Tersaji Setiap Hari

Tuesday 6 May 2008
Posted in: Puisi

Apakah keheningan ini yang merambat pelan di pori-pori otak sehingga nalar seolah mati dan tak bisa bergerak melawan serangan bertubi-tubinya waktu sehingga kadang kita tersungkur di sela-sela arung kehidupan mengingat kembali semua ekstrem de javu yang mengukir kita jadi manusia langit yang tak pernah pergi ke langit, sementara hidup adalah hamparan tanah kotor yang di dalamnya adalah darah-darah dan nanah-nanah yang ironisnya justru berabad-abad menyokong negeri langit????

Apakah kita masih mencari mentari manakala sepi merindukan sunyi dalam gelap yang benar-benar pekat dan kita memang membutuhkan gelap agar bisa menari-nari sepuasnya setiap hari agar perasaan sepi segera mati namun tak pernah mati hingga bahkan terlahir kembali sampai kita merasa jengah sendiri

Kita coba memaksa tubuh kita untuk terus berlari menghindari kepahitan dan kengerian dan melupakannya dengan berusaha keras untuk bisa ke negeri langit setengah mati, namun menghindari paradoks-paradoks kenyataan bahwa berlari bisa berarti mengejar kepahitan dan kengerian yang senantiasa tersaji di meja makan setiap hari

02-05-08

You might also enjoying this post.