Mengerti

Tuesday 6 May 2008 | post a comment

Mudah-mudahan justifikasi yang saya lakukan, semisal mengatakan Anda babi, tidak Anda mengerti

02-05-08

Tersaji Setiap Hari

Tuesday 6 May 2008 | post a comment

Apakah keheningan ini yang merambat pelan di pori-pori otak sehingga nalar seolah mati dan tak bisa bergerak melawan serangan bertubi-tubinya waktu sehingga kadang kita tersungkur di sela-sela arung kehidupan mengingat kembali semua ekstrem de javu yang mengukir kita jadi manusia langit yang tak pernah pergi ke langit, sementara hidup adalah hamparan tanah kotor yang di dalamnya adalah darah-darah dan nanah-nanah yang ironisnya justru berabad-abad menyokong negeri langit????

Apakah kita masih mencari mentari manakala sepi merindukan sunyi dalam gelap yang benar-benar pekat dan kita memang membutuhkan gelap agar bisa menari-nari sepuasnya setiap hari agar perasaan sepi segera mati namun tak pernah mati hingga bahkan terlahir kembali sampai kita merasa jengah sendiri

Kita coba memaksa tubuh kita untuk terus berlari menghindari kepahitan dan kengerian dan melupakannya dengan berusaha keras untuk bisa ke negeri langit setengah mati, namun menghindari paradoks-paradoks kenyataan bahwa berlari bisa berarti mengejar kepahitan dan kengerian yang senantiasa tersaji di meja makan setiap hari

02-05-08

Saya Mati

Tuesday 6 May 2008 | post a comment

Saya menangis terbahak-bahak di depan pusara jasad saya sendiri setelah ditikam terang-terangan oleh waktu

Menikmati sajian galau yang dicolok-colokan ke nalar di kepala adalah kenikmatan tersendiri setelah mati

Kini penantian menjelma jadi butir hujan di langit, basahi tanah hati yang kering di sini dan sesungguhnya saya masih mencari

Pengertian tidaklah sesulit bom atom atau ketika bernegosiasi dengan mucikari kala cekak,

dan setelah sekian lama…

hasilnya adalah keberanian bernurani

Saya rasa saya tidak pernah benar-benar mati

02-05-08

Puisi Sapardi, yg menarik selain “Aku Ingin”

Wednesday 27 September 2006 | post a comment

Semua orang pasti kenal puisi Sapardi Djoko Damono yang judulnya “AKU INGIN”. Puisi ini biasanya ditulis di kartu undangan perkawinan, dicetak di kaos-kaos, sampai ada yang membuatnya jadi musikalisasi puisi.

Ada lagi puisi Sapardi yang juga cukup menarik, kalau menurut saya:

====================================================================

Pada Suatu hari

Maka pada suatu hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk di sepanjang lorong itu. ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi. agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang yang bertanya kenapa. ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu hari

(Sapardi Djoko Darmono, 1973)

====================================================================