Stupid Election Ads

Saturday 17 January 2009 | Comments (9)

Many election ads nowadays can be seen on TV. Honestly, I don’t have any problem with those ads. I’m tolerating it because the election season getting close. But, the show frequent of those ads on TV which getting insane everyday makes me remember those bullshit words (mention a little fact for all achievement, promises a lot, fake assumption, etc). Out of control of my brain, I can remember those words. Democracy isn’t always about general election.

Now I’m getting sick with it. I try to change the TV channel, I still found another election ads. Changing it again into another, I still find a new one. They were everywhere, spread into every channel TV. Yaiks.

pemilu

The main cause of my sickness is, the bullshit and rubbish of words which they use. It (the word) describing the TV audience as an idiot. I remember some ads sample, a woman saying “My father was bla.. bla… bla…” What’s the point? That was your father achieve mam, not yours?!?!? Another bullshit sample is by saying, “Our government was succeeded reduced the oil (premium) price for the prosperous of Indonesian people.” (off course that wasn’t the success of government increasing the economical stability or anything, that was because the oil price in global market was dropped). Or the very famous sentence, “Eat the food from Indonesian farmer.” Jeeezzzz

I hate those people? Not at all. I hate their liars. Deeming society as an idiot. Socialisasing it everywhere, non-stop. Make a new fake public opinion. But once again, the society wasn’t idiot.

Masih Mau Globalisasi?

Monday 8 September 2008 | Comments (34)

Mari kita puja ramai2 dan agung2kan. Dapat dikatakan bahwa ini adalah mekanisme sangat pas buat sekarang untuk dunia yang lebih baik. Ekspansi luas tak terhingga, eksplorasi dunia baru. Ini adalah zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ayo kita songsong globalisasi. Tidak ada batasan di sini. Berhenti merasa tabu. Jangan ketinggalan zaman!!!!! Mar….

(CUUUUUUTTTTTTTTT) Dan…

Tak ada lagi rasa toleransi, nilai-nilai kebersamaan, semangat gotong royong, dan keramahan khas Indonesia. Yang ada cuma individualisme yang mengedepankan budaya seks bebas, narkoba, dan konsumtif (Efek Rumah Kaca – Belanja Terus Sampai Mati).

Belum siap? Apa benar kita belum siap? Mental jelek orang Indonesia? Benarkah cuma soal mental? Arrgggghhhhh!!!!!! Memangnya siapa yang paling getol mendengung2kan konsep globalisasi? Jelas2 negara2 maju (barat) kan? Masyarakat superordinan yang meng-hegemoni (yang dikuasai setuju dan bahkan merasa harus) dunia sehingga kita merasa globalisasi adalah way of this era. Memandang globalisasi sebagai sesuatu yang perlu.

Ini bukan cuma persoalan mental dan bukan juga persoalan belum siap. Ini adalah soal penjajahan budaya, sekaligus implementasi dagang neo-kapitalisme (dulu produk yang dijual, sekarang budaya yang dijual). Ini adalah mekanisme penguasaan dan pendudukan atas kebebasan dan kedaulatan manusia secara individu. Kenapa gak liat Cina dan India yang bangga sama produk mereka sendiri? Bisa kita lihat kemajuan mereka sekarang seperti apa. Kini Cina dapat dikatakan sebagai kekuatan baru di dunia. Takut? Skeptis? Ah nggak kok. Cuma saya ngerasa rules2 globalisasi itu dari mereka2 yang superordinan aja. Bisa kita liat sekarang2 ini, biar kita bisa siap, kita malah asik menetek ke negara2 pengusung globalisasi tadi. Menjilat2 biar dikasi pinjaman tulang. Is an unfair game isn’t huh?

Gambar dari koran Republika 15 Agustus 2008

Teori Hegemoni

Monday 18 August 2008 | Comments (48)

Postingan ini merupakan postingan lanjutan, untuk melanjutkan keyword dari postingan kebijakan hegemoni di blog utchanovsky.com

Realitas terstruktur adalah teori yang cukup mengejutkan dari Louis Althusser, sekaligus kritik atas Marx yang menurutnya terlalu terpukau dengan klausul ekomoni sebagai faktor mekanisme terjadinya kekuasaan. Louis Althusser cukup berhasil menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk ideologi (ideologi di sini dalam arti negatif) disosialisasikan kepada masyarakat luas. Tapi, ada beberapa hal krusial yang membuat bagaimana mekanisme ideologi bisa tersebar luas dengan sangat efektif, yaitu teori hegemoni.

Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani, yaitu hegeishtai. Istilah tersebut berarti yang berarti memimpin, kepemimpinan, atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Konsep hegemoni menjadi ngetrend setelah digunakan sebagai penyebutan atas pemikiran Gramsci yang dipahami sebagai ide yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Adapun teori hegemoni yang dicetuskan Gramsci adalah:

Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.

Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa .

Dengan demikian mekanisme penguasaan masyarakat dominan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Sebagai contoh dalam situasi kenegaraan, upaya kelas dominan (pemerintah) untuk merekayasa kesadaran kelas bawah (masyarakat) adalah dengan melibatkan para intelektual dalam birokrasi pemerintah serta intervensi melalui lembaga-lembaga pendidikan dan seni.

John Storey menjelaskan konsep hegemoni untuk mengacu kepada proses sebagai berikut:

…sebuah kondisi proses di mana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan “kepemimpinan” moral dan intelektual. Hegemoni terjadi pada suatu masyarakat di mana terdapat tingkat konsensus yang tinggi dengan ukuran stabilitas sosial yang besar di mana kelas bawah dengan aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yang mengikat dan menyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada.

Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana kita bisa merasa rela saat ada orang lain membeli tanah sawah (tanah resapan), yang akan dibangun mall atau perumahan elit. Dan kita kayakngerasa lumrah ngomong gini: “Ya wajarlah dia punya duit”

Klik di sini untuk melihat bagaimana implementasi teori hegemoni

PS: Berdasarkan kejadian sebenarnya, ketika PT 5UMM4R3C0N kembali melebarkan tentakel-tentakel bisnisnya.

Mengapa Komunisme Dilarang

Monday 26 May 2008 | Comment (1)

Quote dari Lenin (komunis rusia)
The Dictatorship of the proletariat alone can emancipate humanity from the oppression of capital from the lies, falsehood and hypocrisy of bourgeois democracy – democracy for the rich – and establish democracy for the poor, that is, make the blessings of democracy really accessible to the workers and poor peasants whereas now (even in the most democratic-burgeois-republic) the blessings of democracy are, in fact, inaccessible to the vast majority of working people”

translate versi suka-suka
Kepemimpinan diktator dari kaum proletar saja yang dapat mengemansipasi manusia dari tekanan kapitalisme, yaitu kebohongan dan kemunafikan demokrasi burjois -demokrasi untuk orang kaya- dan menjamin demokrasi bagi orang miskin, yang tentunya (kediktatoran proletar) akan menjamin demokrasi yang sebenarnya untuk kaum pekerja dan petani miskin, dimana demokrasi (dalam negara burjois paling demokrasi sekalipun) tidak diberikan kepada seluruh masyarakat pekerja.

translate versi pemerintah di Suatu Negara (censored)
Rakyat jangan ribut dan jangan bikin gonjang-ganjing, kami sedang mengembangkan iklim investasi sehat bagi pemilik modal untuk membangun Indonesia. Rakyat sabar yah, kami sedang berusaha sekuat tenaga membangun negara. Agar urusan kami lancar, BBM mungkin dengan senang hati akan kami naikkan. Tidak apa2 kan?

translate versi pemilik modal
Bagi Anda yang kumuh dan jorok, akan saya usir dari daerah investasi, karena akan merusak mata dan pemandangan. Ini tentunya menjadi hambatan bagi kami, para pemilik modal. Ingat, saya hanya meminta hak2 saya berinvestasi saja. Camkan sekali lagi, saya sedang menjalankan kewajiban membangun Indonesia.

translate versi saya
Kini saya mengerti kenapa komunisme begitu dilarang di Indonesia.