Linguistik Murni dan Terapan

Monday 30 April 2012 | post a comment

Linguistik dalam berbagai kamus sering didefinisikan sebagai ilmu bahasa. Ilmu linguistik sendiri terbagi menjadi 2 cabang besar, yaitu linguistik murni dan terapan. Linguistik murni mengkaji bahasa dan seluk-beluk bahasa itu sendiri, sementara linguistik terapan mengkaji bahasa dan kaitannya dengan disiplin ilmu lain.

Untuk lebih jelas, Anda dapat melihat ilustrasi berikut (dengan syarat browser telah terinstal plugin flash):

Morfologi, sintaksis, dan fonologi merupakan cabang dari linguistik murni. Adapun Psikolinguistik, sosiolinguistik, linguistik edukasional, merupakan cabang linguistik terapan.

Semantic Change (Linguistic)

Sunday 7 August 2011 | post a comment

Why the meaning of word change? In an example, which word you choose; “perempuan” or “wanita”? Cited from Alan Cruse in his book, A Glossary of Semantics and Pragmatics, there are six kind of semantic change. He gives sample from English language, and below is the elaboration.

  1. Gain and loss of meaning.
    With the advent of personal computers, an obvious example of a word that has gained a meaning is mouse. A word which has lost a meaning is direction. In Jane Austen’s day, one of the meanings of direction was what we now call address (e.g. on an envelope). This represents a concomitant gain for the word address. A new meaning is frequently a metaphoric or metonymic extension from an earlier meaning.
  2. Change of default meaning.
    A primary meaning may become secondary. A hundred years ago the primary meaning of expire was ‘die’. This meaning still exists but it is somewhat archaic. The primary meaning now is ‘come to the end of a period of validity’.
  3. Semantic drift
    As the details of everyday life change gradually, there is often a gradual shift in the meanings of words. One such shift is a change in the prototype of a category. Think of the gradual change in the prototype of a weapon or vehicle over the centuries.
  4. Specialization and generalization
    These terms refer to the widening or narrowing of category boundaries. Specialization is illustrated by doctor, which at one time meant simply ‘teacher’ or ‘learned person’. An example of generalization is actor, which originally denoted only male thespians, but is now used without discrimination of gender.
  5. Pejoration and amelioration
    Words which originally expressed a positive or neutral attitude sometimes come to be derogatory, or at least express a negative judgment. One example of this is interfere, which originally meant simply ‘intervene’, without the negative overtones it now has. Another example is typical in Isn’t that just typical? Historically, words referring to women have been particularly prone to pejoration: mistress, madam, working girl. Change in the opposite direction, known as amelioration, is somewhat rarer; perhaps the development of queen from an earlier form meaning simply ‘woman’ or ‘wife’ is an example, although this word has also undergone pejoration at various times. Another example is sturdy, which had a pejorative meaning of ‘reckless, violent, obstinate’, but now has a positive meaning.
  6. Bleaching
    This refers to a loss of meaning, as with, for example, make in to make a phone call, where the original meaning of ‘construct’ has virtually disappeared, leaving only something like ‘do something’. The term also applies to a weakening of meaning, as with words such as awful, terrible, fantastic.

Kode

Wednesday 15 July 2009 | Comments (62)

Laki-laki menggunakan istilah “gitar spanyol” untuk mendeskripsikan perempuan yang tubuhnya bohai. Kaum lesbi mengistilahkan “anjing” buat perempuan yang “menarik” menurut mereka (ini kaitannya dengan lidah anjing yang menjulur). Pemakai narkoba pakai istilah “barang” untuk narkoba yang mereka pakai. Misalnya, “ada barang ga bos?”.

kopi

Tapi saya baru nemu satu kode lagi yang agak-agak heran juga. Ini terjadi di tempat kios tukang jamu. Kodenya adalah, “Kopi Item”. Coba pesan kopi hitam di warung/kios tukang jamu. Anda akan mendapatkan secangkir anggur hitam + jeruk nipis. Sempat menyicip sedikit minuman beralkohol itu, soalnya saya memang tidak tahu …

:(

Lumayan anget juga :oops: :hammer:

Indonesia Kehilangan Lagi Seorang Pakarnya…

Friday 1 May 2009 | Comments (12)

Hari ini, 1 Mei 2009, pukul 10.55 WIB, telah meninggal dunia salah seorang ahli linguistik terbaik dari Indonesia, Drs. JD Parera, Dosen Purna Bakti Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Jenazah akan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, esok harinya, pukul 09.00 WIB.

Beliau icon kebanggaan almamater saya, mengingat gencarnya serbuan tokoh-tokoh lain dengan atribut “Pakar Anu dari UI” atau “Pakar Anu dari UGM” atau “Pakar Anu dari ITB”. Terlepas dari persoalan di atas, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Teror Bahasa Eufimisme

Friday 30 January 2009 | Comments (41)

lieSewaktu mendapat pelajaran bahasa Indonesia di SMP/SMA dulu, kita pernah mendengar istilah majas hiperbola, metafora, dan eufimisme, serta majas-majas lainnya. Hiperbola berarti mendramatisir suatu keadaan, seperti pada kalimat: “banjir darah” dan “mandi keringat”. Bentuk metafora bisa dikatakan sebagai perumpamaan-perumpamaan yang seringkali ditemukan pada ulasan-ulasan karya sastra. Adapun majas eufimisme berarti bahasa penghalus yang lazim kita temui pada percakapan sehari-hari, seperti kalimat: “Pak, saya izin ke belakang.”.

Karakter orang Indonesia yang ramah sangat mendukung penggunaan ragam bahasa eufimisme dalam berbagai situasi kehidupan. Penyebutan “wanita tuna susila (WTS)” ketimbang “perek” atau “lonte” dalam media cetak/tv adalah salah satu contoh dari bahasa eufimisme. Nilai rasa bentuk “WTS” tentu dirasa lebih halus daripada bentuk “perek” dan “lonte”. Contoh lainnya, bisa kita lihat pada kalimat, “Polisi berhasil mengamankan tersangka sehari setelah terjadinya insiden.”.

Celakanya, penggunaan bahasa eufimisme ini seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Kita bisa lihat pada bentuk-bentuk kalimat berikut.

  • Rupiah melemah 200 point terhadap dollar US.
  • Pemerintah menyesuaikan harga BBM
  • RAPBN dikoreksi dengan asumsi dollar di keseimbangan harga 11.000 rupiah

Bentuk-bentuk di atas adalah salah satu penggunaan bahasa eufimisme dengan menyimpan konteks-konteks tertentu. Bagaimana jika dua kalimat di atas kita ganti jadi:

  • Rupiah anjlok 200 point terhadap dollar us
  • Pemerintah menaikkan harga BBM
  • RAPBN membengkak dengan asumsi dollar di keseimbangan harga 11.000 rupiah

Maksud celakanya, bahasa eufimisme justru digunakan untuk menutupi kenyataan tertentu bagi masyarakat publik. Selain menutupi kenyataan, bahasa eufimisme digunakan untuk memberikan citra positif. Namun yang lebih parah, bahasa eufimisme justru membuat tumpul daya kritis otak masyarakat publik. Membuat sebuah situasi seolah-olah keadaan aman terkendali. Kenyataan yg ditutupi membuat kita tidak berpikir panjang dan menganalisa secara mendalam.

Contoh konkret yang saya rasa cukup picik, ketika harga BBM turun, justru digunakan kalimat-kalimat polos (harfiah) dan digembor-gemborkan ke masyarakat, seperti pada kalimat “Pemerintahan si-Anu telah berhasil menurunkan harga BBM hingga tiga kali.”. Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, harga minyak dunia memang anjlok luar biasa. Di sini kita bisa melihat sesuatu yang tidak adil. Ketika harga BBM naik, digunakan bentuk eufimisme (disesuaikan). Namun ketika harga turun, digunakan kata harfiah “turun” (tetap turun, malah ada penambahan embel-embel “berhasil”).

Karakteristik bahasa eufimisme biasanya digunakan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Karenanya, tidak heran siapapun yg jadi penguasa, bahasa eufimisme ini pasti lazim digunakan. Dalam orde baru zaman Pak Harto, maraknya kasus orang hilang yang menimbulkan gonjang-ganjing di masyarakat diredam dengan menggunakan istilah “diamankan” ketimbang “ditangkap” atau “dipenjara”, pelaku yang menangkap tadi tadi justru dikatakan sebagai “yang berwenang” atau “mengamankan”. Di era reformasi zaman Megawati, istilah “privatisasi aset negara” sering digunakan ketimbang “menjual aset negara”.

Bahasa eufimisme yang semula “mulia” (bahasa halus yg digunakan untuk tidak menyinggung perasaan) menjadi teror bagi masyarakat, dan menjadi alat hegemoni penguasa untuk tetap berada di puncak. Ketika Anda merasa sedang tidak diteror, bisa dikatakan bahwa Anda sedang dihegemoni (dikuasai tanpa merasa sedang dikuasai). Tulisan ini hasil sintesa saya setelah menonton acara dialog di TVRI dengan topik yang sama. Mudah-mudahan bisa jadi semacam counter-hegemoni atas pemahaman realita bahasa di lapangan.

Jahanam yg copy gak bilang-bilang tulisan ini. Gw sumpahin mandul tujuh turunan. Lumayan capek nulis pake gaya serius. :mad: