Archive for the ‘Serius (Terlalu!)’

Saya di Detik.com

Friday 1 August 2008 | post a comment

Apersepsi (sebelum masuk ke inti persoalan postingan ini)

  • isi agak2 provokatif
  • Saya anti-pornografi (ada banner situs bersih)
  • Saya beragama (ada tab religius di blog saya)

Sehubungan dengan santernya rencana pemerintah (M Nuh) untuk memblokir youtube dan rapidshare beberapa waktu yang lalu100x (informasi ini sudah sangat basi), Detik.com sempat menghadirkan liputan dan semacam jajak pendapat terbuka untuk khalayak mengenai persoalan ini. Sebenarnya bukan jajak pendapat sih, hanya saja masyarakat yang membacanya dipersilakan untuk meninggalkan komentar.

( More … )

Blogging, The Power of

Thursday 29 May 2008 | post a comment

Cuma Blog!

“Alah itu kan cuma blog, mana ilmiahnya???”

Seringkali kalimat di atas diucapkan oleh orang. Kita (dalam hal ini sebagai blogger) yang mendengarkan cenderung meng-amin-i dan melanjutkan kembali pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa. Dampaknya, aktvitas blogging tereduksi ke wilayah pop saja, seperti music n film review, gosip artist, art, entertainmet, dan pop influence yang berujung pada narsisme :D.

Karena aktivitas nge-blog dianggap tidak ilmiah, para pelakunya (blogger) cenderung mengkhususkan dirinya pada bidang yang tidak membutuhkan kealamiahan. Akibatnya, banyak blogger yang lari ke sektor hiburan, curhat, dan mengungkapkan hal2 keseharian yang remeh-temeh. Jutaan halaman pelarian tersebut membentuk suatu jaringan maya raksasa dan membangun environtment sendiri. Para blogger pemula tentu saja akan latah dan ikut-ikutan berlaku seperti itu lantaran konstruksi sosial blogging yang terbentuk adalah yang seperti itu.

Dikotomi Blog dan Media Mainstream
Mengapa blog dipandang tidak ilmiah? Tentu saja ini terjadi karena adanya anggapan perbedaan kelas dalam media penyampai informasi. Adapun kelas yang bertentangan mengacu pada dua posisi; BLog dan Media Mainstream berupa cetak, radio, tv (jurnalisme tradisional). Jurnalisme tradisional yang telah lebih dahulu lahir telah membangun hegemoni dalam menyosialisasikan informasi. Hal ini menyebabkan timbulnya anggapan umum bahwa keotentikan dan idealisme jurnalistik hanya menjadi milik media mainstream saja.

Padahal, sekarang justru perlu dipertanyakan keotentikkan dari media mainstream tersebut. Apakah media mainstream masih mampu untuk tetap independen dan fight for freedom of rights? Apakah kita tidak merasa sedang disodori oleh berbagai layer informasi yang cuma dibentuk oleh media mainstream? Sebagai contoh, kini banyak media mainstream yang berafiliasi dengan produsen sehingga independensi ekspos atas konsumen diragukan. Sebagai contoh, kita dapat melihat media harian SINDO, RCTI, Global, dan TPI (bernaung dalam MNC) berafiliasi dengan layanan seluler FREN dan TV kabel INDOVISION. Jangan heran jika Anda sering melihat iklan produk FREN dan INDOVISION di media-media tersebut.

Media Mainstream: Masihkah Independen?
Mari melihat lebih jauh lagi. Ternyata diketahui bahwa para aktivis jurnalistik (wartawan) media mainstream hidup dalam taraf yang memprihatinkan. Walau tidak semua, hal tersebut dapat anda lihat dari kutipan link berikut.

  • Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!! (Baca lebih lanjut)
  • Kami dijanjikan akan diberikan gaji satu juta plus uang lelah bekerja sebutanya tunjangan prestasi. “kalau rajin akan ditambah lima ratus ribu,” itu keterangan dari Sururi saat itu. Jadi total gaji yang akan dibawa pulan adalah Rp. 1,5 juta. Saya sempat kecewa juga saat itu karena penghasilan sebesar itu sudah saya peroleh saat bekerja di Mara. Tapi karena sudah komitmen dan mencoba untuk loyal, saya akhirnya terus (Baca lebih lanjut)

Seharusnya pekerja jurnalistik disokong oleh perusahaan agar tetap menjaga prinsip-prinsip jurnalistik. TRANS dan SINDO adalah harian besar yang logikanya tidak akan kesulitan memberikan taraf hidup yang layak bagi para wartawannya (perlukah dicarikan berita mengenai saham MNC -sindo- naik or TRANS sebagai stasiun TV terbaik saat ini?).

Dari kasus di atas, terlihat bahwa jurnalisme media mainstream telah bergeser menjadi produsen. Jika dulu wartawan miskin karena idealisme-nya (tidak ada yang menyokong karena banyak musuh, namun menjadi pahlawan bagi semua orang), sekarang wartawan miskin karena dieksploitasi oleh media mainstram yang telah berubah perilaku menjadi produsen. Benar-benar lingkaran setan yang mengerikan.

Independensi jurnalistik dari media mainstream juga sekarang semakin meragukan, mengingat izin untuk membuat media mainstream sendiri dikeluarkan oleh pemerintah. Tentunya ada titipan-titipan dari penguasa (dalam era reformasi sekalipun) kepada media mainstream untuk mendukung berlangsungnya proses pemerintahan (baca -penguasaan).

Ayo Ngeblog!
Dulu kendala membangun media jurnalistik adalah dibutuhkannya biaya operasional yang besar (biaya cetak, biaya siaran, dan biaya lain-lain). Akibatnya, media terpaksa mencari topik2 populer dan menghindari ekspos yang remeh-temeh tadi demi memperoleh pemasukan iklan dari pihak produsen. Iklim liberalisme yang marak berkembang belakangan ini makin memperparah keadaan dan membuatnya semakin kelihatan kejam.

Link informasi mengenai wartawan media mainstream yang hidup dalam taraf memprihatinkan tersebut saya peroleh dari internet (forum dan blog informasi independen). Tidak butuh biaya mahal untuk menjadi jurnalis, denger temen curhat mengenai “ini-itu”, atau bahkan pengalaman pribadi Anda, bisa langsung Anda ekspos dan paparkan kepada khalayak. Cukup dengan ngeblog, dan biaya sewa internet selama 1 jam, Anda bisa menjadi seorang jurnalis yang benar-benar independen dan menjadi pahlawan bagi semua orang.

Tidak ada media mainstream yang berani mengupas bahwa agen mereka berada dalam opresi media mereka sendiri (iya lha, justru menjatuhkan kredibilitas mereka sendiri). Tidak ada redaktur yang menyuruh Anda mencari berita pesanan. Tidak ada eksploitasi yang mengalienasi Anda atas hidup Anda (kehilangan waktu dan tempat karena tuntutan perusahaan).

Siapkan diri Anda pada era the people power, seiring turunnya harga bandwith!!

Tunggu apalagi Ayo ngeblog!!

Diskriminasi Fitna

Wednesday 28 May 2008 | post a comment

Tentang film Fitna
Saya paling membenci semua bentuk diskriminasi manusia atas manusia, golongan tertentu atas golongan tertentu, apapun itu. Diskriminasi agama, ras, agama, tingkat sosial, dsb pada dasarnya tidak akan mendatangkan keuntungan. Intensi bagi orang yang melakukannya pada dasarnya sangat tidak masuk akal, dan timbul karena perasaaan superior. Pada dasarnya, semua manusia sama dari segi fisik. Yang menimbulkan “gap” begitu besar mengenai diskriminasi adalah karena sesuatu yang berada di kepala seseorang itu sendiri.

Film Fitna karya Geert Wilders yang beberapa waktu lalu telah ditayangkan di youtube, sempat menimbulkan kegemparan. Atas ini, pemerintah bahkan sempat salah langkah dan latah dengan membuat kebijakan menutup akses ke situs youtube di internet. Ibarat kata, membunuh satu tikus di sebuah rumah dengan menggunakan bom yang dapat menghancurkan rumahnya juga. Untungnya walaupun terlanjur basah, pemerintah masih bisa memperbaiki kesalahannya dengan melepas blok ke situs, namun hanya ke URL tertentu saja.

Mengenai Film Fitna yang diluncurkan di youtube tersebut, saya rasa film ini sangat diskriminasi dan arogan. Lagipula, apa yang dilakukan Wilders tidak menunjukkan bahwa ia seorang yang sekuler di negara sekuler sekalipun (pasangan homo boleh menikah di sini). Untuk gambaran awal, isi film fitna merupakan cuplikan ayat Alquran dan cuplikan adegan video yang dirasa representatif dengan ayat alquran. Untuk inti ayat2 yang digunakan yaitu yang berkaitan dengan perang, penghalalan pertumpahan darah, anjuran membunuh orang kafir di luar islam, mengatakan bangsa Yahudi Kera.

Diskriminasi?
Mengapa dikatakan diskriminasi? Bukankah cuplikan ayat dan adegan yang ditampilkan merupakan fakta-fakta ayat yang terdapat di dalam Alquran? Saya tidak akan membahas ini dari segi agama, karena saya memang tidak kompeten dalam bidang ini. Yang bisa saya katakan soal ini, ayat yang dikutip cuma berupa penggalan-penggalan, sehingga pemahaman seutuhnya mengenai topik ayat tersebut menjadi rancu.

  1. Alasan pertama mengapa saya bilang film ini sangat diskriminasi, Jelas untuk seorang ketua fraksi partai kebebasan di negara sekuler-atheis, pembahasan mengenai agama sangat tidak masuk akal dan tidak relevan karena bidang ini di luar garapannya. Ketika dia (Wilders) meluncurkan film ini, jelas ia memiliki intensi tertentu.
  2. Alasan kedua, jika memang kemunculan film ini lantaran jengah dan murni semata mengekspos bentuk-bentuk nilai-nilai kekerasan dan kekejaman, mengapa ia tidak memilih untuk mengekspos kekejaman Israel di Palestina atau kekejaman di berbagai penjara-penjara rahasia AS yang tentunya lebih bernilai dan lebih menggemparkan? Asumsinya, daripada membicarakan artis dangdut ibukota, lebih baik membicarakan artis top hollywood.
  3. Alasan ketiga, film ini justru tidak memiliki anjuran untuk membangun hubungan harmonis antarsesama, dan malah mengadu domba manusia secara global. Ini justru menghambat semangat globalisasi dunia, di mana semangat keterbukaan tanpa batas sangat dijunjung tinggi.

Saya berusaha se-objektif mungkin mengenai hal ini dan tidak memihak, tapi ternyata objektivitas juga merupakan bentuk pihak.

Konspirasi Naiknya Harga BBM

Friday 23 May 2008 | post a comment

orang mengira Pemerintah menanggung rugi hingga Rp 123 trilyun per tahun jika harga BBM tidak naik. Padahal kenyataannya pemerintah dengan harga minyak Internasional mencapai US$ 125/barrel tetap untung Rp 165 trilyun per tahun jika manajemennya benar karena impor sebenarnya kurang dari 20% kebutuhan minyak kita. Sisanya bisa ditutupi dengan produksi dalam negeri.

Kemudian Pemerintah selalu menganggap rakyat Indonesia boros BBM. Berbagai iklan di televisi selalu menyuruh rakyat hemat. Kenyatannya pemakaian BBM di Indonesia menempati urutan 116 di bawah negara Afrika seperti Namibia dan Botswana.

Pemerintah sering mengatakan bahwa bensin kita paling murah. Kenyataannya di Venezuela bensin hanya Rp 460/liter dan harga Pertamax kita yang Rp 8.700/liter lebih mahal daripada harga bensin di AS (importir minyak terbesar) yang hanya Rp 8.464/liter. Padahal penghasilan rakyat AS sekitar US$ 37 ribu per tahun sementara Indonesia cuma US$ 810/tahun.

Baca lebih lanjut di sini

Cari Duit

Thursday 22 November 2007 | post a comment

Kemaren, hampir sekitar 4 hari air PAM di rumah gw mati. empat hari untuk daerah priuk, tu adalah musibah besar. Di sini ga bisa ngandelin aer pompa coz pasti berasa asin… kebetulan ni blog dilanjutin skrng, coz air mati ternyata ada efek sampingnya.

Berita di mana2, air mati berujung ma wabah diare… Jadi keingetan ma UU yang dibuat ma pemerintah sendiri.. intinya sih, yg namanya sektor vital tu harus dikuasai negara, dan dikelola sebesar2nya demi kemakmuran rakyat…

KENYATAANNYA….!!!!!!!

duh sektor vital jadi ajang eksploitasi, pa lagi yang jadi korban rakyat kecil.. dah mana ngeksploitasinya bener2 sepenuh hati, ngelolanya tapi setengah hati… dah mana segala dimerjer ma perusahaan2 asing… ck ck ck

Alasannya colaps?? kok bisa?? dah dimonopoli sendiri ma negara pdhl lho… kentut yang KORUPSI… haram dagingnya di surga… percuma nuntut kemakmuran sebesar2nya bagi rakyat INDONESIA klo kaya gini ceritanya

masi byk orang yang beritikad baik buat bangun negeri ini… (sayang aja mereka nggak beruntung bisa megang kekuasaan)