Lagu Efek Rumah Kaca yang Paling Nyetrum

Thursday 13 November 2008
Posted in: Did I Have a Story?

Bukan lagu cinta melulu, tapi ada satu lagi lagu yang racunnya kena banget. Apalagi kalo lagu ini disimak pas malam hari yang hening, efeknya bisa sangat mengerikan. Tidak dianjurkan buat mereka yang lagi mengalami fase-fase gak kuat iman. Bisa-bisa minum baygon dengan senang hati.

Heran juga saya, orang2 edan mana yang bisa buat lagu yang bisa nyuruh kita minum baygon secara sukarela. (Hehehe, didramatisir). Bukan karena benci hidup atau despert, tapi menerima suram sebagai sebuah kebahagiaan. Lebih dari sekedar mati rasa, tapi ngebalikin persepsi dari default setting.

Balik lagi ke omongannya Althusser. Default are construction, so anything can be default. You can always construct your own default setting as long as you have power and money. I’ll give an example which you can see on this question: “Are my dark face skin (sawo mateng) looks dirty to you? What if I say that your white face looks like my butt color skin (because both of them were same white and same protected from UV light)?”

Pyuhhh, out of control. I don’t intend to be rude. Maaf. Sepertinya saya kehabisan ruang buat berteriak dan sebagian bocor di sini. Berikut liriknya. Efeknya gak bakal terasa kalo ga sambil dengerin malem2, dan musti sendirian.

Efek Rumah Kaca – Melankolia

Tersungkur di sisa malam
Kosong dan rendah gairah

Puisi yang romantik
Menetes dari bibir

Murung itu sungguh indah
Melambatkan butir darah

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati

Click here to listen Efek Rumah Kaca’s musics in live streaming

Jangan lupa sempetin dengerin Di Udara yang didedikasikan buat almarhum Munir. Officialy writed on their blog. Enough for the D’Massive, The Plagiator, from now on, cape gw.

PS:
Mau maki2 dan berbicara kasar aja musti pake kedok review lagu segala. Maaf atas postingan gak guna ini.

You might also enjoying this post.