Niche? Kenapa Eggak

Monday 20 April 2009 | post a comment

Pada tulisan sebelumnya saya mengatakan bahwa saya tidak akan ikut-ikutan berniche seperti halnya blog-blog lain yang mencari traffic. Sebenarnya ini adalah suatu kondisi relatif dan sangat tergantung kepada blogger yang bersangkutan. Berniche berati mengambil topik secara spesifik dan membahas hanya di seputar topik itu saja. Postingan ini ingin meninjau ulang pernyataan saya sebelumnya mengenai niche ini.

( More … )

Just Write!!!

Thursday 16 April 2009 | post a comment

Kita sering mendengar istilah SEO, SERP, Pagerank, etc. Semuanya itu berhubungan dengan peringkat situs kita di berbagai indeks mesin pencari (google, yahoo, MSN, etc). Sehabis blogwalking ke beberapa blog teman, ternyata menemukan bahwa Pagerank kini sudah diupdate. Saya segera mengecek footer saya, dan ternyata pageran blog utchanovsky.com turun.

Bagi saya blog adalah alat untuk latihan menulis, mengungkapkan perasaan, opini, sekaligus bertukar pembaca dengan visitor. Karena itu pula, content blog saya condong ke gado-gado. Saya tidak begitu peduli dengan orang yang ramai-ramai ber-niche ria (blog yang spesifik membahas hal tertentu) yang katanya akan meningkatkan traffic. Saya juga tidak peduli sebanyak apa backlink yang keluar dan masuk. Backlink yang saya berikan adalah bagi mereka yang rajin komentar di sini, yang meminta untuk di-add di blogroll, atau mereka yang mencantumkan nama saya di blogroll mereka. Semuanya dengan do-follow link (Bagi saya itu adalah bentuk penghormatan bagi mereka, dan memang hanya itu yang bisa saya berikan).

Karena itu saya tidak begitu masalah dengan traffic, PR turun atau apalah. Blogging bagi saya adalah sesuatu yang murni, lepas dari pengaruh apapun. Blogging adalah berbagi dan memperoleh pengalaman yang terkadang tidak bisa didapat di media-media mainstream (cuma dari internet kita bisa tahu bahwa D’Masiv plagiat -jiplak 8 lagu band luar, R0y Sury0 sucks, kontroversi lagu Gabby, etc sebelum akhirnya digarap oleh media-media besar dengan sistem tebang pilih). Saya akan memberikan review dengan jujur berdasarkan apa yang saya alami. Saya juga suka dengan kontes2 edan nan kreatif yang sering saya temui di kalangan para blogger.

… and this is my manifest (as a blogger)
Just write, and share our wisdom.

Blogging dan Stress

Wednesday 11 March 2009 | post a comment

Matthew Lieberman dari Universitas California mengatakan bahwa ketika kita menuangkan perasaan ke dalam kata-kata, ketika itu pula kita mengaktifkan bagian yang sama di otak kita yang berhubungan dengan pengendalian diri (Media Indonesia hlm 1, 17 Feb 09). Penelitian menggunakan pencitraan khusus yang bisa menangkap aktivitas syaraf otak melalui gelombang elektromagnetik. Ketika kita menuangkan perasaan kita (menulis), akan terjadi peningkatan bagian otak yang berfungsi mengurangi perasaan negatif (takut, amarah, dan agresif).

( More … )

Gaya Ngeles Pejabat di Seputar Pertanyaan Korupsi

Thursday 22 January 2009 | post a comment

Sebelum digerebek langsung di TKP sama KPK…
Sebelum pembicaraan telepon disadap dan bukti rekaman dilampirkan…
Sebelum polisi datang secara tiba2 ketika sedang memegang barang bukti uang suap…

Kita sering melihat kelakuan orang-orang di atas yg tidak tahu malu. Ketawa ngakak gak karuan di tempat-tempat karaoke. Senyum-senyum jahat sambil ngepus-ngepusin asep rokok mahal dari mulutnya. Atau pas lagi maen golf pake topi setengah terbuka, cengangas-cengenges gak ngerasa salah (soal gimana perilaku orang-orang itu, cuma dapet referensi dari acara KPK di trans ama gambaran orang2 jahat di sinetron. Maaf bila terkesan kurang jahat.).

( More … )

Yang Sakit Si A, yang Diobatin Si B

Wednesday 3 December 2008 | post a comment

Maraknya iklan mengenai penyakit AIDS/HIV belakangan ini seolah merefleksikan sesuatu. Yup, wabah AIDS telah menyebar secara luas di Indonesia. Tiap orang kebakaran jenggot, pemerintah, masyarakat, LSM, dan berbagai lembaga lainnya. Sebagian besar penderita adalah anak muda (analoginya ni wilayah tahap manusia yang masih2 “meraba2” soal SEX).

Dari tiap iklan yang muncul di TV, pesan iklan selalu menganjurkan untuk tidak mengucilkan para penderita AIDS (ODHA). Terlihat bagaimana mantan pemakai narkoba yang menggunakan obat penahan perkembangan penyakit AIDS membuatnya kembali dapat beraktivitas seperti biasa, sehingga ia dapat kembali diterima oleh masyarakat umum. Kemudian, iklan seorang karyawan yang ingin mengundurkan diri karena terkena HIV, namun beruntung sang bos sangat pengertian dan memberikannya semangat agar tetap terus bekerja (haha, yg ini aga2 mustahil 😀 ), dan berbagai anjuran penggunaan kondom ketika nge-SEKS.

Dari sini, berasa ada sesuatu yang mengganjal nggak? Begini…

pesan-pesan dalam iklan selalu mengatakan bahwa AIDS itu sudah biasa, karena itu pintar2 lah kita menyikapinya. Sangat jelas iklan tersebut berkiblat ke negara2 barat yang memang iklimnya seperti itu. Bukannya munafik, seks bebas di Indonesia memang makin menjamur, tapi itu belum separah bagaimana budaya seks bebas di negara-negara maju. Begitu juga dengan persoalan narkoba, negara kita belum secanggih negara2 maju dalam mengeksploitasi narkoba. Ini terlihat dari penggunaan narkoba jenis putau yang notabene masih level keraknya heroin.

Pangkal persoalan AIDS itu sendiri adalah moral. Dan yang selama ini kita obati adalah perasaan kita agar terus memaklumi AIDS, seperti anjuran untuk menerima dan tidak mengucilkan para ODHA dan anjuran penggunaan kondom ketika nge-seks. Kita tidak pernah mengobati “penyakit AIDS” yang sesungguhnya, yaitu budaya rusak barat seks bebas dan narkoba.

Nah budaya rusak ini yang disosialisasiin terus di TV2 tanpa henti, sampai jadi tatanan nilai baru. Diekspos habis2an di sinetron2, film2 bioskop, iklan2, infotaiment, sampai orang ngerasa lumrah (liat hegemoni soal konstruksi nilai lumrah buatan ini) dan muncul anggapan kalau gak ngikut (rusak) berarti gak gaul. Mulai dari yang kecil2, nongkrong di mall pake rok mini se paha, tanktop-an doang pas keluar rumah, sampe yang level gede pacaran gak afdol kalo gak ML (hahaha ternyata gw tukang ngejudge dan dogmatis, bener2 nyebelin).

( More … )