July 3rd, 2008 utchanovsky
Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan saya sebelumnya di Sony VAIO (2)
Sebelumnya ada intruksi buat ngecek2 mana saja yang kurang dari lapie VAIO temen saya. Berhubung flashdisk saya sehari2 make memory card (saya agak2 trauma make flashdisk biasa), timbul keinginan untuk mencoba fasilitas built -in card reader di lapie tersebut.

Akhirnya saya keluarkan MMC mobile saya dari card reader, dan saya masukkan ke dalam card reader laptop VAIO. Saya kira sampai di sini gak ada masalah.
Tapi ternyata
, semua MMC mobile saya terbenam ke dalam card reader di laptop. Saya tidak bisa mengeluarkan lagi MMC mobile yg sudah saya masukkan. Ola la la dan ternyata, slot card reader di VAIO tersebut diperuntukkan untuk memory card jenis MMC, bukan MMC mobile. Ukuran MMC mobile adalah separuh dari MMC biasa. Untuk menggunakan MMC mobile ke perangkat MMC biasa, harus menggunakan ekstension khusus, sebagaimana gambar di bawah ini.

Jadi, otomatis MMC mobile saya tersangkut 
di card reader built-in lapie sony VAIO temen saya. Saya bener2 sudah pasrah dan (dipaksa) ikhlas membiarkan MMC mobile tersebut menjadi milik temen saya tadi.
Tapi perjuangan belum berakhir. Dengan berbekal pengalaman menonton film McGayver sewaktu kecil, dengan nekat saya colok2 slot card reader di laptop VAIO tersebut. Referensi menonton Mission Impossible juga turut berperan memberi ide menggunakan pin set. Ujung pinset sedikit dibengkokkan, kemudian dengan mengandalkan feeling dan keteguhan hati…

Setelah satu jam akhirnya MMC mobile saya berhasil dikeluarkan
<=== es jeruk.
-Selesai-

Posted in Did I Have a Story? | 20 Comments »
July 3rd, 2008 utchanovsky
Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan saya sebelumnya, ( Sony VAIO (1) )
…Logo ini adalah sumpah sekaligus pernyataan kebebasan dari penjajahan…
Tentu saja saya terus mengumpat selama kemunculan logo VISTA tadi (walau cuma dalam hati). Malu lha sama logo PeCeLinuxOS yang bersender anteng anggun terpasang di sidebar blog utchanovsky. Logo ini adalah sumpah, sekaligus merupakan pernyataan kebebasan dari penjajahan polisi yang rajin nyari2 kesempatan di bandara dan warnet kapitalis berduit (haiyah sebegitunya) .
Setelah masuk ke tampilan desktop, fokus segera tertuju pada pertanyaan teman saya sebelumnya, “kayaknya MS Excel-nya gak ada deh?”. Setelah mengutak-atik start menu VISTA yang melelahkan (saat itu diakses dengan touchpad dan memang melelahkan), ternyata MS Excel sudah terinstal namun shortcutnya belum ditampilkan di desktop. Segera saya klik kanan icon MS Excel dan klik send to desktop (create shortcut). Simsalabim lagi… persoalan selesai (user yg nanya nubie nih).
“Bu, ini udah Excel-nya.”
“Oh udah ya, makasih yah.” Saya hanya senyum2 sedikit sambil menganggukkan kepala.
“Oh iya. Kamu jago kan komputernya, diliat2 dulu yah laptopnya gimana. Kalo ada yang kurang2 tambahin aja.”
“Iya Bu” (sssettt, jago dari hongkong) Teman saya yang saya panggil Ibu tadi akhirnya meninggalkan saya sendirian.
Saya liat spesifikasi hardwarenya, ternyata lapie ini sudah tersemat prosesor Core2Duo dengan memory 1GB. Saya liat2 lagi fisiknya dengan mengangkat2nya ke atas (keliatan kayak orang udik waktu itu). Wah ternyata slot USB-nya banyak juga. Agak ke kiri sedikit, ternyata tersedia slot buat card reader. Nah dari sini lah prahara itu bermula.

… bersambung

Posted in Did I Have a Story? | 4 Comments »
July 3rd, 2008 utchanovsky
Pagi itu hari begitu cerah. Udara memang agak panas, tapi nggak begitu menyengat terasa di kulit. Jalanan entah kenapa tidak begitu padat. Alunan kicauan burung gereja menambah syahdu suasana nyanyian dalam hati di sepanjang jalan menuju kantor. Singkat kata, hari itu adalah hari yang sempurna untuk memulai berbagai jenis aktivitas.
Sesampainya di tempat kerja, saya menyempatkan diri membuat teh hangat. Sangat pas untuk membasahi tenggorokan yang masih serak karena dipaksa bangun pagi (doh). Sambil menatap kosong langit di kejauhan dengan menyeruput teh hangat, suasana tambah nikmat dengan sebatang rokok Djarum Super.
Di saat itulah, teman saya datang sambil menjinjing tas lebar. Saya mengira-ngira sepertinya dia membawa laptop, sebuah laptop baru.
“Wuidih… baaru nih.”
“Ah enggak, minjem kok”
“Eh kamu ngerti komputer kan?” Saya ngangguk2 dikit.
“Kenapa bu”
“Ini, laptopnya kayaknya gak ada excelnya deh.” Sambil berkata itu, dia mengeluarkan laptop barunya.
Dan ternyata, sony VAIO baru layar lebar yang masih mulus dan licin
. Dalam hati saya ngomong, lha minjem kok masi mulus.

Akhirnya saya coba pencet tombol power untuk melihat jeroan si VAIO, dan ough… Tidak ada reaksi sama sekali. Sempat agak panik ini ada apa. Ternyata memang lapie ini sama sekali belum di-charge alias masih bener2 perawan (dah jelas bo’ongnya bilang dipinjemin). Saya mengambil charger di dalam tasnya, dan menyolokannya ke stop kontak.
Saya tekan kembali tombol power dan… Simsalabim. Logo Vista SUCKS nongol ke permukaan beberapa detik secara congkak memamerkan dirinya. Selama beberapa detik itu pula saya terus mengumpat dalam hati.
… bersambung

Posted in Did I Have a Story? | 5 Comments »