Indonesia Kehilangan Lagi Seorang Pakarnya…

Friday 1 May 2009 | post a comment

Hari ini, 1 Mei 2009, pukul 10.55 WIB, telah meninggal dunia salah seorang ahli linguistik terbaik dari Indonesia, Drs. JD Parera, Dosen Purna Bakti Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Jenazah akan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, esok harinya, pukul 09.00 WIB.

Beliau icon kebanggaan almamater saya, mengingat gencarnya serbuan tokoh-tokoh lain dengan atribut “Pakar Anu dari UI” atau “Pakar Anu dari UGM” atau “Pakar Anu dari ITB”. Terlepas dari persoalan di atas, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Teror Bahasa Eufimisme

Friday 30 January 2009 | post a comment

lieSewaktu mendapat pelajaran bahasa Indonesia di SMP/SMA dulu, kita pernah mendengar istilah majas hiperbola, metafora, dan eufimisme, serta majas-majas lainnya. Hiperbola berarti mendramatisir suatu keadaan, seperti pada kalimat: “banjir darah” dan “mandi keringat”. Bentuk metafora bisa dikatakan sebagai perumpamaan-perumpamaan yang seringkali ditemukan pada ulasan-ulasan karya sastra. Adapun majas eufimisme berarti bahasa penghalus yang lazim kita temui pada percakapan sehari-hari, seperti kalimat: “Pak, saya izin ke belakang.”.

Karakter orang Indonesia yang ramah sangat mendukung penggunaan ragam bahasa eufimisme dalam berbagai situasi kehidupan. Penyebutan “wanita tuna susila (WTS)” ketimbang “perek” atau “lonte” dalam media cetak/tv adalah salah satu contoh dari bahasa eufimisme. Nilai rasa bentuk “WTS” tentu dirasa lebih halus daripada bentuk “perek” dan “lonte”. Contoh lainnya, bisa kita lihat pada kalimat, “Polisi berhasil mengamankan tersangka sehari setelah terjadinya insiden.”.

Celakanya, penggunaan bahasa eufimisme ini seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Kita bisa lihat pada bentuk-bentuk kalimat berikut.

  • Rupiah melemah 200 point terhadap dollar US.
  • Pemerintah menyesuaikan harga BBM
  • RAPBN dikoreksi dengan asumsi dollar di keseimbangan harga 11.000 rupiah

Bentuk-bentuk di atas adalah salah satu penggunaan bahasa eufimisme dengan menyimpan konteks-konteks tertentu. Bagaimana jika dua kalimat di atas kita ganti jadi:

  • Rupiah anjlok 200 point terhadap dollar us
  • Pemerintah menaikkan harga BBM
  • RAPBN membengkak dengan asumsi dollar di keseimbangan harga 11.000 rupiah

Maksud celakanya, bahasa eufimisme justru digunakan untuk menutupi kenyataan tertentu bagi masyarakat publik. Selain menutupi kenyataan, bahasa eufimisme digunakan untuk memberikan citra positif. Namun yang lebih parah, bahasa eufimisme justru membuat tumpul daya kritis otak masyarakat publik. Membuat sebuah situasi seolah-olah keadaan aman terkendali. Kenyataan yg ditutupi membuat kita tidak berpikir panjang dan menganalisa secara mendalam.

Contoh konkret yang saya rasa cukup picik, ketika harga BBM turun, justru digunakan kalimat-kalimat polos (harfiah) dan digembor-gemborkan ke masyarakat, seperti pada kalimat “Pemerintahan si-Anu telah berhasil menurunkan harga BBM hingga tiga kali.”. Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, harga minyak dunia memang anjlok luar biasa. Di sini kita bisa melihat sesuatu yang tidak adil. Ketika harga BBM naik, digunakan bentuk eufimisme (disesuaikan). Namun ketika harga turun, digunakan kata harfiah “turun” (tetap turun, malah ada penambahan embel-embel “berhasil”).

Karakteristik bahasa eufimisme biasanya digunakan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Karenanya, tidak heran siapapun yg jadi penguasa, bahasa eufimisme ini pasti lazim digunakan. Dalam orde baru zaman Pak Harto, maraknya kasus orang hilang yang menimbulkan gonjang-ganjing di masyarakat diredam dengan menggunakan istilah “diamankan” ketimbang “ditangkap” atau “dipenjara”, pelaku yang menangkap tadi tadi justru dikatakan sebagai “yang berwenang” atau “mengamankan”. Di era reformasi zaman Megawati, istilah “privatisasi aset negara” sering digunakan ketimbang “menjual aset negara”.

Bahasa eufimisme yang semula “mulia” (bahasa halus yg digunakan untuk tidak menyinggung perasaan) menjadi teror bagi masyarakat, dan menjadi alat hegemoni penguasa untuk tetap berada di puncak. Ketika Anda merasa sedang tidak diteror, bisa dikatakan bahwa Anda sedang dihegemoni (dikuasai tanpa merasa sedang dikuasai). Tulisan ini hasil sintesa saya setelah menonton acara dialog di TVRI dengan topik yang sama. Mudah-mudahan bisa jadi semacam counter-hegemoni atas pemahaman realita bahasa di lapangan.

Jahanam yg copy gak bilang-bilang tulisan ini. Gw sumpahin mandul tujuh turunan. Lumayan capek nulis pake gaya serius. 😡

Tipis, dan Gak Kerasa

Saturday 6 December 2008 | post a comment

It’s very thin, and almost people didn’t realize it. Soalnya ini udah hampir jadi keseharian. Dan kita juga masih sering make 😀 . Iseng abis ngunjungin hajatan saudara, kecanduan moto2 buat jadi bahan blog :hammer: ampe diliatin orang pula pas motonya 🙁 . Nemu poster ini

Harusnya si ditulis “silakan” (tanpa huruf h). Cek di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) online kata “sila” yang mendapat sufiks (imbuhan di belakang) “-kan”.

Yang lainnya yang juga sering:
– Para tamu-tamu beramai-ramai menyalami pengantin. (salah)
– Tamu-tamu beramai-ramai menyalami pengantin. (benar)
– Para tamu beramai-ramai menyalami pengantin. (benar)

Alasan:
Kata “para” sudah merupakan penanda bentuk jamak. Tidak perlu mengulang kata tamu (bentuk jamak) kalau memakai kata “para”. Atau sekalian buang kata “para” jika ingin mengulang kata “tamu”.

PS: 😈 lu ngapain posting ginian caaaannnnn 😡