Tentang Sholat

Friday 2 May 2008
Posted in: Religius

Baru-baru ini saya mencoba kembali membuat puisi. Suatu hal yang cukup lama tidak saya lakukan sejak saya masih kuliah. Entah kenapa ada semacam kerinduan ingin melakukan aktivitas itu.

Mungkin setelah kejadian meninggalnya bapak, sisi batin saya bergejolak hebat ingin memaparkan sesuatu.

Setelah membuat 3 buah puisi, ada semacam mekanisme perasaan puas yang benar-benar meluap dan muncul seketika di dalam diri saya. Saya sendiri tidak pernah mengerti mengapa bisa sampai sebegitunya, padahal dulu ketika kuliah saya sering merasakan ini. Saya seolah lupa kalau letupan pelepasan rasa di batin itu begitu nikmat.

Yang cukup saya sesalkan, kenapa dalam tahap sholat, saya belum bisa sampai ke level benar-benar puas tersebut. Ada tebersit dalam pemikiran saya bahwa ketika saya sholat, saya sedang tidak benar-benar membangun perasaan menghamba kepada-Nya, sehingga saya benar-benar merasa hanya menuntaskan kewajiban. Sampai saat ini, saya belum bisa mencapai level rutinitas sholat adalah sebuah kenikmatan (duh), dan (mungkin) baru bisa menikmati rutinitas sholat.

Saya coba kembali me-review isi hati saya dan mencoba mengingat-ingat kembali permasalahan yang ada.

Sepertinya, saya terlalu banyak tertawa.

You might also enjoying this post.