Archive for the ‘IT Anak Rumahan’

Hasil Save File PPTS WPS Tidak Bisa Diedit di Google Docs

Sunday 29 March 2020 | post a comment

Situasi work from home (WFH) memaksa saya untuk memanfaatkan laptop jadul di rumah keluaran tahun 2009 (Dual Core dengan RAM 3GB). Bekerja di Windows dengan berbagai aplikasi web intens ternyata sangat berat.

Begitu coba di Linux (sisa-sisa dual boot tahun 2014), ternyata lumayan ringan. Di situlah aktivitas saya untuk bekerja di Linux jadi terus berlangsung (lagi). Berhubung distro (Crunchbang) yang dipakai tahun 2014, saya harus melakukan sedikit tweak dan pembaruan. ( More … )

Error Instalasi XDM pada Debian Linux

Tuesday 24 March 2020 | post a comment

Semua orang yang hobi download-download (ngunduh) di PC pasti suka banget pakai download manager XDM. Aplikasi ini memudahkan saya ketika mencari lagu di internet karena dia bisa langsung meng-convert video di Youtube jadi MP3.

Nah, berhubung situasi memaksa saya untuk kerja di rumah (istilahnya work from home), hal ini mendorong saya untuk mengoprek kembali Linux di laptop dualboot yang biasanya di-skip dan langsung masuk ke Windows. Haha  :mrgreen: ( More … )

Soal Playback Video di Opera Debian yang Sering Bermasalah

Tuesday 24 March 2020 | post a comment

Tulisan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan mengoprek Antix Linux saya (gara-gara WFH). Kali ini saya agak heran karena peramban (browser) Opera tidak dapat menjalankan video di situs-situs streaming video hohohihe / bajakan daring (online).

Setelah ditelusuri, hal ini berkaitan dengan persoalan legal di mana Opera tidak memiliki hak untuk mendistribusikan berkas pustaka libffmpeg.so. Soal lisensinya bisa baca-baca di sini.

Berkas pustaka tersebut memang gratis digunakan, tapi tidak boleh dipaket dengan perangkat lunak komersil (misal Opera). Walau begitu, pengguna akhir Opera dapat menggunakan berkas tersebut dengan mengunduhnya secara terpisah.

Unduh berkas libffmpeg.so di alamat berikut:
https://github.com/iteufel/nwjs-ffmpeg-prebuilt/releases

Setelah itu, ekstrak berkas di dalamnya. Kemudian salin ke direktori:
usr/lib/x86_64-linux-gnu/opera/

Tutup dan buka kembali peramban Opera. Silakan ujicoba membuka situs video daring.

Beberapa cara yang lain adalah menyalin berkas libffmpeg.so dari direktori chromium (jika Anda sudah menginstal Google Chrome).

Berikut ini adalah komentar dari salah seorang karyawan Opera:
opera employee

Icon Desktop XFCE Debian yang Selalu Berantakan

Wednesday 18 March 2020 | post a comment

Agak heran saya dengan distro Linux yang satu ini (Antix). Berbagai icon yang ada di desktop, meski sudah di-sort (urut), begitu PC di-restart ia akan berantakan lagi posisinya.

Jadi, aktivitas klik kanan di dekstop, trus klik “Arrange Desktop Icon” harus dilakukan berulang. Lumayan ngeribetin, apalagi jika Anda punya kecenderungan OCD yang cukup akut.

Beberapa solusi saya temukan di internet. Ada yang mengunci posisi icon sehingga tidak bisa digeser-geser. Mereka membuat script yang akan dijalankan secara otomatis ketika komputer dinyalakan.

Kalau saya secara pribadi, cuma ingin icon-icon tersortir dengan rapih saja.

Akhirnya saya menemukan solusi yang cukup mudah. Jalankan file manager (thunar) dan atur agar menampilkan file yang tersembunyi. Kemudian akses lokasi berikut.
/home/NAMA-USER-PC-ANDA/.config/xfce4/desktop/

desktop config XFCE

Di sana akan terdapat banyak berkas dengan ekstensi rc. Saya hapus semua berkas rc di dalamnya kecuali satu berkas dengan tanggal waktu terkini.

Tulisan dokumentasi pribadi, sumbernya ada di sini:
Manjaro Forum

K-Meleon Ternyata Light Banget Bossqu

Friday 21 December 2018 | post a comment

Barusan dapet mesin laptop kuno yang minta di inul (install ulang) oleh pemiliknya. Ada rasa kangen dan nostalgia juga dengan OS ini. Mengingatkan zaman-zaman kuliah di mana data-data hilang karena virus dan aktivitas inul berulang. Wkwk.

Begitu dinyalakan, logo Windows XP dengan loading bar khasnya tampil, dan keadaan tersebut terus saja berulang-ulang. Mungkin kalau di smartphone, kita bisa bilang ini bootloop yah. Fix, sekalian saja di-inul biar lebih fresh.

Niat hati mau sekalian upgrade OS, paling nggak ke Seven atau apalah, ternyata saya dihadapkan pada kenyataan yang cukup pahit. Laptop ini hanya memiliki RAM sebesar 512MB (DDR1). Jauh lebih kecil dari smartphone yang banyak beredar sekarang.

Akhirnya, dilakukan inul ulang OS yang dilanjutkan dengan pemasangan berbagai perangkat lunak bajakan penunjang lainnya. Untuk persoalan antivirus, kita serahkan saja ke Smadav yang memang tidak membutuhkan resource tinggi.

Untuk browser, ternyata banyak browser yang sudah tidak mendukung OS ini lagi (Windows XP). Browser terkenal yang masih mendukung OS ini adalah Opera versi 3.6 (36.0.2130.80) dan sepertinya sudah lumayan modern karena sudah berbasis Webkit/Blink.

Setelah dipasang, wow beratnya bukan main. Tanpa membuka tab pun, aktivitas minimize/maximize browser terasa sangat berat. Aktivitas browsing sambil dengar lagu pun (via Foobar2000) jadi tidak enak. Saya merasa perlu melakukan riset di internet.

Sempat nyoba Basilisk (gecko dari Mozilla), wow dan ternyata ia malah lebih berat dari Opera (okeh ini subjektif sih, tapi kira-kira begitulah). Setelah Googling lagi, didapatlah nama K-meleon. Langsung saja saya unduh versi 76, versi stable yang dirilis tahun 2016 silam.

k-meleon

Begitu dicoba, beugh mantab bosque. Minimize windows dan switch antar-program lumayan lancar (Windows Explorer, Foobar2000, dan K-Meleon). Aktivitas browsing lumayan lancar, contohnya ketika saya beraktivitas memperbarui artikel di blog ini (WordPress 5.02).

Walau jadul (gecko tahun 2016) dan mendapat warning ketika membuka berbagai situs, K-Meleon tetap dapat memproses isi website. Sudah dicoba di situs Youtube dan Gmail yang dikenal dengan aktivitas javascript yang cukup intens, K-Meleon berjalan dengan sukses.