Vicious circle of Hell

Friday 20 February 2009
  • Bakso adalah boraks, daging sapi gelonggongan, daging busuk bekas hotel yang diolah.
  • Mie ayam dan martabak telor adalah daging busuk bekas hotel olahan, daging gelonggongan, daging bangkai, pewarna mi tekstil.
  • Minyak sayur curah adalah campuran oli oplosan
  • Mi kuning, kerupuk, tahu, sosis adalah pewarna tekstil
  • Daging adalah daging gelonggongan, daging bangkai
  • Kantung teh adalah pemutih tekstil
  • Es batu adalah air kali (sungai)  yg kandungan bakteri ecolinya banyak.

Jadi, kalau kita makan ketoprak, berarti kita makan campuran oli buat goreng tahu dan kerupuk yang dikasih pewarna tekstil. Kalau kita makan pangsit berarti kita makan pewarna tekstil untuk daging olahan bekas hotel, kerupuk pangsit dan mie, serta campuran oli. Kalau kita minum es teh celup, berarti kita minum bahan pemutih tekstil di kantung teh, dan minum air kali berbakteri.

Parah yah :D

Yang lebih parah, hancurnya sistem ekonomi kerakyatan yang menjadi sumber murni pendapatan masyarakat dari rakyat untuk rakyat tanpa mengandalkan subsidi dari manapun, termasuk dari pemerintah. Satu-satunya sistem ekonomi yang kebal krisis dan bisa menjadi akar kekuatan ekonomi dari dalam.

Penyebabnya, kebodohan rakyat kecil sendiri yang merusak sistem pendapatan mereka sendiri? Nggak juga. Ini bukan sekedar soal mental.

Bagaimana dengan kisah teman ibu saya yang usaha nasi padangnya gulung tikar lantaran kalah saing dengan warung padang di sebelah rumahnya. Ia terheran-heran dengan warung saingannya yang bisa menjual rendang dengan harga yang sangat murah, padahal ia tahu itu tidak mungkin lantaran harga daging sapi di pasar sangat mahal. Menggunakan bahan sehat berarti kebangkrutan.

Lingkungan sekitar juga menjadi penyebab utama mengalirnya barang-barang oplosan kelas dua itu. Kesemuanya berasal dari bentukan birokrasi pemerintahan yang korup entah dari zaman kapan. Biaya hidup yang tinggi. Pajak mahal yang gak jelas masuk ke mana. Investasi golongan tertentu. Ketidakmerataan pembangunan. Hukum dibeli. Zaman jadi semakin berat, hidup jadi semakin susah. Makin gak sadar kita dieksploitasi secara gak jelas, dsb.

Semuanya berujung pada lingkaran setan yang akhirnya membentuk kultur masyarakat neraka Indonesia

(damn, I love this country… very… but those grafter decay screw up everything)

Share this post

SocialTwist Tell-a-Friend

You might also enjoying this post.

27 Responses to “Vicious circle of Hell”

  1. abdee says:

    wah jadi ngeri…

    kembali ke pohon saja… makan buah-buahan yang ada kulitnya..

    abdee menulis di blognya tentang Balada Coklat …eh Coklit

  2. antown says:

    sumpah parah, padahal aku senang makan bakso dan mie. kalo mihun apa juga bahaya can?

    antown menulis di blognya tentang Tips Cara Cepat Menggambar Teka-Teki Silang (TTS)

  3. Xrvel says:

    Kayanya itu di kota gede macam jkt aja ya, di mana semuanya emang harus “efisien” :???:
    Perut kita diisi sampah

    • uchan says:

      Mungkin hanya di kota gede aja kali yah… :oops:

      tapi penetrasi TV ke masyarakat daerah juga cukup gede. Dan ga tertutup kemungkinan juga bangun tatanan nilai soal makanan sampah itu :o

  4. :twisted: inikha potret negeriQ??? Jd mkan apa kita bro?? Prah smw yak mknan2 di Indo :???:

    Ardy Pratama menulis di blognya tentang Hosting si ‘Beruang’, murah meriah…

  5. zeista says:

    hehehe….

    manusia sekarang adalah mesin recycle.. yang paling mantaps…

    zeista menulis di blognya tentang Ghost Picture

  6. joe says:

    Begitulah semua hanya berlomba untuk mendapat keuntungan semata, tanpa memikirkan akibatnya bagi manusia yang lain. Sungguh ironis

    joe menulis di blognya tentang Pemilu, Sebuah Pesta Demokrasi Semu

  7. gus says:

    dan kita pura2 terpesona dgn diplomasi hillary yang maksain investasi perusahaan AS makin menancapkan kukunya

    gus menulis di blognya tentang Link Banner Sekolah Darurat, Bantu Kami Menyosialisasikannya

  8. wi3nd says:

    jadi makan apah duunks chan..??:???:

    wi3nd menulis di blognya tentang ~saFaRi LanD~

  9. asli! posting ini keren banget. bikin aku merinding.

    makanya, daripada jajan yang nggak terjamin, mendingan masak sendiri dan makan di rumah. paling nggak proses dari bahan mentah ke bahan jadinya terpantau. kalaupun bahan mentahnya nggak bisa seratus persen terjamin mutunya, tapi kalau kita sendiri yang belanja kan bisa memilih.

    pakabar,chan?

  10. topanz says:

    tp kok kyknya enak ya mas? :D ,eh g mkn daging jg slh satu cra bwt menghambat globar warming lho

  11. Lho, keknya aku dah komen di posting ini, gak diapproved ya Chan?
    Komen lagi ah. Aku menikmati gaya tulis khasmu Chan: meneror dulu, lalu mengendor untuk sampai pada pesan yang oke. Gitu aja Chan ya.

    Bahti Baihaqi menulis di blognya tentang Pemilu, PKS, PDIP-Megawati hingga SBY dan Puisi

  12. angus says:

    kemudian daripada itu,..
    pola hidup konsumtip yang menjadikan demikian.
    Coba kalo home-made food, at least, resiko terkena bahan2 kelas dua ato apalah terkurangi,….

    beruntung aye idup di desa, sayur mayur melimpah dan ayam-pun ayam kampung aseli binaan kandang belakang rumah (halah binaan, kek apa gitu,.. :oops: :berbusa: )…

    mari hidup didesa :D :D:D

    __________________

    angus menulis di blognya tentang facebook, simply annoying

  13. angus says:

    kebetulan BTS rada jauh :D :D:D :eek: :eek: ing:ing:

    ____________

    angus menulis di blognya tentang blinded

Leave a Reply