Archive for the ‘Puisi’

Coffee Shoop

Thursday 19 June 2008 | post a comment

Ah…, Pahit kau sajikan di meja

kulihat kemuramdurjaan itu menatap kosong

memantulkan bayangan tubuh-tubuh telanjang, tak berkelamin

Tertawa aneh, tersenyum sinis, menyerocos tak karuan

Asapmu membumbung harum

manis, manakala kuhirup pelan-pelan

terselimuti hitam konyol

Ku letakkan kembali cawanku

ah…, waktu membunuhku

Tertawa pelan-pelan, iblis beranjak pergi

untuk ke sekian kali

aku merasa dibodohi

Memangnya Kenapa

Thursday 19 June 2008 | post a comment

Mungkin ini hening, sebab tak ada aliran udara di sekeliling yang menyapa kita. Kita pun membatu seperti tersihir tak ingin utarakan semua uneg-uneg di dalam, padahal ia setiap saat mendesak-desak keluar ingin meledak.Memangnya kenapa dengan hening?

Mungkin ini gelap, sebab tak ada berkas cahaya yang membelah semesta buta. Kita pun bingung, tak tahu arah, padahal jalan lurus yang kita cari begitu jauh, bahkan belum bisa dibayangkan akan seperti apa jalan yang kita cari. Memangnya kenapa dengan gelap?

Mungkin ini api, sebab tak ada kesejukan yang memadamkan amarah hasrat yang tak terwujud, kita pun meledak jadi letupan lahar, padahal alam kita butuh kucuran hujan dan bara-bara prasangka harus dipadamkan. Memangnya kenapa dengan api?

Sebab nalar tak berjalan, akal sehat seolah mati, hingga hening membuat kita diam, gelap membuat kita tak tahu arah, dan api membakar kita. Tanda tanya semakin besar, sementara kita butuh jawaban

Mengerti

Tuesday 6 May 2008 | post a comment

Mudah-mudahan justifikasi yang saya lakukan, semisal mengatakan Anda babi, tidak Anda mengerti

02-05-08

Tersaji Setiap Hari

Tuesday 6 May 2008 | post a comment

Apakah keheningan ini yang merambat pelan di pori-pori otak sehingga nalar seolah mati dan tak bisa bergerak melawan serangan bertubi-tubinya waktu sehingga kadang kita tersungkur di sela-sela arung kehidupan mengingat kembali semua ekstrem de javu yang mengukir kita jadi manusia langit yang tak pernah pergi ke langit, sementara hidup adalah hamparan tanah kotor yang di dalamnya adalah darah-darah dan nanah-nanah yang ironisnya justru berabad-abad menyokong negeri langit????

Apakah kita masih mencari mentari manakala sepi merindukan sunyi dalam gelap yang benar-benar pekat dan kita memang membutuhkan gelap agar bisa menari-nari sepuasnya setiap hari agar perasaan sepi segera mati namun tak pernah mati hingga bahkan terlahir kembali sampai kita merasa jengah sendiri

Kita coba memaksa tubuh kita untuk terus berlari menghindari kepahitan dan kengerian dan melupakannya dengan berusaha keras untuk bisa ke negeri langit setengah mati, namun menghindari paradoks-paradoks kenyataan bahwa berlari bisa berarti mengejar kepahitan dan kengerian yang senantiasa tersaji di meja makan setiap hari

02-05-08

Saya Mati

Tuesday 6 May 2008 | post a comment

Saya menangis terbahak-bahak di depan pusara jasad saya sendiri setelah ditikam terang-terangan oleh waktu

Menikmati sajian galau yang dicolok-colokan ke nalar di kepala adalah kenikmatan tersendiri setelah mati

Kini penantian menjelma jadi butir hujan di langit, basahi tanah hati yang kering di sini dan sesungguhnya saya masih mencari

Pengertian tidaklah sesulit bom atom atau ketika bernegosiasi dengan mucikari kala cekak,

dan setelah sekian lama…

hasilnya adalah keberanian bernurani

Saya rasa saya tidak pernah benar-benar mati

02-05-08