Archive for the ‘Puisi’

Old Stories…!!!

Sunday 14 December 2008 | Comments (41)

Misalnya kita

tahu apa yang

berada di balik

awan…

Awan pergi
seiring berlalunya waktu,  seandainya kita tahu apa yang berada di baliknya,
manakala ia berarak menjauhi

A.I.R MatA seketika menjadi
jawaban

Kita semakin sepi bisikmu. Kalau boleh jawab pasti teruntai dalam nada L-I-R-I-H… mungkin tidak ada yang perlu dijawab karena memang tidak pernah ada
pertanyaan

Mungkin ia tidak pernah menjadi
pertanyaan sebab
terlalu banyak

- – – – – – – – – – – – ->  Gelap


terlalu banyak kerumitan, terlalu
banyak aturan yang batasi, terlalu banyak petunjuk, terlalu banyak inisiatif,
terlalu banyak kesibukan, terlalu banyak rasa bahagia. TErlaLu!

Mengapa tidak pernah
ada
kebrutalan.
Terlalu-terlalu itu membekukan. Persoalan berubah, dan soal terlalu-terlalu
menjadi tidak relevan

Kita masih bertengkar di bawah, padahal sedari tadi langit biru tertawa sinis. Jengah menumpuk di dalam, padahal
tipuan2

metafor biru lazuardi, tiupan angin sepoi-sepoi, perasaan tenang saat menatap ke atas, dan s’gala yang indah-indah itu justru…

mematikan nurani!

Tanya
saja -si langit biru-!

(berkata dengan nada suntuk)

Setiap Hari

Wednesday 19 November 2008 | Comments (49)

Setiap hari
by Uchan

Mungkin sarang laba-laba yang menghiasi dinding ini adalah bentuk konkret jawaban akan sepi-sepi yang selama ini memadati relung hati

Ribuan sumpah serapah biarlah terburai mengutuk kotornya dinding ini, karena kau tak tahu mekanisme mengapa terciptanya musti di pojokan

-Seperti zamrud yang ada di matamu, mutiara di mulutmu, dan rona perak di wajahmu- dan setiap hari harus kuresapi diam-diam mau tak mau bagian mu yang maha

Maka biarlah! Ini ruangku, semestaku di mana aku hidup di dalamnya

12 sep 2008

Every Day
by google translator, edited by uchan :(

Perhaps the spider’s nest that decorate this walls is a concrete form of answers about the emptiness, which stodge that during this niche heart

Thousands of curse let it go out condemn this dirty wall, because you do not know why the creation of mechanisms in a corner

-As the emerald in your eyes, pearl in your mouth, and moon color light in your face-, and each day I have to absorb it quietly, your very best part…

So let it be! This is my sanctuary, a place where I live in

Mood Ancur

Thursday 17 July 2008 | Comments (45)

Dulu saya sempet bongkar diary mpok saya (masih muda waktu itu, agak2 khilaf emang), n nemuin puisi dia yang sampe sekarang masih ngebekas banget di hati.

Kita diajar mencari
agar kelak menjadi mentari
kita diajak untuk sepi-sepi
supaya hati tahu kadang tak bisa memiliki

Kalo baca ini serasa lagi sendirian di pinggir pantai ngeliatin laut (timingnya harus pas, misalnya abis diputusin, abis ditolak, abis diselingkuhin, or abis di2 yang lainnya yg bikin kita pengen minum baygon).

NB:
Pas lagi diem2 terharu gitu, tiba2 adek saya lewat n nyetel lagu Efek Rumah Kaca - Lagu Cinta Melulu pake speaker HP jadul yang sember.

Langsung ilang begitu aja mood-nya :hammer:

Fitrahnya

Thursday 19 June 2008 | Comments (3)

Fitrahnya

(1) Tiba-tiba kesenyapan menyelimuti, merayapi tubuhku pelan-pelan. Aku ingin bicara, tapi tak ada wacana yang mengalir. Aku merasa menangis, tapi tak ada air mata yang teruntai. Aku mencari suaramu, hanya ada bening keheningan. Saat ku kembali tersadar bahwa aku hanyalah sebuah pohon.

(2) Matahari yang terbenam, ketika kumenatapmu, kau adalah seekor burung mungil yang tak puas dengan dunia yang kecil ini, sayap yang kau miliki masih ingin mengepak menyelami birunya telaga langit, seperti ketika aku memilih menjadi pohon karena kutahu ia menghujam ke dalam.

(3) Seekor burung yang murni biasa melintas, setelah bertahun-tahun sepi, ketika kau sapa dahanku, suaramu taburkan rangkaian pola warna, menghiasi daunku. Tak terdefinisi (mungkin), berona abstrak. Benar-benar biasa!, tak ada yang “begitu indah” tapi keabstrakan itu terpancar sendiri, mungkin kau juga tidak sadar.

(4) Angin menerpaku karena ia memang menerpa, siapapun bukan hanya wujudku. Batu di kakiku membisu karena memang ia tak ingin membicarakan segala sesuatunya kepada alam yang senantiasa terpekur pada kodratnya masing-masing. Begitupun kau yang mengepak pergi dari dahanku karena sudah fitrahnya juga. Masih banyak langit yang ingin kau telusuri, masih banyak bentangan lembayung yang harus kau pahami, masih banyak jejeran awan yang perlu kau resapi maknanya.

(5) Bagaimana caranya meresapi seekor burung yang sementara mata dan pikirannya selalu menatap kenangan-kenangan akan langit dan senantiasa terjaga akan suara-suara dari langit dan selalu merindukan suasana-suasana langit?

(6) Melihat hujan yang ada kali ini adalah menyerap dimensi kesunyian yang tergulir di depan mata, berguguran dedaunku, kering meranggas, menguning. Menyambut hujan kali ini adalah memaksa untuk menghirup udara sepi, dan menghembuskannya kembali dalam aliran sunyi bersama sapaan angin.

Jakarta, 5 Nov 2003

 

Sepi-sepi

(1) Lantai tempat ku bersila adalah saksi bisu ketika mataku menari pada tubuh-tubuh telanjang dengan topeng-topeng yang dikenakannya.

(2) Menatap hari ini adalah menghadapi kenyataan bahwa kau harus menghilang tiba-tiba, sepertinya ketika itu aku baru saja tahu kalau warna laut itu biru.

(3) Untuk hari ini, walau sedikit terusir, pekatnya sepi itu telah merasuk ke otak menjamah sisi waras, membangkitkan sisi gelap, membuat bodoh

Jakarta, 6 Nov 2003

 

Sesuatu yang tertunda

(1) Tetes air mata ini yang tak sempat tertuang, tercipta sesaat atas nama cinta.
Cinta yang sederhana seperti rasa manis pada kopi yang pahit. Bertolak belakang, seperti bermusuhan namun sesungguhnya saling melengkapi dan saling memberi makna satu sama lain.

(2) Meski dipaksa berlalu menjadi biru, hitam yang tercipta telah lebih dulu terpancar, terpecah karang meninggalkan noda khas aroma pesisir.

(3) Wajah yang tertunduk dipaksa terantuk oleh jejak-jejak khayal akan indahnya panorama bulan. Oleh mimpi-mimpi akan indah kehidupan di bulan.

Merak-Bakauhuni, 7 Nov 2003

 

Keapakahan itu?

(1) Dan mengapa seketika pedih seakan lirih gesekan aliran air pada bebatuan, seperti kata-kata dalam hati, tak terduga dan seketika pula tertulis pada secarik kertas?

(2) Ah mungkin kita terlalu banyak bicara?, ketika kau terperangah pada angin yang mengarak beribu-ribu awan mengarungi telaga kebiruan dan ketika aku yang membeku pada diamnya batu-batu yang meneguhkan zikir dalam dengungan khusu’nya?

(3) Akan tetapi keengganan itu, kesungkanan itu, bemain dalam wadah hasrat, telungkup dalam kungkung yang membatasi jarak pandang

(4) Karena (sekali lagi mungkin), musuh yang kita lihat adalah wajah yang setiap pagi kita tatap pada kaca yang mengenakan seribu muka?

 

Semesta Kebisuan

(1) Kian hari semakin jelas, benda yang kulihat sebagai titik, adalah sebuah garis vertikal bagimu.

(2) Perlahan, sepi-sepi itu menguap dalam semesta kebisuan, mengarak akal sehat kelubang, menyeret semakin dalam

(3) Semakin hari pertanyaan itu juga semakin besar, terus berkecamuk dalam hati, “sebenarnya ada apa di balik garis yang kau lihat?”

(4) Mungkin ini adalah sebuah tanya (pula), ditengah-tengah rahasia abadi keheningan itu

Lampung, 9 Nov 2003

 

Pulang

(1) Kita berbicara kelu pada celah-celah dinding berdebu, sementara beduk telah mengalun bertalu-talu, memanggil malu-malu.

(2) Membercaki sisi pena yang telah berbusa-busa memuntahkan kata-kata, duh, kiranya gundah ini tak terhapus air wudhu!

(3) Kutundukkan kepalaku membatu, terbenam dalam alunan sujud, membeku, sementara rona fajar merasuki pelan-pelan.

Jakarta, 10 Nov 2003

Coffee Shoop

Thursday 19 June 2008 | Comments (4)

Ah…, Pahit kau sajikan di meja

kulihat kemuramdurjaan itu menatap kosong

memantulkan bayangan tubuh-tubuh telanjang, tak berkelamin

Tertawa aneh, tersenyum sinis, menyerocos tak karuan

Asapmu membumbung harum

manis, manakala kuhirup pelan-pelan

terselimuti hitam konyol

Ku letakkan kembali cawanku

ah…, waktu membunuhku

Tertawa pelan-pelan, iblis beranjak pergi

untuk ke sekian kali

aku merasa dibodohi