Sebentar Lagi: Negara Indonesia Dijual

Monday 15 June 2009 | post a comment

Ampun dah. Iseng2 baca koran Kompas basi (telat sekitar 3/4 hari), beneran baru tahu kalau ternyata empat (4) tahun pemerintahan SBY telah menghasilkan jumlah hutang yang mengalahkan hutang selama tiga puluh dua (32) tahun pemerintahan Pak Harto. Kenapa hal yang segenting ini tidak diperhatikan orang banyak yah? Googling lagi di inet, ada pula artikel softcopy-nya. Silakan cek TKP sendiri di sini (sumber valid dari KOMPAS) atau di sini (sumber valid rakyat merdeka).

Kalo memang benar musti dilanjutkan, saya kira sebentar lagi Indonesia bisa dijual (secara de jure). Faktanya di lapangan, kedaulatan kita sudah diacak-acak sama negara lain, sistem ekonomi sudah diatur (silakan simpulkan kenapa SBY bisa masuk nominasi Times), sumber daya alam sudah dibawa keluar (freeport), warga negara dipandang rendah bangsa lain (TKI), dsb.

Andaikata misi lanjutkan ternyata gagal, yang paling kasihan capres yang menggantikan. Dengan sistem pemerintahan yang paling jujur sekalipun, belum tentu hutang-hutang segunung itu bisa dibayar. Anda berani bayangin kalau Indonesia dijual? Punya bayangan Indonesia bakalan bangkrut? Ck ck ck … Saya pribadi bayanginnya aja masih merinding… hiyyyy

Lips Services

Thursday 4 June 2009 | post a comment

Banyak yang bilang wacana neolib adalah pembunuhan karakter terhadap capres-cawapres tertentu. Langsung aja kita lihat bagaimana bukti2 di lapangan.

  • Mengapa utang negara dibebankan kepada rakyat? Bayi baru lahir langsung kena beban utang Rp 7 juta. Andaikata uang hasil utang dimanfaatkan untuk kesejahteraan pembangunan, tentunya gak masalah. Saya tidak ridho sama sekali bayar pajak mahal2 buat bayar tunjangan pejabat korup, biayain hidup mereka pakai standar terbilang mewah, atau membayar fasilitas publik yg tidak pernah bisa saya nikmati.
  • Mencabut subsidi dengan alasan menyamakan dengan harga dunia?
    Orang yg rata2 makan susah dan pendidikannya cuma SD berkewajiban membayar harga dunia (rata2 pendidikan penduduk AS S1 dan Singapura D3)? Di Arab Saudi, dengan 1 real (Rp 3200) kita bisa mendapatkan 3 liter BBM. Alasan basi mengatakan bahwa mereka punya minyak melimpah sementara kita tidak saya rasa sangat naif. Kita punya standar ganda soal minyak ini. Di satu sisi kita mengimpor dari Arab (kualitas minyaknya tidak begitu bagus),  Di satu sisi kita mengoplos minyak import-an dari arab tadi dengan minyak dalam negeri (yg kualitasnya bagus), kemudian mengekspornya ke negara produsen (barat).
  • Memonetasi aset publik (Air, Listrik, Transportasi). Insting bisnis dengan jeli melihat bahwa orang pasti can’t life without it. Mengapa swasta dibiarkan masuk? Apa benar tidak mampu? Padahal sudah dimonopoli lho.

Ramai2 bilang neolib itu pembunuhan karakter, sering kali malah balik bertanya, “sudah tau neolib belum?”. Sepertinya malah berbalik jadi wacana “penghidupan karakter” (lawan dari pembunuhan karakter versi saya). Memangnya Neolib itu seperti apa? Seperti point2 di atas?

Jika mau rakyat memuja Anda dan tanpa sungkan langsung milih Anda,  mari kita susah bareng2 hidup pake barang2 kelas 2. Mau?!? Atau seandainya diembargo sama polisinya dunia bilang sudah siap?!? Atau kemungkinan yang paling buruk, tiba2 dibilang teroris dan disosialisasikan pake media2 mereka (CNN, youtube), kita berani bilang, “Come and get me”

Mungkin kalo udah gila orang bisa nekat2 aja 😀

Manusia yang tidak bisa menjalankan hidupnya secara bermanfaat bagi makhluk lainnya, tidak saja dipandang sebagai tidak beruntung, juga hampir boleh dianggap sebagai tidak pantas hidup. (courtesy to Albert Einstein)

PS: Gan ada hub sama Capres-Cawapress dari tempat sampah.

Masih Mau Globalisasi?

Monday 8 September 2008 | post a comment

Mari kita puja ramai2 dan agung2kan. Dapat dikatakan bahwa ini adalah mekanisme sangat pas buat sekarang untuk dunia yang lebih baik. Ekspansi luas tak terhingga, eksplorasi dunia baru. Ini adalah zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ayo kita songsong globalisasi. Tidak ada batasan di sini. Berhenti merasa tabu. Jangan ketinggalan zaman!!!!! Mar….

(CUUUUUUTTTTTTTTT) Dan…

Tak ada lagi rasa toleransi, nilai-nilai kebersamaan, semangat gotong royong, dan keramahan khas Indonesia. Yang ada cuma individualisme yang mengedepankan budaya seks bebas, narkoba, dan konsumtif (Efek Rumah Kaca – Belanja Terus Sampai Mati).

Belum siap? Apa benar kita belum siap? Mental jelek orang Indonesia? Benarkah cuma soal mental? Arrgggghhhhh!!!!!! Memangnya siapa yang paling getol mendengung2kan konsep globalisasi? Jelas2 negara2 maju (barat) kan? Masyarakat superordinan yang meng-hegemoni (yang dikuasai setuju dan bahkan merasa harus) dunia sehingga kita merasa globalisasi adalah way of this era. Memandang globalisasi sebagai sesuatu yang perlu.

Ini bukan cuma persoalan mental dan bukan juga persoalan belum siap. Ini adalah soal penjajahan budaya, sekaligus implementasi dagang neo-kapitalisme (dulu produk yang dijual, sekarang budaya yang dijual). Ini adalah mekanisme penguasaan dan pendudukan atas kebebasan dan kedaulatan manusia secara individu. Kenapa gak liat Cina dan India yang bangga sama produk mereka sendiri? Bisa kita lihat kemajuan mereka sekarang seperti apa. Kini Cina dapat dikatakan sebagai kekuatan baru di dunia. Takut? Skeptis? Ah nggak kok. Cuma saya ngerasa rules2 globalisasi itu dari mereka2 yang superordinan aja. Bisa kita liat sekarang2 ini, biar kita bisa siap, kita malah asik menetek ke negara2 pengusung globalisasi tadi. Menjilat2 biar dikasi pinjaman tulang. Is an unfair game isn’t huh?

Gambar dari koran Republika 15 Agustus 2008

Teori Hegemoni

Monday 18 August 2008 | post a comment

Realitas terstruktur adalah teori yang cukup mengejutkan dari Louis Althusser, sekaligus kritik atas Marx yang menurutnya terlalu terpukau dengan klausul ekomoni sebagai faktor mekanisme terjadinya kekuasaan. Louis Althusser cukup berhasil menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk ideologi (ideologi di sini dalam arti negatif) disosialisasikan kepada masyarakat luas. Tapi, ada beberapa hal krusial yang membuat bagaimana mekanisme ideologi bisa tersebar luas dengan sangat efektif, yaitu teori hegemoni.

Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani, yaitu hegeishtai. Istilah tersebut berarti yang berarti memimpin, kepemimpinan, atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Konsep hegemoni menjadi ngetrend setelah digunakan sebagai penyebutan atas pemikiran Gramsci yang dipahami sebagai ide yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Adapun teori hegemoni yang dicetuskan Gramsci adalah:

Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.

Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa .

Dengan demikian mekanisme penguasaan masyarakat dominan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Sebagai contoh dalam situasi kenegaraan, upaya kelas dominan (pemerintah) untuk merekayasa kesadaran kelas bawah (masyarakat) adalah dengan melibatkan para intelektual dalam birokrasi pemerintah serta intervensi melalui lembaga-lembaga pendidikan dan seni.

John Storey menjelaskan konsep hegemoni untuk mengacu kepada proses sebagai berikut:

…sebuah kondisi proses di mana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan “kepemimpinan” moral dan intelektual. Hegemoni terjadi pada suatu masyarakat di mana terdapat tingkat konsensus yang tinggi dengan ukuran stabilitas sosial yang besar di mana kelas bawah dengan aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yang mengikat dan menyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada.

Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana kita bisa merasa rela saat ada orang lain membeli tanah sawah (tanah resapan), yang akan dibangun mall atau perumahan elit. Dan kita kayakngerasa lumrah ngomong gini: “Ya wajarlah dia punya duit”

Klik di sini untuk melihat bagaimana implementasi teori hegemoni

PS: Berdasarkan kejadian sebenarnya, ketika PT 5UMM4R3C0N kembali melebarkan tentakel-tentakel bisnisnya.

PR (salah kaprah evaluasi)

Tuesday 5 August 2008 | post a comment

Dalam Uchanopedia (ensiklopedia bebas uchan), PR dapat diartikan sebagai pekerjaan rumah. PR selain dipandang sebagai beban oleh sebagian orang, juga mempunyai esensi sebagai instrumen evaluasi dalam proses pembelajaran. Jadi, dengan PR kita dapat melihat sejauh mana ketercapaian hasil belajar seseorang.

Nah parahnya, konsep belajar sendiri tereduksi pada proses ngerjain PR ini.

Jika seseorang memberikan PR kepada si B, saya berasumsi bahwa dia ingin mengetahui sejauh mana hasil perolehan belajar si B. Jika dia melihat hasil PR-nya si B jelek, maka dia bisa mengatakan kalau B kurang berhasil dalam proses belajar. Sebaliknya jika hasilnya bagus, maka B dapat dikatakan berhasil dalam proses belajar.

Terus maksud reduksi dari konsep belajarnya apa?

( More … )