Hari 03 #30HariBercerita

Posted on: Tuesday 15 January 2019 | Category: Did I Have a Story? | post comment

Tulisan ini adalah seri ketiga, setelah sebelum-sebelumnya saya harus banyak beristirahat karena diare hebat yang sukses membuat saya lemah tak berdaya (halah  😆  ). Untungnya diare saya alami sejak hari Sabtu s.d. hari Senin, sehingga saya masih bisa lumayan istirahat selama dua hari.

Tulisan kali ini terkait dengan aktivitas di medsos. Jadi gini, sekolah tempat saya bekerja sering kedatangan guru tamu dari Jepang untuk beberapa bulan. Kebetulan sekolahan menjalin kerjasama dengan Japan Foundation, jadi pertukaran ini sudah sering terjadi, sejak tahun 2014 lalu.

Nah, untuk guru Jepang yang kali ini, sebut saja Mawar 😛 , dia mempunyai akun di Instagram. Sepertinya ia terkena bujukan para siswa Indonesia untuk membuat akun di Instagram, wkwk  :mrgreen: . Nah, sensei ini sering memanfaatkan untuk akun IG-nya untuk memosting berbagai aktivitas mengajarnya.

sensei nanaho instagram

Ada salah satu tulisan sensei yang menarik. Setelah jeda libur tahun baru, ia memutuskan memberi tugas kepada para siswa untuk membuat kartu ucapan tahun baru. Jadi siswa diberikan kartu dan mereka dibebaskan untuk membuat kreasi gambar-gambar di atas kertas itu.

Yang menarik adalah, Nanaho (nama sensei tersebut) keheranan dengan cara siswa Indonesia menggambar. Ia terkejut ketika melihat para siswa menggambar dengan memanfaatkan koin logam (untuk membuat lingkaran), bagian bawah pulpen (untuk membuat lingkaran yang lebih kecil), dan ponsel untuk membuat garis.

Dulu sering ada anekdot kalau otak orang Indonesia itu lebih bagus daripada otak orang Jepang dan Amerika. Alasannya, karena otak orang Indonesia lebih jarang dipakai ketimbang mereka 😆 . Tapi melihat kejadian di atas, sepertinya kita tidak perlu terus-menerus merasa inferior.

Kredit:
Google Translate <— tanpa dia aku apalah  🙄 

Hari 02 #30HariBercerita

Posted on: Saturday 12 January 2019 | Category: Did I Have a Story? | post comment

Okeh, harusnya kemarin saya meng-update tulisan di blog ini. Tapi, apa daya diri ini hanya insan biasa yang kebetulan harus mengalami diare. Walhasil, badan lemas luar biasa dan saya nyaris tidak bisa melakukan kegiatan apapun ( selain main Mobile Legend  😆 ).

Berhubung aktivitas saya hanya di tempat tidur saja, otomatis saya hanya bermain gadget. Namun, saya menemukan kutipan menarik dan sepertinya bisa menjadi cerita untuk hari kedua ini.

Berikut ini kutipannya:

Social media is training us to compare our lives instead of appreciating everything we are. No wonder why everyone is always depressed.

Media sosial melatih kita untuk membandingkan hidup kita (dengan orang lain), daripada menghargai apa yang kita miliki. Tidak heran setiap orang selalu mengalami depresi.

Berbagai kebahagiaan orang yang kita lihat di internet, jika kita menyikapinya dengan hal negatif, tentu akan melahirkan kecemburuan, rasa iri, dan keluhan  👿 .

sosmed is bad

Alhamdulillah saya sendiri tipikal orang yang skeptis, soal hal ini. Jadi, apapun kebahagiaan orang lain yang saya lihat di internet, saya anggap itu cuma kepalsuan. Wkwkwkwk. ( More … )

Hari 01 #30HariBercerita

Posted on: Friday 11 January 2019 | Category: Did I Have a Story? | post comment

Sepertinya sedang ramai penggunaan tagar #30HariBercerita di jejaring sosial Instagram. Di sana, mereka memosting foto, kemudian memberi tagar #30HariBercerita dan caption cerita yang agak panjang di bawahnya.

Intinya adalah, mereka bercerita selama 30 hari dan memostingnya di Instagram, disertai foto yang menunjang cerita tersebut. Tren ini pun mulai menjamur di kalangan selebgram ternama.

Awalnya saya biasa-biasa saja dengan tagar ini. Namun setelah beberapa teman kuliah ikut menulis dengan tagar ini, saya merasakan nostalgia kehidupan ala-ala sastra di masa itu.

Saya merasa kemampuan menulis saya mulai menurun karena saya sudah lama tidak menulis tema-tema personal. Sehari-hari, kebanyakan saya hanya menyadur berita teknologi di Indokreasi Network saja. Trend menulis ini menurut saya positif.

Jadi, saya memutuskan untuk memulai petualangan 30 hari menulis saya di sini. Yap, di blog ini, bukan di akun Instagram seperti orang kebanyakan. Di Instagram, banyak pengikut akun saya yang tidak terlalu dekat, namun harus saya terima permintaan mengikuti karena relasi profesional kerja (halah).

Saya merasa insecure jika harus menulis di sana. Jadi, saya akan ikut meramaikan tagar tersebut di blog pribadi saya. Tentu saja tiap orang bebas mengakses blog ini, malah lebih terbuka. Namun, siapa sih yang mau membuka blog “sepi” milik saya? 😆

Ini adalah tulisan hari pertama saya dengan tagar tersebut. Anggap saja sebagai permulaan. Sebagai penutup, saya ingin mengutip pepatah terkenal di internet: “The best place to hide a dead body is page 2 of Google search results“.

K-Meleon Ternyata Light Banget Bossqu

Posted on: Friday 21 December 2018 | Category: IT Anak Rumahan | post comment

Barusan dapet mesin laptop kuno yang minta di inul (install ulang) oleh pemiliknya. Ada rasa kangen dan nostalgia juga dengan OS ini. Mengingatkan zaman-zaman kuliah di mana data-data hilang karena virus dan aktivitas inul berulang. Wkwk.

Begitu dinyalakan, logo Windows XP dengan loading bar khasnya tampil, dan keadaan tersebut terus saja berulang-ulang. Mungkin kalau di smartphone, kita bisa bilang ini bootloop yah. Fix, sekalian saja di-inul biar lebih fresh.

Niat hati mau sekalian upgrade OS, paling nggak ke Seven atau apalah, ternyata saya dihadapkan pada kenyataan yang cukup pahit. Laptop ini hanya memiliki RAM sebesar 512MB (DDR1). Jauh lebih kecil dari smartphone yang banyak beredar sekarang.

Akhirnya, dilakukan inul ulang OS yang dilanjutkan dengan pemasangan berbagai perangkat lunak bajakan penunjang lainnya. Untuk persoalan antivirus, kita serahkan saja ke Smadav yang memang tidak membutuhkan resource tinggi.

Untuk browser, ternyata banyak browser yang sudah tidak mendukung OS ini lagi (Windows XP). Browser terkenal yang masih mendukung OS ini adalah Opera versi 3.6 (36.0.2130.80) dan sepertinya sudah lumayan modern karena sudah berbasis Webkit/Blink.

Setelah dipasang, wow beratnya bukan main. Tanpa membuka tab pun, aktivitas minimize/maximize browser terasa sangat berat. Aktivitas browsing sambil dengar lagu pun (via Foobar2000) jadi tidak enak. Saya merasa perlu melakukan riset di internet.

Sempat nyoba Basilisk (gecko dari Mozilla), wow dan ternyata ia malah lebih berat dari Opera (okeh ini subjektif sih, tapi kira-kira begitulah). Setelah Googling lagi, didapatlah nama K-meleon. Langsung saja saya unduh versi 76, versi stable yang dirilis tahun 2016 silam.

k-meleon

Begitu dicoba, beugh mantab bosque. Minimize windows dan switch antar-program lumayan lancar (Windows Explorer, Foobar2000, dan K-Meleon). Aktivitas browsing lumayan lancar, contohnya ketika saya beraktivitas memperbarui artikel di blog ini (WordPress 5.02).

Walau jadul (gecko tahun 2016) dan mendapat warning ketika membuka berbagai situs, K-Meleon tetap dapat memproses isi website. Sudah dicoba di situs Youtube dan Gmail yang dikenal dengan aktivitas javascript yang cukup intens, K-Meleon berjalan dengan sukses.

Apa sih Perbedaan Hidup di Jakarta Utara dan Selatan?

Posted on: Thursday 8 November 2018 | Category: Share | post comment

Nemu pertanyaan yang menarik di Quora. Sebagaimana sesuai judul pada tulisan ini, apa perbedaan hidup antara Jakarta Utara dan Selatan.

Berikut ini adalah jawaban dari salah seorang pengguna Quora (dengan domisili Jakarta Selatan), yang isinya memang menunjukkan sisi baik dari wilayah selatan ketimbang utara.

Dan jujur saya mengakui beberapa poin tersebut, sehubungan saya lahir dan besar di wilayah Jakarta Utara. Berikut adalah penjabarannya yang dipaparkan oleh pengguna Quora bernama Isyhari Maheswar.

  1. Air.
    Kualitas airnya di Jakarta Utara tidak sebagus di Jakarta Selatan. Mungkin karena Jakarta Utara terletak di dekat laut.
  2. Udara
    Entah itu karena geografis atau alasan lain, udara di Jakarta Utara dirasa lebih buruk. Hal ini juga pengaruh dari emisi truk-truk besar (Optimus Prime) dari pelabuhan di Jakarta Utara.

Sisi negatif dari kehidupan di Jakarta Selatan adalah,

  1. Mahal
    Baik untuk membeli atau menyewa rumah pribadi atau apartemen. Di Jakarta Utara, Anda dapat membeli apartemen apa pun mulai dari US $ 13.000 untuk jenis studio, sementara di Jakarta Selatan, Anda membutuhkan setidaknya US $ 46.000 untuk jenis yang sama.

Cek sendiri di sini untuk postingan yang bersangkutan:
https://www.quora.com/What-are-the-differences-between-living-in-North-Jakarta-and-South-Jakarta/answer/Isyhari-Maheswar