Konfigurasi Waktu Debian Linux Agar Selalu Sinkron ke Internet

Posted on: Thursday 4 April 2019 | Category: IT Anak Rumahan | post comment

Jika Anda tipikal orang yang malas memainkan terminal hanya untuk mengatur waktu pada PC dengan OS Debian Linux, berikut ini adalah cara termudah untuk mengatur waktu.

Intinya adalah, kita menyinkronkan konfigurasi waktu pada PC kita ke server penanggalan di internet. Adapun caranya adalah sebagai berikut:

Buka terminal dan ketikkan perintah
sudo timedatectl set-timezone Asia/Jakarta

Perintah ini akan menyinkronkan waktu ke internet. Namun, jika komputer digunakan dengan mode dualboot, konfigurasi waktu ini akan rusak jadi Anda harus menjalankan perintah sinkron tersebut lagi.

Cara berikutnya adalah gunakan aplikasi chrony. Aplikasi ini akan menyinkronkan waktu secara otomatis ke internet tiap kali komputer dinyalakan.
sudo apt-get install chrony

Paksa Pengunjung untuk Login/Registrasi di WordPress

Posted on: Sunday 3 March 2019 | Category: WebDev | post comment

Numpang dokumentasi, memaksa pengunjung situs berbasis WordPress untuk membuka halaman login web kita. Biasanya dipakai buat web yang memiliki content premium, dan mengharuskan pengunjung untuk melakukan registrasi terlebih dahulu.

Tambahkan script di bawah ke fungsi tema WordPress (function.php).

/* Start Force Login Function */
function v_getUrl() {
$url = isset( $_SERVER['HTTPS'] ) && 'on' === $_SERVER['HTTPS'] ? 'https' : 'http';
$url .= '://' . $_SERVER['SERVER_NAME'];
$url .= in_array( $_SERVER['SERVER_PORT'], array('80', '443') ) ? '' : ':' . $_SERVER['SERVER_PORT'];
$url .= $_SERVER['REQUEST_URI'];
return $url;
}
function v_forcelogin() {
if( !is_user_logged_in() ) {
$url = v_getUrl();
$whitelist = apply_filters('v_forcelogin_whitelist', array());
$redirect_url = apply_filters('v_forcelogin_redirect', $url);
if( preg_replace('/\?.*/', '', $url) != preg_replace('/\?.*/', '', wp_login_url()) && !in_array($url, $whitelist) ) {
wp_safe_redirect( wp_login_url( $redirect_url ), 302 ); exit();
}
}
}
add_action('init', 'v_forcelogin');
/* End Force Login Function */

Hari 02 #30HariBercerita

Posted on: Saturday 12 January 2019 | Category: Did I Have a Story? | post comment

Okeh, harusnya kemarin saya meng-update tulisan di blog ini. Tapi, apa daya diri ini hanya insan biasa yang kebetulan harus mengalami diare. Walhasil, badan lemas luar biasa dan saya nyaris tidak bisa melakukan kegiatan apapun ( selain main Mobile Legend  😆 ).

Berhubung aktivitas saya hanya di tempat tidur saja, otomatis saya hanya bermain gadget. Namun, saya menemukan kutipan menarik dan sepertinya bisa menjadi cerita untuk hari kedua ini.

Berikut ini kutipannya:

Social media is training us to compare our lives instead of appreciating everything we are. No wonder why everyone is always depressed.

Media sosial melatih kita untuk membandingkan hidup kita (dengan orang lain), daripada menghargai apa yang kita miliki. Tidak heran setiap orang selalu mengalami depresi.

Berbagai kebahagiaan orang yang kita lihat di internet, jika kita menyikapinya dengan hal negatif, tentu akan melahirkan kecemburuan, rasa iri, dan keluhan  👿 .

sosmed is bad

Alhamdulillah saya sendiri tipikal orang yang skeptis, soal hal ini. Jadi, apapun kebahagiaan orang lain yang saya lihat di internet, saya anggap itu cuma kepalsuan. Wkwkwkwk. ( More … )

Hari 01 #30HariBercerita

Posted on: Friday 11 January 2019 | Category: Did I Have a Story? | post comment

Sepertinya sedang ramai penggunaan tagar #30HariBercerita di jejaring sosial Instagram. Di sana, mereka memosting foto, kemudian memberi tagar #30HariBercerita dan caption cerita yang agak panjang di bawahnya.

Intinya adalah, mereka bercerita selama 30 hari dan memostingnya di Instagram, disertai foto yang menunjang cerita tersebut. Tren ini pun mulai menjamur di kalangan selebgram ternama.

Awalnya saya biasa-biasa saja dengan tagar ini. Namun setelah beberapa teman kuliah ikut menulis dengan tagar ini, saya merasakan nostalgia kehidupan ala-ala sastra di masa itu.

Saya merasa kemampuan menulis saya mulai menurun karena saya sudah lama tidak menulis tema-tema personal. Sehari-hari, kebanyakan saya hanya menyadur berita teknologi di Indokreasi Network saja. Trend menulis ini menurut saya positif.

Jadi, saya memutuskan untuk memulai petualangan 30 hari menulis saya di sini. Yap, di blog ini, bukan di akun Instagram seperti orang kebanyakan. Di Instagram, banyak pengikut akun saya yang tidak terlalu dekat, namun harus saya terima permintaan mengikuti karena relasi profesional kerja (halah).

Saya merasa insecure jika harus menulis di sana. Jadi, saya akan ikut meramaikan tagar tersebut di blog pribadi saya. Tentu saja tiap orang bebas mengakses blog ini, malah lebih terbuka. Namun, siapa sih yang mau membuka blog “sepi” milik saya? 😆

Ini adalah tulisan hari pertama saya dengan tagar tersebut. Anggap saja sebagai permulaan. Sebagai penutup, saya ingin mengutip pepatah terkenal di internet: “The best place to hide a dead body is page 2 of Google search results“.

K-Meleon Ternyata Light Banget Bossqu

Posted on: Friday 21 December 2018 | Category: IT Anak Rumahan | post comment

Barusan dapet mesin laptop kuno yang minta di inul (install ulang) oleh pemiliknya. Ada rasa kangen dan nostalgia juga dengan OS ini. Mengingatkan zaman-zaman kuliah di mana data-data hilang karena virus dan aktivitas inul berulang. Wkwk.

Begitu dinyalakan, logo Windows XP dengan loading bar khasnya tampil, dan keadaan tersebut terus saja berulang-ulang. Mungkin kalau di smartphone, kita bisa bilang ini bootloop yah. Fix, sekalian saja di-inul biar lebih fresh.

Niat hati mau sekalian upgrade OS, paling nggak ke Seven atau apalah, ternyata saya dihadapkan pada kenyataan yang cukup pahit. Laptop ini hanya memiliki RAM sebesar 512MB (DDR1). Jauh lebih kecil dari smartphone yang banyak beredar sekarang.

Akhirnya, dilakukan inul ulang OS yang dilanjutkan dengan pemasangan berbagai perangkat lunak bajakan penunjang lainnya. Untuk persoalan antivirus, kita serahkan saja ke Smadav yang memang tidak membutuhkan resource tinggi.

Untuk browser, ternyata banyak browser yang sudah tidak mendukung OS ini lagi (Windows XP). Browser terkenal yang masih mendukung OS ini adalah Opera versi 3.6 (36.0.2130.80) dan sepertinya sudah lumayan modern karena sudah berbasis Webkit/Blink.

Setelah dipasang, wow beratnya bukan main. Tanpa membuka tab pun, aktivitas minimize/maximize browser terasa sangat berat. Aktivitas browsing sambil dengar lagu pun (via Foobar2000) jadi tidak enak. Saya merasa perlu melakukan riset di internet.

Sempat nyoba Basilisk (gecko dari Mozilla), wow dan ternyata ia malah lebih berat dari Opera (okeh ini subjektif sih, tapi kira-kira begitulah). Setelah Googling lagi, didapatlah nama K-meleon. Langsung saja saya unduh versi 76, versi stable yang dirilis tahun 2016 silam.

k-meleon

Begitu dicoba, beugh mantab bosque. Minimize windows dan switch antar-program lumayan lancar (Windows Explorer, Foobar2000, dan K-Meleon). Aktivitas browsing lumayan lancar, contohnya ketika saya beraktivitas memperbarui artikel di blog ini (WordPress 5.02).

Walau jadul (gecko tahun 2016) dan mendapat warning ketika membuka berbagai situs, K-Meleon tetap dapat memproses isi website. Sudah dicoba di situs Youtube dan Gmail yang dikenal dengan aktivitas javascript yang cukup intens, K-Meleon berjalan dengan sukses.