejelakan. Contohnya jepang sangat eufimisme bila dibandingkan negra maju lain dieropa tp mekere ngak kalah soal teknologi.

    satu satunya yg ngak bisa ditolerir itu permisif. Kita membiarkan saja ketidakadilan yg semne mena. hahaha maaf rada politix

    uwiwu menulis di blognya tentang Saran Optimasi Blog : Jangan Promosi Artikel Sembarangan

  30. Rusyad says:

    Setubuh gan!!!! hehe…kebiasaan pemerintah kita dari jaman mbah Harto dulu…kayaknya emang ragam bahasa seperti ini sudah mengakar di kalangan pejabat kita…susah jadinya buat ngrubahnya..hehe..

    btw salam kenal!!!

  31. deaaa says:

    wew .
    gk ngerti deh .
    agak ngerti seh .

    but this wasn’t actually what i was looking for .
    i’d hope to see a better answer…
    -.- zzz oh well .
    can anyone answer me???
    PENGGUNAAN MAJAS EUFEMISME DAN IRONI DALAM KALIMAT .
    3 CONTOH EACH !! :???:

  32. imadori says:

    mmm…bolh q copy y….bwt ref. paper….mohon jgn d doain mandul y….atur suwun…. :oops:

  33. bagus banget temanya, gaya bahasa ini sering digunakan oleh para birokrat dan politikus, , gaya bahasa eufimisme bila digunakan untuk menenangkan sebagian orang, boleh boleh saja aasl sesudahnya masalah tersebut benar-benar diseleaikan, dadiberitakan apa adanya,

Leave a Reply