Mengganti Isi File Home Desktop Crunchbang

Wednesday 30 November 2011 | post a comment

Iseng-iseng memasang lingkungan desktop LXDE pada Crunchbang yang kemarin saya download (a Debian curent-stable based GNU/Linux distribution with Openbox environtment).

1
sudo apt-get install lxde

Akhirnya didapat lingkungan khas ala LXDE dengan menu ala Windows XP klasik. Start menu di pojok kiri, launcher aplikasi dengan berbagai kategorinya, dan icon-icon di desktop.

lxde-logo

Namun ada satu hal yang agak mengganjal. Desktop LXDE menampilkan icon-icon yang berada pada directory home. Otomatis layar jadi penuh dengan berbagai isi folder dan file di folder home.

Iseng-iseng buka file config pada PC saya

1
/home/USERNAME-PC-ANDA/.config

Ternyata ada file

1
user-dirs.dirs

Diintip-intip dikit pake editor leafpad atau Geany bawaan Crunchbang

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
# This file is written by xdg-user-dirs-update
# If you want to change or add directories, just edit the line you're
# interested in. All local changes will be retained on the next run
# Format is XDG_xxx_DIR="$HOME/yyy", where yyy is a shell-escaped
# homedir-relative path, or XDG_xxx_DIR="/yyy", where /yyy is an
# absolute path. No other format is supported.
#
XDG_DOWNLOAD_DIR="$HOME/downloads"
XDG_DOCUMENTS_DIR="$HOME/documents"
XDG_MUSIC_DIR="$HOME/music"
XDG_PICTURES_DIR="$HOME/images"
XDG_VIDEOS_DIR="$HOME/videos"
XDG_DESKTOP_DIR="$HOME"
XDG_TEMPLATES_DIR="$HOME"
XDG_PUBLICSHARE_DIR="$HOME"

Baris ini terlihat ada yang mengganjal.

1
XDG_DESKTOP_DIR="$HOME"

Buat folder baru dengan nama “desktop” pada direktori home.

Ubah baris yang mengganjal tadi jadi seperti ini.

1
XDG_DESKTOP_DIR="$HOME/desktop"

Simpan perubahan, dan akhirnya directory Desktop berubah tidak menjadi directory Home lagi.

Wow, Akhirnya Ada Rilis Terbaru dari CrunchBang

Monday 28 November 2011 | Comment (1)

Setelah vakum sekian lama semenjak rilis sebelumnya di bulan Februari 2011, kini CrunchBang Statler rilis teranyar (27 Nov 2011) siap diunduh. Salah satu distro GNU/Linux favorit saya dengan antar muka Windows Manager Openbox berbasis Debian GNU/Linux. Bagi Anda yang doyan sesuatu yang “cepat” dan “halus”, distro ini jelas untuk Anda.

Kurang lebih satu jam lagi distro ini selesai diunduh. Selanjutnya tinggal membuat bootable OS menggunakan USB dan melakukan instalasi pada PC saya. Sangat direkomendasikan untuk penggunaan laptop karena terbukti lebih irit sumber daya ketimbang Mint 9 LXDE (Lucid Based).

download crunchbang

Yang membuat saya semakin penasaran adalah, developernya mengklaim bahwa rilis Statler kali ini lebih cepat ketimbang edisi sebelumnya. Fasilitas manajer login grafis GDM diganti SLiM yang jelas jauh lebih ringan. Begitu juga dengan aplikasi Plymouth yang ikut dibuang (fasilitas graphical boot loader).

Detil rilis terbaru kali ini.

  • Menggunakan Openbox terbaru (3.5).
  • Kembali ke Firefox 8, daripada Chrome 9 (yai).
  • Opsi instalasi LibreOffice (sebelumnya OpenOffice).
  • Editor Geany yang standalone, ketimbang Gedit yg membutuhkan library Gnome 3.
  • Support network browser, dengan file manager Thunar dan Gigolo.
  • OS yang lebih bersih setelah instalasi dengan membuang paket-paket pada mode live.

Selengkapnya bisa diintip2 di mari.

Autostart Jupiter Applet on Openbox

Sunday 13 November 2011 | post a comment

Iseng-iseng memasang Openbox di Ubuntu Lucid Lynx dengan membuang semua paket Gnome demi kebutuhan distro Ubuntu super kencang. Hampir semua paket Gnome ikut terbuang, seperti totem atau paket-paket pada instalasi awal dan hasilnya layar blank (kernel panic) begitu komputer dinyalakan. Komputer dipaksa masuk lewat opsi repair dan menjalankan perintah “startx”, dan solusi untuk memperbaikinya ternyata menginstall gnome-session-manager.

Windows manager Openbox yang diberikan masih benar-benar apa adanya, tanpa panel dan wallpaper. Menu klik kanan di desktop masih berfungsi. Setelah menginstall tint2 panel dan nitrogen wallpaper management, ternyata paket Jupiter yang telah diinstall pada instalasi awal belum berjalan. Jupiter sendiri menggunakan mono (software untuk menjalankan program Windows di Linux), jadi cara menjalankannya tidak seperti biasa.

jupiter

Setelah sedikit eksperimen dan buka-buka Google, command untuk menjalankan Jupiter adalah:

1
mono /usr/bin/jupiter.exe

Selanjutnya tinggal masukkan command tersebut pada file autostart Openbox di directory:

1
/home/YOUR-USERNAME/.config/openbox

Beri delay 3 atau 5 detik sebelum dijalankan sehingga tidak bentrok dengan tint2 panel.

1
2
## Start Jupiter
(sleep 3s && mono /usr/bin/jupiter.exe) &

PS:
Jupiter sendiri merupakan aplikasi power manager yang lebih terintegrasi ketimbang Gnome Power Manager. Sangat berguna untuk mengurangi konsumsi daya laptop yang berlebihan.

Mint Menggeser Ubuntu di Distrowatch

Wednesday 9 November 2011 | Comments (2)

distrowatch-rank

Sudah lama tidak mampir ke situs sumber informasi berbagai distro GNU/Linux Distrowatch, kaget juga ternyata peringkat Ubuntu sudah digeser oleh Distro Linux Mint. Sebenarnya hal ini sudah banyak diprediksi oleh para pencinta dunia FLOS, terkait dengan perubahan interface yang diusung oleh Ubuntu itu sendiri.

Pasca-rilis LTS Lucid Lynx, rilis Ubuntu selanjutnya kini melepas interface Gnome lama sebagai tampilan desktop dan beralih ke Unity. Sekarang bergeser lagi ke Gnome Shell dan menyediakan opsi untuk menginstall Gnome3 dari repository. Ubuntu yang baru memang Indah, tapi hal ini tentunya menyulitkan para pengguna dengan tipe “established”.

Alternatif untuk Gnome2, pengguna biasanya beralih ke XFCE dengan tampilan yang mendekati Gnome2. Interface LXDE juga bisa menjadi pilihan dengan core Openbox yang dikenal sangat ringan. Pencinta Ubuntu bisa mencoba Xubuntu atau Lubuntu yang semakin populer.

Fenomena ini mungkin sama ketika KDE 4 pertama kali diluncurkan, mengganti KD3 dengan tampilan desktop plasma yang mengubah interface KDE secara fundamental. KDE3 kini berubah menjadi Trinity Desktop Environment, dan masih terus di-maintain sampai sekarang.

Saat itu orang begitu alergi dengan KDE4, desktop yang berat, file manager yang rumit (Dolphin), dan sebagainya. Namun kini KDE4 secara mantap diterima sebagai desktop manager moderen dan canggih serta menjadi tampilan default berbagai distro populer, seperti OpenSuSE dan Mandriva.

Kira-kira, untuk rilis Ubuntu LTS edisi mendatang (12.04), Apakah Ubuntu masih berani mengusung tampilan barunya? Mint sendiri berhasil menyalip Ubuntu setelah bertahun-tahun merajai peringkat di Distrowatch dengan mengusung kesederhanaan ala Gnome2 dan fleksibilitas memberikan file-file non-free.

 

Sistem Operasi Idle Cuma 60MB dan Processor Usage 1%

Sunday 10 July 2011 | Comments (13)

Postingan dokumentasi pribadi, repost atau nubitol dijamin

Setelah membeli batere baru buat si COMPAQ, dimana batre ngedrop setelah masa penggunaan 1 tahun membuat saya berpikir berbagai cara untuk membuat batre jadi lebih lama. Sebelumnya sudah bereksperimen distro mana yang paling irit batre, secara tidak sengaja saya menemukan racikan Debian yang lebih irit sumber daya lagi (memori + prosesor).

Btw ini ringan bukan OS model-model mesin server yang hanya berbasis teks, tapi OS dengan tampilan dan menu yang memudahkan penggunanya berinteraksi dengan komputer, walaupun agak-agak janggal :-p

Pertama, download Crunchbang 10 XFCE edition (based on Debian Squeeze) di sini (torrent) dan install di komputer Anda. Pada kasus saya, Instalasi dual boot memang mendeteksi adanya sistem operasi Windows. Namun ketika direstart, OS Windows tidak ada di pilihan menu start awal (kalau Ubuntu mungkin lancar jaya). Solusinya bisa dilihat di sini.

Selanjutnya pengaturan mirror, saya mengambil dari mirror Debian ITS atau mirror lokal lain mana saja kesukaan Anda. Jalankan terminal dan ketik:
sudo gedit /etc/apt/sources.list

Berikut ini penjelasan dari syntax di atas
- sudo merupakan cara kita memperoleh hak admin
- gedit merupakan teks editor berbasis visual bawaan gnome
- /etc/apt/sources.list merupakan lokasi dan file konfigurasi repo

Begitu Anda menekan [Enter], akan muncul konfirmasi untuk memasukkan password root. Masukkan password root saat pertama kali Anda menginstall. Tekan [Enter] kembali, selanjutnya akan muncul file teks yang terbuka berisi konfigurasi repository yang ada di OS kita.

Selanjutnya tambahkan alamat repo.
deb http://mirror.its.ac.id/debian/ squeeze main contrib non-free

Berikut ini isi lengkap list repo saya. Alamat repository bawaan Crunchbang bisa di-disable dengan diberikan komentar #
## CRUNCHBANG
## Compatible with Debian Squeeze, but use at your own risk.
# deb http://packages.crunchbanglinux.org/statler statler main

## DEBIAN
deb http://mirror.its.ac.id/debian/ squeeze main contrib non-free
# deb-src http://ftp.de.debian.org/debian/ squeeze main contrib non-free

## DEBIAN SECURITY
deb http://security.debian.org/ squeeze/updates main
# deb-src http://security.debian.org/ squeeze/updates main

## DEBIAN BACKPORTS
deb http://backports.debian.org/debian-backports squeeze-backports main contrib non-free

Setelah disimpan, tutup file tersebut dan update sumber agar perubahan dikenali melalui syntax berikut.
sudo apt-get update

Sampai di sini alamat repository telah berubah di alamat lokal. Save bandwidth dan transfer file yang lebih cepat.

Selanjutnya pasang windows manager Openbox
sudo apt-get install openbox

Restart komputer Anda dan Session bisa dipilih saat pertama kali login, mau masuk XFCE atau Openbox. Pilih Openbox dan buat menjadi permanen. Anda akan mendapatkan Debian dengan resource sumber daya prosesor dan memory yang sangat rendah. Prosesor dan RAM pada kondisi idle hanya terpakai 1% dan memory total 62MB-an.

Sampai di sini mungkin muncul pertanyaan. Kenapa ngga download yang Crunchbang 10 Openbox aja sekalian dari awal? Well saya sudah terlebih dahulu mencoba versi Openbox, dan memory yang dihabiskan bisa mencapai 84MB. Masih lebih besar 20MB dari racikan ala saya. Dengan ukuran ISO yang sama-sama 700MB-an, mendownload Crunchbang versi XFCE masih terbilang lumayan. paket Openbox yang didownload pun tidak lebih dari 15MB.

conky

Kenapa “yang official” bisa lebih besar, sementara cara di atas tidak? Well Openbox racikan ala saya tidak dipasang program yang memanajemen Wallpaper yang ada di desktop, dan mungkin beberapa servis yang tidak dipasang, seperti daemon yang mengatur shortcut [Alt] + [F2] untuk menjalankan program dan tombol logout tidak aktif dll (I’m not a coder anyway T_T).

PS:

  • Setelah upgrade (versi 6.0.2) Crunchbang berubah total cita rasanya jadi murni Debian
  • berhubung menu logout ga bisa, shutdown bisa via terminal dengan mengetik:
    sudo halt