Ikhlas Itu…

Friday 17 June 2011 | Comments (9)

“Masa gaji saya kalah sama tukang sapu yg pendidikannya lebih rendah dari saya? Kerjaan juga jelas-jelas lebih berat kerjaan saya. Saya ngerekap, perbaiki hasil kerjaan orang yang salah, ngejar-ngejar orang yg belum setor laporan, ngadepin orang yang ngomel karena salah di-input datanya, dll. Mana penghargaan terhadap keahlian saya?”

stres

Oke dalam dunia kerja, kejadian di atas adalah suatu hal itu lumrah terjadi. Saya tidak akan nyuruh ikhlas bersabar, atau ngelarang jangan marah, atau nyuruh inget Tuhan, atau apalah. Saya ingin Anda menyimak cerita berikut.

Suatu ketika ada kondangan (hajatan) seorang pejabat dan Anda kebetulan diundang oleh yang bersangkutan. Anda mati-matian mencari pakaian yang terbaik, mengingat tamu-tamu yang diundang tentunya “high class“. Di saat itulah Anda sibuk pula menyiapkan uang amplop-an untuk hajatan pejabat tersebut.

Setelah mengeruk isi dompet dan laci rumah, akhirnya terkumpulah uang sebesar Rp.500rb. Anda merasa uang tersebut sangat besar karena biasanya Anda paling-paling memberi amplop kondangan sebesar Rp.50rb. Dengan PD-nya Anda menulis nama Anda di amplop yang akan Anda berikan untuk hajatan si pejabat.

Namun ternyata, para tamu-tamu undangan lain memberikan amplop rata-rata sekitar Rp.3juta. Anda sendiri tetap PD menghadiri acara tersebut tanpa tahu apa-apa soal tersebut. Setelah selesai acara, pejabat mulai menghitung amplop dan melihat amplop atas nama Anda. Ia mungkin hanya sedikit tersenyum.

Pesan yang mungkin bisa diambil, Anda mungkin merasa orang paling berjasa di dunia, paling dibutuhkan oleh institusi Anda, dan sebagainya, namun ternyata tidak. Tidak karena bisa jadi karena kerjaan Anda dipandang remeh, tidak esensial, hanya tambahan ketimbang kerjaan lain yg lebih besar, atau memang hati pimpinan Anda buta karena sombong/tamak sehingga tidak bisa melihat kerja keras Anda, dsb.

Ya menurut saya intinya jangan congkak dulu. Kalo memang sudah niat bulat-bulat mau pindah atau mengundurkan diri, lakukanlah dengan kerendahan hati. Tidak perlu emosi atau sakit hati, karena orang yg kuat bukanlah orang yg mampu menjatuhkan/berkelahi orang lain, tetapi ketika ia mampu menahan amarahnya.

Blogging, The Power of

Thursday 29 May 2008 | Comments (20)

Cuma Blog!

“Alah itu kan cuma blog, mana ilmiahnya???”

Seringkali kalimat di atas diucapkan oleh orang. Kita (dalam hal ini sebagai blogger) yang mendengarkan cenderung meng-amin-i dan melanjutkan kembali pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa. Dampaknya, aktvitas blogging tereduksi ke wilayah pop saja, seperti music n film review, gosip artist, art, entertainmet, dan pop influence yang berujung pada narsisme :D.

Karena aktivitas nge-blog dianggap tidak ilmiah, para pelakunya (blogger) cenderung mengkhususkan dirinya pada bidang yang tidak membutuhkan kealamiahan. Akibatnya, banyak blogger yang lari ke sektor hiburan, curhat, dan mengungkapkan hal2 keseharian yang remeh-temeh. Jutaan halaman pelarian tersebut membentuk suatu jaringan maya raksasa dan membangun environtment sendiri. Para blogger pemula tentu saja akan latah dan ikut-ikutan berlaku seperti itu lantaran konstruksi sosial blogging yang terbentuk adalah yang seperti itu.

Dikotomi Blog dan Media Mainstream
Mengapa blog dipandang tidak ilmiah? Tentu saja ini terjadi karena adanya anggapan perbedaan kelas dalam media penyampai informasi. Adapun kelas yang bertentangan mengacu pada dua posisi; BLog dan Media Mainstream berupa cetak, radio, tv (jurnalisme tradisional). Jurnalisme tradisional yang telah lebih dahulu lahir telah membangun hegemoni dalam menyosialisasikan informasi. Hal ini menyebabkan timbulnya anggapan umum bahwa keotentikan dan idealisme jurnalistik hanya menjadi milik media mainstream saja.

Padahal, sekarang justru perlu dipertanyakan keotentikkan dari media mainstream tersebut. Apakah media mainstream masih mampu untuk tetap independen dan fight for freedom of rights? Apakah kita tidak merasa sedang disodori oleh berbagai layer informasi yang cuma dibentuk oleh media mainstream? Sebagai contoh, kini banyak media mainstream yang berafiliasi dengan produsen sehingga independensi ekspos atas konsumen diragukan. Sebagai contoh, kita dapat melihat media harian SINDO, RCTI, Global, dan TPI (bernaung dalam MNC) berafiliasi dengan layanan seluler FREN dan TV kabel INDOVISION. Jangan heran jika Anda sering melihat iklan produk FREN dan INDOVISION di media-media tersebut.

Media Mainstream: Masihkah Independen?
Mari melihat lebih jauh lagi. Ternyata diketahui bahwa para aktivis jurnalistik (wartawan) media mainstream hidup dalam taraf yang memprihatinkan. Walau tidak semua, hal tersebut dapat anda lihat dari kutipan link berikut.

  • Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!! (Baca lebih lanjut)
  • Kami dijanjikan akan diberikan gaji satu juta plus uang lelah bekerja sebutanya tunjangan prestasi. “kalau rajin akan ditambah lima ratus ribu,” itu keterangan dari Sururi saat itu. Jadi total gaji yang akan dibawa pulan adalah Rp. 1,5 juta. Saya sempat kecewa juga saat itu karena penghasilan sebesar itu sudah saya peroleh saat bekerja di Mara. Tapi karena sudah komitmen dan mencoba untuk loyal, saya akhirnya terus (Baca lebih lanjut)

Seharusnya pekerja jurnalistik disokong oleh perusahaan agar tetap menjaga prinsip-prinsip jurnalistik. TRANS dan SINDO adalah harian besar yang logikanya tidak akan kesulitan memberikan taraf hidup yang layak bagi para wartawannya (perlukah dicarikan berita mengenai saham MNC -sindo- naik or TRANS sebagai stasiun TV terbaik saat ini?).

Dari kasus di atas, terlihat bahwa jurnalisme media mainstream telah bergeser menjadi produsen. Jika dulu wartawan miskin karena idealisme-nya (tidak ada yang menyokong karena banyak musuh, namun menjadi pahlawan bagi semua orang), sekarang wartawan miskin karena dieksploitasi oleh media mainstram yang telah berubah perilaku menjadi produsen. Benar-benar lingkaran setan yang mengerikan.

Independensi jurnalistik dari media mainstream juga sekarang semakin meragukan, mengingat izin untuk membuat media mainstream sendiri dikeluarkan oleh pemerintah. Tentunya ada titipan-titipan dari penguasa (dalam era reformasi sekalipun) kepada media mainstream untuk mendukung berlangsungnya proses pemerintahan (baca -penguasaan).

Ayo Ngeblog!
Dulu kendala membangun media jurnalistik adalah dibutuhkannya biaya operasional yang besar (biaya cetak, biaya siaran, dan biaya lain-lain). Akibatnya, media terpaksa mencari topik2 populer dan menghindari ekspos yang remeh-temeh tadi demi memperoleh pemasukan iklan dari pihak produsen. Iklim liberalisme yang marak berkembang belakangan ini makin memperparah keadaan dan membuatnya semakin kelihatan kejam.

Link informasi mengenai wartawan media mainstream yang hidup dalam taraf memprihatinkan tersebut saya peroleh dari internet (forum dan blog informasi independen). Tidak butuh biaya mahal untuk menjadi jurnalis, denger temen curhat mengenai “ini-itu”, atau bahkan pengalaman pribadi Anda, bisa langsung Anda ekspos dan paparkan kepada khalayak. Cukup dengan ngeblog, dan biaya sewa internet selama 1 jam, Anda bisa menjadi seorang jurnalis yang benar-benar independen dan menjadi pahlawan bagi semua orang.

Tidak ada media mainstream yang berani mengupas bahwa agen mereka berada dalam opresi media mereka sendiri (iya lha, justru menjatuhkan kredibilitas mereka sendiri). Tidak ada redaktur yang menyuruh Anda mencari berita pesanan. Tidak ada eksploitasi yang mengalienasi Anda atas hidup Anda (kehilangan waktu dan tempat karena tuntutan perusahaan).

Siapkan diri Anda pada era the people power, seiring turunnya harga bandwith!!

Tunggu apalagi Ayo ngeblog!!

It’s About Job

Saturday 17 May 2008 | post a comment

Tulisan ini dalam beberapa hal berhubungan ma tulisan sebelumnya.

job-stresTentang pekerjaan. Karl Marx mengatakan bahwa pekerjaan hendaknya tidak mengasingkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya (terlepas dari persoalan Marx adalah seorang materialis atau bukan, ada beberapa pikirannya yang cukup menarik). Berbicara soal keterasingan adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dimengerti.Sebagai contoh… kemarin saya maki2 soal nasib dan pekerjaan yang harus saya jalanin sekarang ini. Bagaimana saya harus ngerasa puas dengan gaji yang kecil (jujur aja) n masa kerja yang lama. Jadwal kerja saya waktu itu… Masuk jam 7pg-3sore (sekolahan), trus sorenya jam5-12mlm (editor koran). waktu tidur cuma jam1pg-6pg ArrggHHhgg (percuma juga marah2). N klao gaji ditotal, masi kalah sama orang yang hidup normal-normal aja 8 jam sehari.

Sebenernya bukan curhat soal nasib, tpi ini soal pekerjaan. Ucapan2 seseorang yang bilang “Elu masih lebih beruntung.”, “Lu sukurin aja dulu apa yang ada, di luar sana masih banyak pengangguran.”, dan lain sebagainya justru bikin parah keadaan.

Omongan-omongan kaya gitu saya rasa intinya bikin ngerasa kita puas dan ngerasa nyaman sama nasib. Yang bikin bete… nasib itu sendiri ternyata dibuat oleh manusia lain yang mengeksploitasi saya. Eksploitasi dilakukan cukup licik dan keji dengan memanfaatkan berbagai doktrin agama… “Apa yang ada jarang disyukuri.”, “Manusia ada yang miskin dan kaya.”, sama doktrin sosial budaya, seperti “Kalau semua orang pengen jadi kaya, nanti gak ada orang miskin… dan orang miskin tuh… bla bla bla”.

Kenapa bukan doktrin agama lain yang lebih banyak di eksploitasi kaya “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berusaha mengubah nasibnya sendiri.”

(masi bersambung)