Archive for the ‘Puisi’

Old Stories…!!!

Sunday 14 December 2008 | post a comment

Misalnya kita tahu apa yang berada di balik awan… Awan pergi seiring berlalunya waktu,  seandainya kita tahu apa yang berada di baliknya, manakala ia berarak menjauhi… A.I.R MatA seketika menjadi jawaban Kita semakin sepi bisikmu. Kalau boleh jawab pasti teruntai dalam nada L-I-R-I-H… mungkin tidak ada yang perlu dijawab karena memang tidak pernah ada pertanyaan […]

Setiap Hari

Wednesday 19 November 2008 | post a comment

Setiap hari by Uchan Mungkin sarang laba-laba yang menghiasi dinding ini adalah bentuk konkret jawaban akan sepi-sepi yang selama ini memadati relung hati Ribuan sumpah serapah biarlah terburai mengutuk kotornya dinding ini, karena kau tak tahu mekanisme mengapa terciptanya musti di pojokan -Seperti zamrud yang ada di matamu, mutiara di mulutmu, dan rona perak di […]

Mood Ancur

Thursday 17 July 2008 | post a comment

Dulu saya sempet bongkar diary mpok saya (masih muda waktu itu, agak2 khilaf emang), n nemuin puisi dia yang sampe sekarang masih ngebekas banget di hati. Kita diajar mencari agar kelak menjadi mentari kita diajak untuk sepi-sepi supaya hati tahu kadang tak bisa memiliki Kalo baca ini serasa lagi sendirian di pinggir pantai ngeliatin laut […]

Fitrahnya

Thursday 19 June 2008 | post a comment

Fitrahnya (1) Tiba-tiba kesenyapan menyelimuti, merayapi tubuhku pelan-pelan. Aku ingin bicara, tapi tak ada wacana yang mengalir. Aku merasa menangis, tapi tak ada air mata yang teruntai. Aku mencari suaramu, hanya ada bening keheningan. Saat ku kembali tersadar bahwa aku hanyalah sebuah pohon. (2) Matahari yang terbenam, ketika kumenatapmu, kau adalah seekor burung mungil yang […]

Coffee Shoop

Thursday 19 June 2008 | post a comment

Ah…, Pahit kau sajikan di meja kulihat kemuramdurjaan itu menatap kosong memantulkan bayangan tubuh-tubuh telanjang, tak berkelamin Tertawa aneh, tersenyum sinis, menyerocos tak karuan Asapmu membumbung harum manis, manakala kuhirup pelan-pelan terselimuti hitam konyol Ku letakkan kembali cawanku ah…, waktu membunuhku Tertawa pelan-pelan, iblis beranjak pergi untuk ke sekian kali aku merasa dibodohi