Hujan Jangan Marah
Judul postingan ini adalah salah satu judul lagu dari band Efek Rumah Kaca, yang berjudul “Hujan Jangan Marah”. Ciri khas ERK banget yang selalu mengangkat substansi ketimpangan sosial dan tema-tema tentang perjuangan hidup. Komentar awal yang kira2 keluar di benak pikiran saya pas nyimak lagu ini cuma satu: “Ah gilaaa, Suraaammmm!!!!!! Gelappppp” (suram dan gelap di sini dalam artian yang ini)
Bukan dari segi lirik, gaya vokalisnya yang nyanyi nge-Tom Yorke banget, ditambah lagi settingan reverb yg penuh pada suara gitar dan vokal bikin artikulasi lirik yang diucapkan jadi terasa sangat samar (masuk akal, mereka cuma make tiga instrument musik -biar latar gak terlalu kosong)… tapi dari segi musikalitas yg bener2 “mengerikan” yg bisa menghasilkan nuansa suram sedramatis ini.
Ketika Aku Pucat Pasi
Sembilu Hisapi Jemari
Setiap Kupeluk dan Menangisi
Hijau Pucatnya CemaraaaYang Sedih Aku Letih
Dengarkah Jantungku Menyerah
Terbelah di Tanah yang Merah
Gelisah dan Hanya Suka Bertanya Pada Musim KeringMelemah dan Melemah
Hujaaaaaan…Hujaaaaaan…Jangan Maraaaaaahh
Melemah dan Melemah
Hujaaaaaan…Hujaaaaaan…Jangan Maraaaaaahh
Puisi merupakan subjektivitas pengarang. Pembaca menafsirkan puisi dengan menelaah unsur2 dari dalam teks itu sendiri, maupun dari luar teks puisi. Unsur dari luar misalnya, persepsi kita menafsirkan peristiwa Tsunami dengan orang Aceh yang menafsirkan Tsunami tentu berbeda jauh. Misalnya kita bilang Tsunami adalah bencana alam akibat membludaknya air pantai secara hebat, sementara orang Aceh mengatakan bahwa Tsunami adalah neraka hidup yang hadir ke dunia bersama dewa kematian dsb.
Unsur dari dalam misalnya kita mengatakan bahwa lagu ini tercipta karena pengarang melihat pohon cemara di kala hujan sehingga terlihat berwarna kepucatan. Dari segi intrinsik, lagu ini sangat gelap. Gelap dalam artian, “aku lirik” tidak bercerita banyak dalam puisinya. Apakah saya menafsirkan banjir gara2 hujan atau saya menganggap narator hanya membuat metafor “jangan marah” kepada “Dia” yg di sana… atau sebagainya?, yg jelas lirik ini cukup berhasil membuat saya ingin menggali lagi unsur ekstrinsik (luar) dengan berbicang lebih lanjut dengan penciptanya.
Musti riset mendalam, dari sekedar riview asal2an kayak begini :p

Leave Alone and Die: Windows Mobile
Trio Edubook Review
Today Fasnet (Firstmedia) Sent a New Bill of Charge
HP Compaq Presario CQ40-337TU on Ubuntu 9.04 (2)
Mowes Portable
tapi saya rasa reviumu bagus sekali chan…
suryaden menulis di blognya tentang Jogja Kembali bersepeda
Makasih Mas
bentar mas..tak pahami dulu makna puisinya:???:
topanz menulis di blognya tentang 3G Indonesia, Melesat Dengan Konten Pengguna
Gak usah dipaksain kok bro :p
hahahhhaaaa
doyan ERK yah bang….
eh ikutan ini dunks
http://dunia-vern.blogspot.com/2009/03/mainannya-blogger.html
vern menulis di blognya tentang mainannya blogger….
He’eh doyan. Rasanya gurih ing:
gan… mantap!! itu ajah
OOT:
bukan anton pardede atau antownchan, masih tetap antownholic:cool:
antown menulis di blognya tentang Adobe Flash dan Ilustrasi Desain Vektor
Mantap apanya mastah
Wah…bagus kog review-nya
Salam kenal
Yep menulis di blognya tentang Situs-situs Manipulasi Foto Online
Salam kenal juga bro
salam kenal aja deh…
joe menulis di blognya tentang Si Kuncung, Sahabat Anak-Anak
Iya, sama2
wah, estrada juga toh?
sip, murung itu sungguh indah bukan? :fm:
denologis menulis di blognya tentang Blogging Biasasaja#2 ; Hakim
Iya dah ;D
Puisi yang indah bro….
apalagi bacanya sambil makan pisang goreng
rusdan menulis di blognya tentang Awas! Pengguna Facebook Diserbu Penjahat Cyber
Apa hubungannya gan sama pisang goreng
Gak salah gw angkat dirimu jadi kritikus khusus blogku. Top dah.
Pak Abah Bhq menulis di blognya tentang Dari Syair Martubi ke Gelak
Ampun pak
baru dengar kalau hujan bisa marah juga
Personifikasi yah
For everyone, salam kenal ya………….
ERK itu kalo menurut saya radioheadnya Indonesia…
I love their music..!!
Radiohead era jadul mas, yg sekarang elektrik gitu malah
thx for comming btw