Archive for the ‘Serius (Terlalu!)’

Soal Program Kartu Pra-kerja di Masa Pandemik Covid-19

Wednesday 22 April 2020 | Comments (2)

Pemerintah baru-baru ini meluncurkan program Kartu Pra-pekerja di tengah kondisi pandemik Covid-19. Program tersebut adalah pengucuran uang (non-tunai) yang dialokasikan untuk berbagai “start-up”, dalam bentuk kursus-kurus.

Program ini menurut saya sangat tidak tepat. Alasan utamanya adalah jumlah pengangguran yang kian meningkat sekarang justru diisi oleh para skilled labor. Mereka menjadi korban PHK karena kebijakan social distance sehubungan pandemik tadi.

kartu prakerja

Nah, para skilled labor ini jelas tidak butuh pelatihan-pelatihan seperti ini. Uang sebaiknya dialokasikan untuk distribusi bansos atau kegiatan padat karya yang tetap mengacu pada mekanisme PSBB bagi para karyawan yang dirumahkan tadi. ( More … )

Hari Gini Indosat Masih Doyan Nyedot Pulsa Ajah

Wednesday 7 March 2018 | Comments (2)

Inet zaman sekarang merupakan kebutuhan? Jelas. Makanya di rumah saya pasang provider kabel fiber berlangganan. Ketika di kantor pun saya memanfaatkan fasilitas WiFi kantor, sehingga kebutuhan internet saya selalu tercukupi (halah :mrgreen: ).

Nah, bagaimana jika saya sedang tidak di kantor dan tidak di rumah? Pertanyaan ini mungkin terkait dengan judul postingan saya di atas. Namun saya pastikan bahwa saya tidak menggunakan fasilitas internet provider Indosat (dulu hanya sekali kalau mau dihitung2).

Bagaimana provider Indosat bisa menyedot pulsa saya? Entalah. Saya menggunakan smartphone dengan trend kekinian yang menggunakan fasilitas dual SIM. SIM Indosat untuk nomor utama saya, dan SIM satunya lagi untuk berinternet.

Jika saya harus menggunakan pulsa Indosat, maka itu cuma untuk menelepon dan ini bisa dibilang sangat jarang dan dengan durasi yang pendek-pendek. Saya berani jamin soal penggunaan pulsa ini, suer dah.

Nomor Indosat tiap bulan hanya diisi Pulsa Rp25.000 untuk menjaga agar nomor tersebut tetap aktif. Dan setahu saya, saldo pulsa sempat mencapai seratus ribu-an. Suatu ketika saya iseng-iseng cek Pulsa karena kebetulan harus upgrade kartu ke 4G, ternyata saldo pulsa saya tinggal 16 ribu-an.

Terus terang saya merasa dirampok oleh Indosat.

Anda mungkin menilai kalau penjelasan saya sangat samar dan tidak berbukti karena hanya berisi asumsi-asumsi. Bisa jadi. Makanya saya meminta log penggunaan pulsa saya ke CS Indosat. Silakan (orang Indosat) balas reply email saya dan akan saya update di sini.

Sejauh ini respons yang saya dapat ternyata “yah begitulah”, selain auto-reply mesin server, saya malah disuruh menggunakan App buat memantau penggunaan pulsa saya. Apalah saya, pengguna kelas teri. Respons “biadab” ala Indosat pun saya terima dengan lapang dada 😯 .

Beberapa kesimpulan mengenai Indosat:

  1. Sepertinya Indosat tidak mau transparan.
  2. Pelanggan kelas teri dianggurin (mungkin saya harus jadi Ariel Peterpen dulu biar bisa direspons kali ya? 😆 )
  3. Sepertinya Indosat masih nyari duid dengan cara-cara klasik biadab, nyedot pulsa.

Sekrinsyut percakapan via email dengan Indosat:

FB Punya Yahudi

Friday 19 January 2018 | post a comment

“Eh, elu ngapain perang lawan Belanda pake bawa-bawa senjata punya Belanda?”

#KemudianKentut

Soal Artis Lepas Jilbab

Monday 20 November 2017 | post a comment

Lagi santer berita artis lepas jilbab yang curhat di sosmed. Bunyi petikan curhatnya kira-kira begini:

“Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari tuhan dan ingin memiliki agama”.

Walah. Lepas jilbab mah terserah aja sebenernya, Mbak. Cuma argumennya yang mengedukasi atheisme mah nggak banget. Nggak sesuai sama UUD 45 Republik Indonesia soalnya 😆 .

Remah-remah

Saturday 21 October 2017 | post a comment

Di tengah isu shifting yang ditengarai menjadi alasan penyebab lesunya daya beli offline ( halah ini apa 😆 ), ternyata ada fakta-fakta lain yang cukup mencengangkan. Fakta nomor dua akan bikin kamu terkejut ( ini juga apa dah 😆 ).

Dari berbagai platform e-commerce dan marketplace di Indonesia, jumlah angka produk lokal hanya di kisaran lima persen (5%). Ini berarti, aneka produk lain yang bersliweran di lapak-lapak online adalah produk import.

Kita hanya kebagian remah-remahnya saja. Belum lagi serbuan-serbuan pemain luar (Lazada dan Alibaba CS) yang berencana akan membangun gudang-gudangnya di Indonesia. Masih sanggupkah kita kebagian remah-remahnya?

Berdasarkan status teman di FB:
https://www.facebook.com/abonk/posts/10211028668854417