Lagi-lagi Trik Nipu di Social Media

Thursday 23 June 2011
Posted in: Did I Have a Story?

Saya tidak suka twitter karena sudah terlanjut lebih mengenal terlebih dahulu layanan microblogging lain, yakni Plurk. Tapi saya sepertinya tidak bisa menolak ketika Twitter kian menggejala dan menjadi mainstream, terutama di dunia website dan internet. Tiap orang memasang time line twit mereka di sidebar, memasang tombol twit this post, dsb. Seiring dengan penggunanya yang menjamur, Twitter menjelma menjadi sarana promosi yang efektif di kalangan para netter dan surfer.

Bermula di aktivitas harian membuka email. Ada salah satu pesan yang dikirim oleh Twitter yang menyatakan bahwa si @anu telah mem-follow akun Twiter-twiteran @saya. Segera saya cek profil twitter si anu tersebut, dan ternyata memang banyak berisi info-info seputar web development. Berhubung niat saya baik, dan mungkin saja saya memperoleh pembelajaran dari twit yang bersangkutan, segera saya follow kembali si anu tersebut.

follow twitter

Mungkin saja yang bersangkutan cuma berniat promosi atau apalah. Dari saya pribadi juga tidak masalah, karena apa yg dipromosikan memang sesuatu yang saya sukai. Segera saya sambangi halaman twit yang bersangkutan, dan follower-nya sudah sampai 4000rb-an, sementara following-nya sudah 900rb-an. Dari sini timbul pertanyaan dalam hati saya, kenapa jumlahnya bisa jomplang gitu?, Kenapa saya bisa termasuk dalam 900-an orang yg di-follow sama si anu?

Berhubung follower saya sedikit, dapat dengan mudah saya cek nama si @anu di akun twitter saya, wow ternyata saya sudah di-unfollow oleh dia. Penipuan dengan model berpura-pura mem-follow orang lain dengan asumsi bakalan di-follow balik oleh orang lain tersebut, setelah itu yang bersangkutan meng-unfollow lagi. Model-model kasus tukeran link di blogroll, habis itu di-remove lagi (yg main SEO mungkin paham soal ini). Akhirnya saya unfollow juga, dah hilang respect saya.

You might also enjoying this post.