Did I Have a Story?

Tipis, dan Gak Kerasa

December 6th, 2008 utchanovsky

It’s very thin, and almost people didn’t realize it. Soalnya ini udah hampir jadi keseharian. Dan kita juga masih sering make :D . Iseng abis ngunjungin hajatan saudara, kecanduan moto2 buat jadi bahan blog :hammer: ampe diliatin orang pula pas motonya :( . Nemu poster ini

Harusnya si ditulis “silakan” (tanpa huruf h). Cek di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) online kata “sila” yang mendapat sufiks (imbuhan di belakang) “-kan”.

Yang lainnya yang juga sering:
- Para tamu-tamu beramai-ramai menyalami pengantin. (salah)
- Tamu-tamu beramai-ramai menyalami pengantin. (benar)
- Para tamu beramai-ramai menyalami pengantin. (benar)

Alasan:
Kata “para” sudah merupakan penanda bentuk jamak. Tidak perlu mengulang kata tamu (bentuk jamak) kalau memakai kata “para”. Atau sekalian buang kata “para” jika ingin mengulang kata “tamu”.

PS: :cd: lu ngapain posting ginian caaaannnnn :mad:

Yang Sakit Si A, yang Diobatin Si B

December 3rd, 2008 utchanovsky

Maraknya iklan mengenai penyakit AIDS/HIV belakangan ini seolah merefleksikan sesuatu. Yup, wabah AIDS telah menyebar secara luas di Indonesia. Tiap orang kebakaran jenggot, pemerintah, masyarakat, LSM, dan berbagai lembaga lainnya. Sebagian besar penderita adalah anak muda (analoginya ni wilayah tahap manusia yang masih2 “meraba2″ soal SEX).

Dari tiap iklan yang muncul di TV, pesan iklan selalu menganjurkan untuk tidak mengucilkan para penderita AIDS (ODHA). Terlihat bagaimana mantan pemakai narkoba yang menggunakan obat penahan perkembangan penyakit AIDS membuatnya kembali dapat beraktivitas seperti biasa, sehingga ia dapat kembali diterima oleh masyarakat umum. Kemudian, iklan seorang karyawan yang ingin mengundurkan diri karena terkena HIV, namun beruntung sang bos sangat pengertian dan memberikannya semangat agar tetap terus bekerja (haha, yg ini aga2 mustahil :D ), dan berbagai anjuran penggunaan kondom ketika nge-SEKS.

Dari sini, berasa ada sesuatu yang mengganjal nggak? Begini…

pesan-pesan dalam iklan selalu mengatakan bahwa AIDS itu sudah biasa, karena itu pintar2 lah kita menyikapinya. Sangat jelas iklan tersebut berkiblat ke negara2 barat yang memang iklimnya seperti itu. Bukannya munafik, seks bebas di Indonesia memang makin menjamur, tapi itu belum separah bagaimana budaya seks bebas di negara-negara maju. Begitu juga dengan persoalan narkoba, negara kita belum secanggih negara2 maju dalam mengeksploitasi narkoba. Ini terlihat dari penggunaan narkoba jenis putau yang notabene masih level keraknya heroin.

Pangkal persoalan AIDS itu sendiri adalah moral. Dan yang selama ini kita obati adalah perasaan kita agar terus memaklumi AIDS, seperti anjuran untuk menerima dan tidak mengucilkan para ODHA dan anjuran penggunaan kondom ketika nge-seks. Kita tidak pernah mengobati “penyakit AIDS” yang sesungguhnya, yaitu budaya rusak barat seks bebas dan narkoba.

Nah budaya rusak ini yang disosialisasiin terus di TV2 tanpa henti, sampai jadi tatanan nilai baru. Diekspos habis2an di sinetron2, film2 bioskop, iklan2, infotaiment, sampai orang ngerasa lumrah (liat hegemoni soal konstruksi nilai lumrah buatan ini) dan muncul anggapan kalau gak ngikut (rusak) berarti gak gaul. Mulai dari yang kecil2, nongkrong di mall pake rok mini se paha, tanktop-an doang pas keluar rumah, sampe yang level gede pacaran gak afdol kalo gak ML (hahaha ternyata gw tukang ngejudge dan dogmatis, bener2 nyebelin).

Read the rest of this entry »

Paradoks, terkadang hampir gak kerasa

November 24th, 2008 utchanovsky

GREENPEACE

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata itu? Aktivis lingkungan? Pekerja sosial yang hebat? Organisasi massa berskala internasional yang sangat concern dengan lingkungan?

Wo wo wo, hold on

Saya agak2 heran. Sepertinya kalo di Indonesia, Greenpeace jadi lifestyle dan trend yak?? Soalnya ni lagi hangat2nya diperbincangkan.

Concern healty life sih emang harus, cuma Indonesia kan gak separah kerusakan lingkungannya kayak di Eropa sono (dan jelas-jelas mereka emang penyumbang kerusakan terbesar lingkungan dunia). Wajar lha kalo mereka feeling guilty dan lantas buat organisasi internasional Greenpeace itu. Kayak soal atheis di barat yang jadi kelaziman, background mereka kan jelas doktrin kaum agamawan gereja klasik dulu yang emang cukup dominan. Lha kalo di indonesia, orang yang jadi atheis aneh kan (walaupun banyak)??

(ini gak ada hubnya sama sekali dengan SARA dan saya memang tidak bermaksud begitu)

Soal GreenPeace ini… kayak ada yang sengaja ekspos biar berhembus ke Indonesia (masih belum nemu motif terselubungnya).

Peduli sih peduli, tapi benarkah kita peduli lingkungan? apakah kita masih makan+minum+pake kosmetik di tempat franchise2 eropa penyumbang kerusakan alam terbesar hasil teknologi industri mereka? beli produk2 sehat yang “tidak sehat” punya mereka? Masih rajin karaokean buang2 duit gak karuan, easy come easy go?

Mudah2an gak sekedar ikut yang ikut2an. Berhenti minum kopi n makan di tempat2 franchise mahal dan kasih sisa duit gajinya buat orang2 di pedalaman Jawa + papua + sulawesi + sumatera + kalimantan yang kelaparan, panti2 sosial, orang-orang jompo, daerah bencana, korban banjir akibat bajingannya pengusaha properti, gedung sekolah rusak, orang-orang yang dipaksa hidup dengan kualitas barang yang nggak pantas …. (kalo diterusin bisa bakalan sampe panjang bangat ke bawah).

Saya rasa ini yang lebih penting dari sekedar organisasi GreenPeace.

PS: Maaf tulisan saya yang terlalu simple, tapi justru itu semuanya jadi tampak jelas. Source gambar banjir diambil dari sini

Teori Hegemoni

August 18th, 2008 utchanovsky

Postingan ini merupakan postingan lanjutan, untuk melanjutkan keyword dari postingan kebijakan hegemoni di blog utchanovsky.com

Realitas terstruktur adalah teori yang cukup mengejutkan dari Louis Althusser, sekaligus kritik atas Marx yang menurutnya terlalu terpukau dengan klausul ekomoni sebagai faktor mekanisme terjadinya kekuasaan. Louis Althusser cukup berhasil menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk ideologi (ideologi di sini dalam arti negatif) disosialisasikan kepada masyarakat luas. Tapi, ada beberapa hal krusial yang membuat bagaimana mekanisme ideologi bisa tersebar luas dengan sangat efektif, yaitu teori hegemoni.

Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani, yaitu hegeishtai. Istilah tersebut berarti yang berarti memimpin, kepemimpinan, atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Konsep hegemoni menjadi ngetrend setelah digunakan sebagai penyebutan atas pemikiran Gramsci yang dipahami sebagai ide yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Adapun teori hegemoni yang dicetuskan Gramsci adalah:

Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.

Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa .

Dengan demikian mekanisme penguasaan masyarakat dominan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Sebagai contoh dalam situasi kenegaraan, upaya kelas dominan (pemerintah) untuk merekayasa kesadaran kelas bawah (masyarakat) adalah dengan melibatkan para intelektual dalam birokrasi pemerintah serta intervensi melalui lembaga-lembaga pendidikan dan seni.

John Storey menjelaskan konsep hegemoni untuk mengacu kepada proses sebagai berikut:

…sebuah kondisi proses di mana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan “kepemimpinan” moral dan intelektual. Hegemoni terjadi pada suatu masyarakat di mana terdapat tingkat konsensus yang tinggi dengan ukuran stabilitas sosial yang besar di mana kelas bawah dengan aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yang mengikat dan menyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada.

Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana kita bisa merasa rela saat ada orang lain membeli tanah sawah (tanah resapan), yang akan dibangun mall atau perumahan elit. Dan kita kayakngerasa lumrah ngomong gini: “Ya wajarlah dia punya duit”

Klik di sini untuk melihat bagaimana implementasi teori hegemoni

PS: Berdasarkan kejadian sebenarnya, ketika PT 5UMM4R3C0N kembali melebarkan tentakel-tentakel bisnisnya.

16 Jam Pasca-HUT RI

August 17th, 2008 utchanovsky

16 jam pasca-HUT RI 2008 kali ini…

Read the rest of this entry »