Kasus Ibu Prita, Menembus New York Times

Wednesday 9 December 2009 | post a comment

Lagi-lagi memalukan, mengenai kasus Ibu Prita Mulyasari. Berita ini sampai ke luar negeri, dimuat dalam New York Times. “Terjebak Dalam Sistem Pengadilan yang Rusak, Setelah Menekan (tombol) Kirim.” Kasus Ibu Prita digambarkan dengan cara yang menjijikkan dan tragis, mengenai sistem peradilan yang cacat di Indonesia.

“I asked the prosecutors to let me go home for one night to say goodbye to my family, but they refused,” Ms. Mulyasari said.

“Saya meminta kepada para jaksa untuk membolehkan saya pulang semalam agar bisa berpamitan dengan keluarga saya, tapi mereka menolak,” kata Ibu Mulyasari.

prita

Trapped Inside a Broken Judicial System After Hitting Send

( More … )

Kasus Ibu Prita dan Paradigma Baru Dunia Maya

Thursday 3 December 2009 | Comment (1)

pritaKalahnya Ibu Prita versus RS Omni dalam persidangan lanjutan di pengadilan bakal memunculkan paradigma baru di dunia maya (terkait dengan email curhat Ibu Prita yang merasa dizalimi dengan prosedur kerja RS Omni).  Ini berarti, tindakan mengeluh dan meng-complain sesuatu produk/jasa akan menjadi sangat tabu dan terlarang bagi masyarakat umum. Ancamannya bukan main, denda ratusan juta dan ancaman kurungan penjara.

( More … )

Tidak Timpang Sama Sekali

Monday 30 November 2009 | post a comment

Misalnya kita pernah dengar ada yang bilang;

  • “Harusnya layanan PPLN (Persatuan Penyedia Lilin Nasional) bisa lebih baik, wong penyedia service cuma Anda doang (monopoli). Apalagi hampir tiap tahun tarif dinaikkan.”
  • “Gaji menteri Negara Xendonezyah tergolong rendah dibanding negara-negara lain di kawasan EFGHedonis, karena itu gaji menteri memang mesti dinaikkan.”
  • “Apa-apaan sih Jasa Mangga (mangga-silakan, silakan lewat -red), wong make jalanan tinggal make, kok tiap tahun dinaikin terus tarifnya? Udah mana macet-macet juga.”

( More … )

Buruk Rupa Cermin Dibelah

Thursday 18 June 2009 | post a comment

“Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami dilarang memiliknya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?”

Lama-lama kalo dipikir-pikir, AHMADINEJAD ROCKS juga yah 😀 . Yang berani bilang begitu malah orang Syiah, yg notabene musuhnya orang-orang “bersih” yang sering dikid-dikid bilang bid’ah. Sekarang mereka lagi ngelus-ngelus calon incumbent biar dapat jatah kursi. (anggep aja omongan orang yg kecewa)

Btw satu2nya pemakaian nuklir dalam perang yg sebenarnya cuma terjadi di Nagasaki-Hiroshima. Negara edan yg ngelakuinnya, si you know who itu, yg ngaku-ngaku jadi polisi dunia. Bener-bener buruk rupa cermin dibelah, cuci tangan sampai bersih. All media it’s yours.

Yang Sakit Si A, yang Diobatin Si B

Wednesday 3 December 2008 | post a comment

Maraknya iklan mengenai penyakit AIDS/HIV belakangan ini seolah merefleksikan sesuatu. Yup, wabah AIDS telah menyebar secara luas di Indonesia. Tiap orang kebakaran jenggot, pemerintah, masyarakat, LSM, dan berbagai lembaga lainnya. Sebagian besar penderita adalah anak muda (analoginya ni wilayah tahap manusia yang masih2 “meraba2” soal SEX).

Dari tiap iklan yang muncul di TV, pesan iklan selalu menganjurkan untuk tidak mengucilkan para penderita AIDS (ODHA). Terlihat bagaimana mantan pemakai narkoba yang menggunakan obat penahan perkembangan penyakit AIDS membuatnya kembali dapat beraktivitas seperti biasa, sehingga ia dapat kembali diterima oleh masyarakat umum. Kemudian, iklan seorang karyawan yang ingin mengundurkan diri karena terkena HIV, namun beruntung sang bos sangat pengertian dan memberikannya semangat agar tetap terus bekerja (haha, yg ini aga2 mustahil 😀 ), dan berbagai anjuran penggunaan kondom ketika nge-SEKS.

Dari sini, berasa ada sesuatu yang mengganjal nggak? Begini…

pesan-pesan dalam iklan selalu mengatakan bahwa AIDS itu sudah biasa, karena itu pintar2 lah kita menyikapinya. Sangat jelas iklan tersebut berkiblat ke negara2 barat yang memang iklimnya seperti itu. Bukannya munafik, seks bebas di Indonesia memang makin menjamur, tapi itu belum separah bagaimana budaya seks bebas di negara-negara maju. Begitu juga dengan persoalan narkoba, negara kita belum secanggih negara2 maju dalam mengeksploitasi narkoba. Ini terlihat dari penggunaan narkoba jenis putau yang notabene masih level keraknya heroin.

Pangkal persoalan AIDS itu sendiri adalah moral. Dan yang selama ini kita obati adalah perasaan kita agar terus memaklumi AIDS, seperti anjuran untuk menerima dan tidak mengucilkan para ODHA dan anjuran penggunaan kondom ketika nge-seks. Kita tidak pernah mengobati “penyakit AIDS” yang sesungguhnya, yaitu budaya rusak barat seks bebas dan narkoba.

Nah budaya rusak ini yang disosialisasiin terus di TV2 tanpa henti, sampai jadi tatanan nilai baru. Diekspos habis2an di sinetron2, film2 bioskop, iklan2, infotaiment, sampai orang ngerasa lumrah (liat hegemoni soal konstruksi nilai lumrah buatan ini) dan muncul anggapan kalau gak ngikut (rusak) berarti gak gaul. Mulai dari yang kecil2, nongkrong di mall pake rok mini se paha, tanktop-an doang pas keluar rumah, sampe yang level gede pacaran gak afdol kalo gak ML (hahaha ternyata gw tukang ngejudge dan dogmatis, bener2 nyebelin).

( More … )