Hujan Jangan Marah

Posted on Sunday 1 March 2009 | By

Judul postingan ini adalah salah satu judul lagu dari band Efek Rumah Kaca, yang berjudul  “Hujan Jangan Marah”. Ciri khas ERK banget yang selalu mengangkat substansi ketimpangan sosial dan tema-tema tentang perjuangan hidup. Komentar awal yang kira2 keluar di benak pikiran saya pas nyimak lagu ini cuma satu: “Ah gilaaa, Suraaammmm!!!!!! Gelappppp” (suram dan gelap di sini dalam artian yang ini)

Bukan dari segi lirik, gaya vokalisnya yang nyanyi nge-Tom Yorke banget, ditambah lagi settingan reverb yg penuh pada suara gitar dan vokal bikin artikulasi lirik yang diucapkan jadi terasa sangat samar (masuk akal, mereka cuma make tiga instrument musik -biar latar gak terlalu kosong)… tapi dari segi musikalitas yg bener2 “mengerikan” yg bisa menghasilkan nuansa suram sedramatis ini.

Ketika Aku Pucat Pasi
Sembilu Hisapi Jemari
Setiap Kupeluk dan Menangisi
Hijau Pucatnya Cemaraaa

Yang Sedih Aku Letih
Dengarkah Jantungku Menyerah
Terbelah di Tanah yang Merah
Gelisah dan Hanya Suka Bertanya Pada Musim Kering

Melemah dan Melemah
Hujaaaaaan…Hujaaaaaan…Jangan Maraaaaaahh
Melemah dan Melemah
Hujaaaaaan…Hujaaaaaan…Jangan Maraaaaaahh

Puisi merupakan subjektivitas pengarang. Pembaca menafsirkan puisi dengan menelaah unsur2 dari dalam teks itu sendiri, maupun dari luar teks puisi. Unsur dari luar misalnya, persepsi kita menafsirkan peristiwa Tsunami dengan orang Aceh yang menafsirkan Tsunami tentu berbeda jauh. Misalnya kita bilang Tsunami adalah bencana alam akibat membludaknya air pantai secara hebat, sementara orang Aceh mengatakan bahwa Tsunami adalah neraka hidup yang hadir ke dunia bersama dewa kematian dsb.

Unsur dari dalam misalnya kita mengatakan bahwa lagu ini tercipta karena pengarang melihat pohon cemara di kala hujan sehingga terlihat berwarna kepucatan. Dari segi intrinsik, lagu ini sangat gelap. Gelap dalam artian, “aku lirik” tidak bercerita banyak dalam puisinya. Apakah saya menafsirkan banjir gara2 hujan atau saya menganggap narator hanya membuat metafor “jangan marah” kepada “Dia” yg di sana… atau sebagainya?, yg jelas lirik ini cukup berhasil membuat saya ingin menggali lagi unsur ekstrinsik (luar) dengan berbicang lebih lanjut dengan penciptanya.

Musti riset mendalam, dari sekedar riview asal2an kayak begini :p

Share this post

SocialTwist Tell-a-Friend
Advertisement

You might also enjoying this post.

Leave a Reply